• PONDOK PESANTREN QOTRUN NADA
  • Berkhidmat Untuk Ummat

Sayyidat Nafisah binti Hasan Al-Anwar

By : KAYSAN

Sayyidat Nafisah binti Hasan Al-Anwar dalam tarikh mengajarkan shalat sunnah 1000 rakaat setiap malam.

Imam Ahmad bin Hanbal bertanya "Darimana engkau dapatkan amalan ini? Aku sudah membaca kitab-kitab hadits dan tidak menemukan dalilnya"

Sayyidat Nafisah menjawab, "Aku menerima dari ayahku-Hasan; yang menerima dari ayahnya-Zaid; yang menerima dari ayahnya-Hasan; yang menerima dari tiga orang, ayahnya-Imam Ali, ibunya-Sayyidat Fatimah, dan kakeknya-Rasulullah Muhammad SAW. Adalah dalil yang lebih tinggi dari ini?

"Kalau begitu, ijazahkan kepadaku... "

"Tidak, aku tidak mau, engkau telah datang mencari ilmu dengan cara yang salah. Ketahuilah, aku beribadah bukan dengan hawa nafsu... "

*

Gaya hidup kaum urban sedang mengarah pada trend minimalism, menyingkirkan semua benda-benda yang dirasa tidak berguna, yang dalam bahasa Marie Kondo, tidak menimbulkan 'spark joy' ketika memegangnya. Ketika Netflix menayangkan A Documentary about the Important Things yang mengikuti kehidupan Joshua Fields dan Ryan Nicodemus, Tiba-tiba banyak orang yang seperti ada sebuah balon lampu menyala dikepalanya, berkata "O, iya ya... Bener juga... " sejurus kemudian bergerak mengemasi barang-barangnya untuk disingkirkan, dan menyimpan yang penting-penting saja.

Sebenarnya pada tahun lima puluhan, trend ini sempat menimbulkan kerdam di Barat sebagai respon atas over-capitalization yang melanda dunia. Kalau menelisik konsep hidup dalam islam, sepertinya tidak ada yang baru dari gaya hidup minimalis yang ditawarkan Fumio Sasaki dan kawan-kawannya itu. Seperti beririsan dangan ajaran Zen Buddhist yang mendasari orang-orang Jepang menjalani hidupnya percaya bahwa untuk menjadi tercerahkan secara spiritual, manusia harus melepaskan dirinya dari pemikiran egois dan keinginan-keinginan materi. See? Islami banget.

Ada yang perlu dikekang dan dibendung. Kita bisa memulainya dengan memilah antara keinginan dan kebutuhan. Sebab keinginan-keinginan ben dadi itu tak ada habisnya, seperti orang kehausan yang menelan air laut. Saya tertawa, ketika mengetuk paragraf barusan sambil menengok lemari yang isinya puluhan (atau mungkin ratusan?) lembar pakaian yang dua pertiganya adalah milik istri saya. Omdo ini mah ????. Padahal, hari hanya ada tujuh ye kan, kenapa baju mesti tujuh puluh pasang?

Oke, mari kita tinggalkan omong kosong itu. Skip.

Ternyata, keinginan-keinginan mari kita sebut sebagai hawa nafsu, bukan hanya terbatas pada hal-hal kebendaa belaka. Ada juga model keinginan yang bersifat sporitual. Dalam ketinggian maqam seperti Imam Ahmad diatas saja, kita bisa belajar dan melihat sebuah keinginan yang tidak lahir dari zauq, atau perasaan (yang mendasari ibadah) yang timbul karena kerinduan ingin bertemu Tuhan. Sayyidat Nafisah bisa melihat motif itu, dan keinginan itu langsung dipatahkan.

Pada tahap ini, rantai sanad yang tak terputus pada satu jenis ibadah menjadi sangat penting. Ijazah atas amalan yang kita kerjakan adalah perkara primer. Sebab kalau tidak, keinginan untuk beribadah kadang kala disusupi bisikan setan. Kalau menurut penjelasan sayyid Abu Bakar Azzabidi, jika peribadatan mendahulukan hawa nafsu, engkau akan mendapatkan rasa capek saja. Nilai ibadahmu nihil dimata Tuhan. Makanya, sebelum beribadah, terlebih dahulu engkau harus mempunyai iman. Bangun pondasi yang kuat atas pengetahuan-pengetahuan dasar tentang Ketuhanan dan Kenabian. Setelah itu baru pelajari ilmu tata cara, fiqih dll. Kemudian bungkus dengan zauq, perasaan kerinduan itu tadi.

Kenapa pondasinya iman yang kuat? Sebab pada tahap itulah pengetahuan tentang hakikat tuhan dikupas. Ini penting, karena, orang-orang yang tidak mengetahui hakikat tuhan cenderung akan meminta sesuatu yang tidak mampu ia pikul. Orang-orang kadang secara sembarangan mengamalkan doa atau munajat yang terdapat dalam buku-buku sejarah. …

Seperti yang masyhur dalam kisah Rabiatu Adawiyah yang meminta kepada ALLAH, "Jadikan tubuhku seluas neraka-mu, dan masukkan aku ke dalamnya, agar kelak nanti tidak ada (tempat bagi) ummatnya Nabi Muhammad selain aku. Cukup aku saja. " Atau, Syekh Abdul Qodir Jailani yang kedengarannya 'mengancam' tuhan dalam doa yang ia lakukan dengan mengangkat satu kakinya, "Aku tidak akan menurunkan kakiku hingga aku mendapat jaminan bahwa Engkau akan mengampuni dosa-dosa ummat muhammad SAW."

Doa-doa ini tidak boleh dibaca dan diamalkan oleh orang awam seperti kita, sebab jalan pengabulannya bisa menjadi mudarat. Bayangkan, kamu meminta untuk memikul beban seberat satu ton sementara kapasitas pundakmu hanya bisa maksimal 50kg saja, Rabiatul Adawiyah dan Syekh Abdul Qadir Jailani dan para waliyullah pada umumnya menjalani latihan mental dan laku spiritual yang panjang dan lama untuk sampai pada keadaan seperti demikian. Khawasul khawwas. Orang-orang khusus. Untuk sampai pada kemampuan memikul beban diatas 50kg memerlukan latihan fisik yang konsisten dan disiplin. Begitu perumpaannya.

Kenapa sering kita dengar 'pesan orangtua' yang mengatakan, "Jangan sembarangan belajar 'ilmu' , nanti kamu bisa bengkak, bisa gila. " Ya itu tadi, sebab kemampuan pengenalan kapasitas diri tidak menjadi bab pertama dalam pelajaran agama. Kita tidak berangkat melangkah dari titik pijak yang benar.

Sebenarnya mudah saja untuk mengenali motif yang melatarbelakangi keinginan kita dalam beribadah. Scan saja batinmu. Pindai dengan jernih. Setan itu, secara halus dan tanpa disadari, selalu membisikan anjuran untuk beribadah yang banyak dan pula tekun. Tapi, untuk memilah dari mana hasrat-hasrat itu lahir, lihatlah outputnya. Jika engkau merasa bangga, maka pasti itu dari setan, sebab melahirkan kesombongan, "Aku suci, kalian penuh dosa", "Makanya, yuk sis, mari hijrah", "Berhijab lebih cantik. Maaf sekedar mengingatkan", dan lain sebagainya. Halus beud.

Jika yang membisikkan anjuran adalah malaikat, orang-orang yang beribadah akan merasa kecil, bodoh, dhaif, banyak dosa. Seperti mengupas bawang, menguliti dosa selembar demi selembar hingga akhirnya yang ada hanya air mata.

Laku puasa adalah perihal mengekang, perkara membendung, sebab yang tak dikekang akan menjadi liar, dan yang tak di bendung akan menjadi air bah.

Wallahu a'lam
.
.
.
.
.
.

Tulisan Lainnya
NAMA-NAMA IBU DAN NENEK DARI BAGINDA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU

Oleh: Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. Edisi april 2022 Diantara keagungan dan keistimewaan agama islam adalah tiga pemberian Allah yang dikhususkan untuk ummat islam yaitu: sanad (hubung

06/04/2022 22:48 - Oleh MUHAMMAD FARID HAKIM - Dilihat 82 kali
PENTINGNYA HURUF MA'ANI

Oleh: GUS Muhammad Irfan Zidny, Lc Dalam gramatika Arab, ada tiga jenis kata; yaitu isim (kata benda), fi'il (kata kerja), dan huruf (penyambung antara isim atau fi'il). Huruf terbagi

16/03/2022 13:56 - Oleh MUHAMMAD FARID HAKIM - Dilihat 151 kali
PANAH DAN BUSUR

OLEH: JIDDAH ZAINAB  Anak- anakmu bukan milikmu dia adalah putra putri sang hidup , ….” Begitu penggalan syair Khalil Gibran. Kalaulah keegoisan terus berselebung dih

10/02/2022 09:17 - Oleh MUHAMMAD FARID HAKIM - Dilihat 193 kali
  PERBEDAAN PENDAPAT DALAM MENGHUKUMI SESUATU

OLEH: Gus Muhammad Irfan Zidny Lc,    Perbedaan pendapat dalam menghukumi sesuatu adalah tabi'at yang wajar dari sifat manusia. Hal itu dikarenakan perbedaan kacamata pandang

08/02/2022 00:18 - Oleh MUHAMMAD FARID HAKIM - Dilihat 102 kali