• PONDOK PESANTREN QOTRUN NADA
  • Berkhidmat Untuk Ummat

Titik Kehancuran

By : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc.

Sajian Utama Edisi Juli 2022

Profesional adalah syarat mutlak dalam segala hal baik primer, atau sekunder. Sangat manusiawi jika kita lebih memilih tenaga profesional ketika sekadar berkonsultasi, atau bahkan ketika meminta saran dan sebagai rujukan. Sebuah peradaban dan komunitas yang maju juga dimulai dari banyaknya tenaga profesional kedokteran misalnya. Semakin banyak Dokter spesialis disuatu rumah sakit, maka semakin tinggi pula nilai rumah sakit tersebut. Pun demikian, kehancuran suatu komunitas juga akibat maraknya oknum-oknum tidak profesional yang “memaksakan diri" mengerjakan tugas yang seharusnya dibebankan kepada tenaga profesional!

Namun agaknya, akhir-akhir ini keahlian profesional kurang dihargai! Banyak yang lebih memilih “menyeberang seorang diri disungai yang penuh buaya" dibandingkan harus “naik perahu” bersama Nahkoda yang handal. Maka tidak mengherankan jika akhirnya banyak yang “tenggelam”. Memang mengerikan, tapi sayang hanya sedikit yang mengerti jika kasusnya dalam masalah Agama. Bidang studi keilmuan sangat ketat yang harus dicapai seseorang agar bisa dikatakan Ulama seolah diabaikan!. Pendidikan yang sangat membutuhkan waktu lama agar dapat memahami (hanya memahami dan bukan mengajarkan!) Masalah-masalah dalam keilmuan islam tidak pernah dilirik!. Hasilnya? Banyak korban “malpraktek” bertebaran, bahkan memaki - maki “pasien" yang “berobat" kepada “Dokter sungguhan" yaitu para Alim Ulama!. Kami umpamakan sedikit saja, salah satu keilmuan islam adalah ilmu hadits yang didalamnya ada 80 (delapan puluh) cabang ilmu baik yang berkaitan dengan matan hadits, sanad, jauh wa ta'dil, maupun ilmu rijalul hadits yang tidak mungkin kami jabarkan disini karena butuh referensi dan waktu yang cukup panjang untuk sekadar “mengintip” betapa rumitnya menjadi “Ahli Hadits” (pangkat terendah dalam bidang Hadits). Padahal, Imam ahmad bin hanbal (Imam mazhab Hanbali) mengatakan: wahai para Ahli Fikih! Kalian adalah Dokter (dalam agama), sedangkan kami hanyalah bagaikan apoteker! (Dalam agama).

 

Tidak terbayang bagaimana rusaknya produk hukum yang diuraikan oleh “korban malpraktek" yang bukan seorang “apoteker” apalagi “Dokter”. Maka sudah saatnya kita semua untuk saling menghargai; membangun gedung menjadi tugas Insinyur, mengatur lalu lintas menjadi tugas Polisi, dan urusan agama islam menjadi tanggung jawab para ulama yang memiliki hak jawab serta kewajiban menjelaskan. Nabi Bersabda: jika suatu pekerjaan dilakukan oleh yang bukan ahlinya; maka tungguin kehancuran!. Shodaqo Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Tulisan Lainnya
Kebijaksanaan.

Sajian utama edisi November 2022. Oleh: Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. Tabiat manusia dibentuk dari kondisi sosial. Baik atau buruk tabiat bergantung kepada siapa seseorang bergaul dan

19/11/2022 12:14 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 21 kali
ISI DAN KULIT

  Oleh : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. Sajian utama edisi oktober 2022   Agama Islam memiliki banyak ritual keagamaan. Rasa kebahagiaan dan suka cita selalu kita rasakan ke

05/10/2022 15:00 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 110 kali
Prinsip Dasar Agama Islam.

Oleh Muhammad Irfan Zidny. Sajian Utama Agustus 2022.   Agama merupakan kebutuhan paling mendasar dalam mengarungi kehidupan. Solusi dalam setiap detik kehidupan selalu tersajik

10/08/2022 19:40 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 296 kali
madrasah ramdhan

By : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. Edisi April 2022 Bulan Ramadhan sedang menyapa kita. Penantian dan harapan kita agar kembali disapa dan dikunjungi Ramadhan sudah dikabulkan. Tentuny

06/04/2022 16:22 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 228 kali
NIKMATNYA PERDAMAIAN

By : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. Edisi maret 2022 Konflik antara ukraina dan Rusia baru saja dimulai. Ketegangan antar kedua negara semakin meningkat. Suara tembakan dan bom terdenga

07/03/2022 11:46 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 293 kali
Habis Gelap Terbitlah Terang

Istilah Aamul huzni agaknya sangat tepat bila dilekatkan pada perjalanan pondok pesantren Qotrun Nada ditahun 2021. Mulai dari virus corona yang masih menjadi pandemi, hingga wafatnya s

20/01/2022 12:15 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 385 kali