• PONDOK PESANTREN QOTRUN NADA
  • Berkhidmat Untuk Ummat

KH AGUS SALIM: THE GRAND OLD MAN

Manaqib Edisi Februari 2024

 

Kiai Haji Agus Salim merupakan salah satu intelektual Islam sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia. Nama aslinya adalah Mashadul Haq yang berarti pembela kebenaran.

Mengutip Ensiklopedi Pahlawan: Semangat Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan susunan R Toto Sugiarto, KH Agus Salim lahir di Kota Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 8 Oktober 1884. Ia adalah anak keempat Sultan Moehammad Salim, seorang jaksa di sebuah pengadilan negeri.

Kedudukan ayahnya yang cukup disegani itu memudahkan Agus Salim belajar di sekolah-sekolah Belanda. Dirinya juga tergolong sebagai anak yang cerdas.

Pada usia mudanya, KH Agus Salim menguasai sedikitnya 7 bahasa asing yaitu Belanda, Inggris, Arab, Turki, Prancis, Jepang, dan Jerman. Pada 1903, Agus Salim lulus dari Hogere Burgerschool (HBS) di usia 19 tahun dengan predikat lulusan terbaik di tiga kota, yaitu Surabaya, Semarang, dan Jakarta.

Menurut buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan oleh Maulana Arafat Lubis dkk, semasa hidupnya ia menjadi Ketua Partai Sarekat Islam Indonesia pada 1929. Bersama Semaun, ia mendirikan Persatuan Pergerakan Buruh pada 1919.

Keduanya gigih menuntut pemerintah kolonial Hindia Belanda agar membentuk Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad). Jelang Proklamasi Kemerdekaan, KH Agus Salim berperan sebagai salah satu anggota Panitia Sembilan dalam BPUPKI.

Sebelum berkecimpung dalam kegiatan politik melalui Sarekat Islam, hidup Agus Salim cukup gelisah. Ia berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.

Awalnya, KH Agus Salim bekerja sebagai penerjemah dan kemudian pembantu notaris. Sesudahnya, ia merantau ke Indragiri dan Riau hingga akhirnya ke Jeddah, Arab Saudi.

Di Arab, KH Agus Salim mempelajari Islam secara mendalam sambil bekerja di kantor konsulat Belanda untuk memenuhi keinginan orang tuanya yang kerap mendesaknya menjadi pegawai negeri. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk mempelajari seluk-beluk diplomasi internasional yang akan sangat berguna baginya.

KH Agus Salim meletakkan arti Islam sebagai pandangan hidup setiap pribadi muslim yang sadar akan tugas serta kewajibannya di tengah masyarakat. Sebagai hasil ijtihad, yang dipeloporinya, maka pandangannya terhadap berbagai masalah agama bercorak tersendiri.

KH Agus Salim menyelidiki Al-Qur'an dan mengadakan perbandingan ajaran-ajaran Islam dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai dunia Barat. Akhirnya, ia membuat kesimpulan bahwa kemunduran umat Islam pada kala itu karena salah menafsirkan ajaran Islam.

Dirinya dikenal sebagai diplomat ulung Indonesia dan disegani di kancah Internasional. Bakatnya yang luar biasa dalam menguasai bahasa asing membuat sosoknya gemilang.

Pada masa awal kemerdekaan, KH Agus Salim turut berperan dalam merancang UUD 1945 bersama 18 orang lainnya yang dipimpin Soekarno. Jasanya yang paling penting adalah misi diplomatiknya yang memperkenalkan negara Indonesia ke luar. 

Puncak kemenangan diplomasi Indonesia adalah perjanjian persahabatan dengan Mesir pada 1947. Kepiawaian Agus Salim berdiplomasi ini pun terus dilakukan saat ia menjadi menteri luar negeri di masa Kabinet Sjahrir, Kabinet Amir Sjarifuddin, dan kabinet Hatta.

Kiprahnya di forum internasional ialah pada 23 Maret 1947 ketika dirinya ditunjuk sebagai wakil ketua Delegasi RI di Inter-Asian Relations Conference di India. Konferensi tersebut diselenggarakan atas prakarsa Perdana Menteri India, Pandit Jawaharlal Nehru.

Lalu, pada Oktober 1950 Agus Salim ditunjuk menghadiri 11th Conference Institute of Pacific Relations di Lucknow, India serta Colloquium on Islamic Culture di Princeton, Amerika Serikat pada Agustus 1953.

Di kalangan diplomatik, Agus Salim dikenal dengan julukan The Grand Old Man yakni sebuah bentuk pengakuan atas prestasinya di bidang diplomasi.

Tahun 1946 hingga 1950 adalah tahun-tahun emas Haji Agus Salim dalam pergolakan politik Indonesia. Ia bahkan digelari sebagai “Orang Tua Besar”. Tetapi, setelah tahun emas tersebut, peran Agus Salim lambat laun memudar.

Agus Salim kemudian memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya untuk keluhuran Islam. Keputusan Agus Salim ini berawal dari undangan untuk memberikan kuliah tentang Islam di Cornell University, Ithaca, AS dan memberikan kuliah di Princeton University.

Pada masa-masa ini, kesempatan Agus Salim untuk terus memperdalam pengetahuannya dalam bidang ilmu kembali terbuka. Kuliah-kuliah Agus Salim diisi dengan sejarah hidupnya terutama yang berhubungan dengan asal mula bagaimana Islam di daerah Minangkabau yang kental tradisi agamanya.

Akhirnya, Agus Salim menjadi tertarik untuk mempelajari Islam dari berbagai segi, bukan hanya sebagai agama dan panutan nenek moyang, tetapi juga sebagai pandangan hidup setiap pribadi muslim yang sadar akan tugas dan kewajibannya di tengah-tengah masyarakat bangsanya.

Penyelidikan Agus Salim ini sampai pada kesimpulan bahwa umat Islam di Indonesia mundur lantaran salah dalam menafsirkan ajaran-ajaran Islam. Karena itu, Agus Salim, selain menjadi ulama, juga berperan sebagai salah seorang ahli pikir Islam. Ia juga terjun di tengah-tengah pergerakan Islam untuk memberi bimbingan secara langsung.

Kuatnya motivasi Agus Salim terhadap Islam sebenarnya dapat dilacak jauh ke belakang, yaitu ketika dirinya bermukim selama 5 tahun di Arab. Karena itu, meskipun Agus Salim mendapatkan pendidikan formal dari Barat, tetapi ia tetap kembali kepada Islam yang hampir tenggelam dalam gemerlap Barat.

Agus Salim pun lahir menjadi seorang reformer Islam di Tanah Air, mengikuti jejak reformer Islam lain seperti Jamaluddin Al Afghani dan Mohammad Abduh. Ia pun akhirnya kembali ke Indonesia pada 1954.

Pada perayaan ulang tahunnya ke-70, Agus Salim semakin memantapkan niatnya dan memutuskan untuk meninggalkan jabatan pemerintahan dan akan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk pendidikan dan pengajaran.

Namun, manusia hanya berencana, Tuhan jua yang menentukan. Pada 4 November 1954 jam 14.42, Agus Salim wafat di Rumah Sakit Umum Jakarta. Keesokan harinya pukul 2 siang, jenazah Agus Salim dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Rahimahullahu ta'ala.

Tulisan Lainnya
OBITUARI SYEKH AL - MUQRI DR. ALI MUHAMMAD TAUFIQ AN - NAHHAS

Manaqib edisi Mei 2024.Oleh Muhammad Irfan Zidny, Lc. Beliau bernama Ali bin Muhammad Taufiq bin Ali bin Musthofa bin Ali An-Nahhas. Dilahirkan di kota Faraskur provinsi Dimyath pada 9

17/05/2024 09:40 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 257 kali
MANAQIB SEPULUH IMAM QIRAAT (1)

Manaqib edisi April 2024.Oleh Muhammad Irfan Zidny, Lc Ramadhan adalah bulan Al Qur'an diturunkan pertama kali. Selanjutnya selama kurang lebih 23 tahun Al Quran sebagai firman Allah d

04/04/2024 19:01 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 752 kali
ABU UBAIDAH BIN JARRAH ; SANG PENAKLUK AL QUDS

Manaqib edisi November 2023. Oleh: Muhammad Irfan Zidny, Lc Abu Ubaidah bin Al-Jarrah adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Mekkah yang termasuk paling awal untuk memeluk agama Islam. Be

08/12/2023 23:05 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 23068 kali
BIOGRAFI SYAIKH IBRAHIM MUHAMMAD ABDULLAH AL KHULI

Oleh: Gus Muhammad Irfan Zidny, Lc   Ulama Ahli Bayt Yang Selalu Menutupi Nasabnya Syaikh Ibrahim Muhammad Abdullah al-Khuli adalah salah satu ulama besar al-Azhar yang juga ket

09/04/2023 12:55 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 2938 kali
Manaqib Al Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih (botoputih-surabaya).

Manaqib edisi november 2022. Oleh : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc Habib Syekh dilahirkan di kota Syihr pada tahun 1212 H anak dari Habib Ahmad Bafaqih dan silsilahnya sampai kepada Nabi

19/11/2022 12:09 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 17364 kali
Manaqib Habib Muhammad Bin Idrus Al Habsyi

Manaqib Edisi Oktober 2022 Oleh : Gus Muhammad Irfan Zidny Beliau lahir di kota Khola' Rosyid, Hadramaut, Yaman Selatan, pada tahun 1265 H atau 1845 M. Sejak kecil beliau diasuh oleh

13/10/2022 18:42 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 17286 kali
Manaqib Al-Habib Ali bin Husein Al-Attas

By : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. beliau lebih dikenal dengan sebutan Habib Ali Bungur. Beliau merupakan rantai jaringan Ulama Betawi sampai sekarang ini. Beliau memiliki jasa yang san

13/09/2022 14:08 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 16082 kali
Manaqib Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang.

By : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. Edisi agustus 2022. Beliau adalah Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Habsyi. Lahir di Kwitang, Jakarta, pad

10/08/2022 14:02 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 22211 kali
Al Habib Husein bin Abubakar Alaydrus (Keramat Luar Batang)

Pendatang dari Hadramaut, Jazirah Arabia, yang mendirikan Masjid Luar Batang tahun 1736. Ia dihadiahi sebidang tanah di Kampung Luar Batang yang terletak dekat Pelabuhan Sunda Kelapa ol

13/07/2022 12:19 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 111256 kali
MANAQIB HABIB KERAMAT EMPANG BOGOR AL-HABIB ABDULLAH BIN MUHSIN ALATTAS

oleh : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. Dalam kitab manaqibnya disebutkan bahwa al-Habib Abdullah bin Muhsin Alattas adalah seorang waliyullah yang telah mencapai kedudukan mulia dan dekat

07/06/2022 23:26 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 94123 kali