• PONDOK PESANTREN QOTRUN NADA
  • Berkhidmat Untuk Ummat

PANAH DAN BUSUR

OLEH: JIDDAH ZAINAB 

Anak- anakmu bukan milikmu dia adalah putra putri sang hidup , ….” Begitu penggalan syair Khalil Gibran. Kalaulah keegoisan terus berselebung dihati setiap orang tua mungkin, akan banyak dari mereka yang kurang menyetujui seluruh isi dari syair tersebut.

Banyak dari sebagian orang tua yang merasa iya harus seutuhnya memiliki jiwa dan raga anaknya, merasa selalu mengetahui apa-apa yang terbaik bagi anaknya, merasa bertanggung jawab sepenuhnya tehadap kehidupan anaknya sekarang bahkan merasa berkepentigan untuk menentukan setiap inci dari masa depan anaknya,

Fenomena ini tidak selamanya menjadi keliru, jika dilihat dari sudut pandang tanggung jawab terhadap amanah dari tuhan. Tetapi yang seringkali terlupakan adalah  bahwa seorang anak juga makhluk tuhan. yang hidup dan diberi ujian hawa nafsu yang berbeda dari setiap individunya, dan disesuaikan denan zamannya. Sejak ibu melahirkan bayi, kemudian beangsur angsur tumbuh dan berkembang sebagai anak, remaja dan semakin tumbuh dewasa, memang membutuhkan energi yang amat besar dan rentang waktu yang cukup Panjang bagi orang tua untuk dapat memahami dan menyelami jiwa dan anak anaknya, dalam prose yang amat panjang itu, para orang tua amat sangat diuji kesabarannya untuk dapat menyelami perkembangan jiwa anaknya. Namun demikan, tidak setiap orang tua mampu mengetahui apa yang diinginkan jiwa anak, sekaligus memegang kendali haluan dari keinginan anak agar tidak melenceng dari apa-apa yang digariskan agama.

Sekali lagi proses ini akan sangat menguras energy dari orang tua yang tidak mau banyak belajar tentang anaknya dan tidak berkomunikasi dengan tuhannya. Kewajiban orang tua harus seluruhnnya dilakukan teradap anak, agar anak mendapatkan haknya dengan sebaik baiknya, ibarat petani, yang harus membersihkan lahan terlebih dahulu untuk menanam pohon, kemudian memberi siraman air, pupuk kemudian menyemprotnya dengan pestisida, jika dikwatirkan ada hama yang akan atau sedang menyerang pohon tersebut mencabuti rumput dan benalu yang bersarang di pohon tersebut, agar dapat menghasilkan bunga atau bahkan buah yang sangat lezat dan sehat untuk disantap.

Sedikit banyak demikianlah ilustrasi bagaimana orang tua harus melaksanakan kewajibanya terhadap anak-anaknya, Badaimana kita akan mendapatkan seorang anak kita dan bahkan jika kita sebagai orang tua tidak tau atau bahkan tidak mau bersibuk ria dengan hak anak, bagaimana mungkin anak akan mendoakan kita orang tuanya, jika kita sebagai orang tua, tidak menyisipkan sepenggal waktu untuk mendoakannya

Tidak dapat dipungkiri materi memang dibutuhkan untuk dapat memberikan jaminan Pendidikan dan kesehatan bagi anak. Tetapi materi semata tidak akan mampu mengisi dahaga jiwa seorang anak, bahkan terlalu berlimpahan materi hanya akan mambuat jiwanya semakin haus akan dunia. Bagaikan Busur dan panah itulah ilustrasi seorang Khalil Gibran. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Busur dengan kondisi yang amat sangat baik akan membuat anak panah melesat jauh hingga mungkin akan tepat disasaran tetapi busur dengan kondisi yang tidak stabil akan membuat anak panah harus melesat jauh meningalkan busurnya. Sekalipun busur yang menjadi sandaran awal adalah busur yang memiliki kondisi yang sangat baik, anak panah harus tetap melesat untuk mendapatkan sasaran yang diinginkannya.

Kondisi inilah yang seringkali yang menjadi sumber kegalauan orang tua, bahkan mungkin menjadi sumber konflik diantara orang tua dan anak. Orang tua merasa bahwa sebagai busur, ia akan mampu mengatur anak panah agar dapat tetap sasaran. Bahkan terkadang ada pula orang tua, sebagai busur

yang tidak memberikan kesempatan pada anak panah untuk melesat jauh hanya karena kekhawatiran yang berlebihan terhadap kemampuan anaknya untuk mengatur dan meraih masa depannya.

Sedangkan seorang anak yang diilutrasikan sebagai anak panah, merasa ia punya keinginan untuk dapat melesat jauh agar mampu mencapai apa yang dicita citakan. Seorang anak ingin diberi kesempatan untuk dapat mencoba kemampuannya dalam menggapai apa yang diinginkan

Salah satu simpul yang mungkin dapat menyatukan kedua persepsi ini adalah orang tua harus memahami fungsi sebuah busur dengan baik. Bahwa ia memang diberi tugas untuk melesatkan sebuah anak panah dengan cara yang terbaik, karena seorang anak dilahirkan dizaman yang berbeda dengan zaman yang dilalui orang tua.

Orang tua tidak boleh egois untuk selalu mencengkeram anak panah agar tidak melesat jauh darinya, tetapi berikanlah kesempatan pada anak panah untuk melesat jauh darinya, tetapi berikanlah kesempatan pada sang anak panah untuk melesat dengan persiapan bidik yang sempurna

Dan yang tak bisa kalah penting, jangan paksa anak panah untuk harus tepat sasaran sesuai keinginan sang pembidik busur, biarkanlah ia melesat, selama persiapan bidik itu sempurna, tentu tidak akan melenceng terlalu jauh dari sasarannya. Dan diantara sekian banyak simpul, yang terbaik adalah do’a. agar sang Kholik senantiasa mendampingi anak panah kita untuk melesat dengan takdir terbaik Rabbnya.

~My Lovely Kid’s

“doakan kami agar bisa menjadi busur yang baik, agar dapat melesatkan kalian kepada sasaran yang tepat.” (Qotrunnada, 29 April 2011)

Tulisan Lainnya
Pengaruh Akidah Bagi Kondisi Logika dan Kondisi Sosial Manusia.

Oleh: Gus Muhammad Irfan Zidny, LcKajian edisi oktober  2022 Pengaruh bagi kondisi logika. Akidah islam menuntut penganutnya untuk selalu berpikir secara logis. Segala sesua

03/10/2022 19:25 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 380 kali
Ayah dan Ibunda Rasulullah menurut Al Quran.

Oleh : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. Kajian edisi Agustus 2022.   Kebenaran harus dibuktikan dengan data terkuat. Fanatisme buta berarti cacat secara logika. Al Quran adalah nera

10/08/2022 14:08 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 299 kali
ISLAM AGAMA RAHMATAN LIL ALAMIN

By : Kaysan  INI, saya lampirkan satu buah foto lubang jendela hotel tempat saya tinggal, anggap saja semacam Kartu Lebaran, berobjek segelas kopi berwadahkan cangkir bergambar ha

10/08/2022 13:43 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 209 kali
Muqaddimah Ilmu Hadits

By: Gus Muhammad Irfan Zidny Lc Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Engkau (para ahli fikih) adalah Dokter, dan kami (para ahli hadits) adalah Apoteker. Berdasar dari kaidah tersebut, disim

14/07/2022 15:09 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 332 kali
ISLAM AGAMA RAHMATAN LIL'ALAMIN

By:Kaysan Kalau alasan kaum atheis tidak mempercayai Tuhan  karena tidak bisa ditangkap oleh indra, oke, boleh kita terima. Tapi, mereka tidak punya alasan untuk tidak mempercayai

08/06/2022 00:08 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 388 kali
ISLAM AGAMA RAHMATAN LIL’AALAMIIN

By : Kaysan Kamis malam kami mengunjungi salah seorang kerabat yang sedang sakit. Jalanan macet, namun kami mafhum mengingat besok adalah hari libur dan orang-orang menyambut long week

01/06/2022 18:01 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 316 kali
Sayyidat Nafisah binti Hasan Al-Anwar

By : KAYSAN Sayyidat Nafisah binti Hasan Al-Anwar dalam tarikh mengajarkan shalat sunnah 1000 rakaat setiap malam. Imam Ahmad bin Hanbal bertanya "Darimana engkau dapatkan amalan ini?

15/04/2022 17:23 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 418 kali
NAMA-NAMA IBU DAN NENEK DARI BAGINDA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU

Oleh: Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. Edisi april 2022 Diantara keagungan dan keistimewaan agama islam adalah tiga pemberian Allah yang dikhususkan untuk ummat islam yaitu: sanad (hubung

06/04/2022 22:48 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 19866 kali
PENTINGNYA HURUF MA'ANI

Oleh: GUS Muhammad Irfan Zidny, Lc Dalam gramatika Arab, ada tiga jenis kata; yaitu isim (kata benda), fi'il (kata kerja), dan huruf (penyambung antara isim atau fi'il). Huruf terbagi

16/03/2022 13:56 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 2722 kali
  PERBEDAAN PENDAPAT DALAM MENGHUKUMI SESUATU

OLEH: Gus Muhammad Irfan Zidny Lc,    Perbedaan pendapat dalam menghukumi sesuatu adalah tabi'at yang wajar dari sifat manusia. Hal itu dikarenakan perbedaan kacamata pandang

08/02/2022 00:18 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 426 kali