MENAPAK JEJAK YANG TAK PERNAH HILANG
Refleksi Haul ke-4 Buya KH. Burhanuddin Marzuki
Oleh: Humaidi Mufa
Empat tahun sudah dan masih kami ingat. Suaranya yang tenang, penuh kebijaksanaan, namun setiap katanya menusuk langsung ke inti hati. Tidak ada yang dibuat-buat, tidak ada yang berlebihan. Semua mengalir seperti mata air jernih, menyejukkan laksana tetesan embun, menyegarkan jiwa-jiwa yang dahaga akan makna.
KH. Burhanuddin Marzuki, atau yang kami panggil dengan penuh takdzim “Buya”, bukan sekadar pengasuh pesantren. Beliau adalah sosok murobbi yang mengayomi, guru yang membimbing dengan kasih sayang, pemimpin yang selalu menuntun dengan teladan. Kepergiannya empat tahun silam bukan hanya meninggalkan ruang kosong di tempat biasa beliau mengajar, tapi juga luka menganga di dada ribuan santri dan muhibbin yang menjadikan beliau sebagai mercusuar hidup.
Kini, dalam peringatan Haul ke-4 ini, kami kembali menziarahi kenangan itu, menapaki perlahan pesan penuh teladan yang lahir dari laku kehidupan beliau. Tidak hanya dengan doa dan tahlil, tapi juga dengan air mata yang jatuh secara diam-diam. Air mata yang bukan sekadar sedih karena kehilangan, tetapi rindu yang tak pernah reda. Rindu akan sentuhan lembut tangan beliau di pundak kami. Rindu akan senyuman khas beliau yang meneduhkan di kala kami lelah. Rindu akan sorot mata teduh yang menenangkan setiap gundah.
Buya bukan hanya pendiri Pondok Pesantren Qotrun Nada. Beliau adalah ruh dari setiap butir pasir yang menyusun bangunan ini. Setiap sudut pondok ini menyimpan jejaknya: dari ruang kecil tempat beliau mengimami jamaah dengan suara lembut dan khusyuk, hingga teras rumah yang menjadi tempat beliau mengajarkan fiqih, akhlak, dan kehidupan. Bahkan gaya khas beliau ketika berjalan, masih terngiang jelas dalam ingatan kami.
Haul ini bukan hanya sebuah peringatan, namun sebagai momen spiritual bagi kami untuk merenung, sudah sejauh mana kami mampu meneruskan perjuangan beliau? Sudah sekuat apa kami memegang nilai-nilai yang beliau wariskan, apakah itu keikhlasan, kesederhanaan, keteguhan dalam prinsip, hingga kepasrahan total kepada Allah?
Kami sadar, Buya tidak pernah benar-benar pergi. Beliau hidup dalam barisan doa para santri yang terus belajar dan mengaji meski aktifitas sudah menguras energi. Beliau hadir dalam langkah para alumni yang mengajar dan berdakwah dengan sabar ditengah masyarakat dengan berbagai lakonnya. Beliau tumbuh dalam cita-cita kami yang tak henti ingin menjadikan Qotrun Nada sebagai pusat cahaya ilmu dan akhlak.
Empat tahun ini menjadi saksi bahwa cinta tak mengenal batas waktu. Bahwa kebaikan akan tetap hidup, selama ia diperjuangkan. Dan kami bersumpah, Buya, perjuangan ini tidak akan berhenti. Kami akan lanjutkan, meski langkah kami tak sekuat dan seteduh langkahmu. Kami akan pelihara semangatmu, meski suara kami tak semerdu zikir yang dulu engkau lantunkan di sepertiga malam.
Haul ke-4 ini adalah janji. Janji kami untuk tetap berjalan di jalan yang telah engkau tunjukkan. Dengan segala kelemahan dan keterbatasan, kami berusaha menjaga warisanmu: pondok ini, nilai-nilai ini, dan cinta ini.
Terima kasih, Buya. Engkau telah memberi kami lebih dari sekadar ilmu. Engkau memberi kami teladan hidup. Engkau menunjukkan bahwa kesholehan bukan hanya dalam ibadah, tapi dalam bagaimana kita memperlakukan sesama. Bahwa keagungan bukan pada pangkat atau gelar, tapi pada kerendahan hati yang tak pernah pudar.
Engkau boleh tiada secara fisik, tapi engkau kekal dalam sanubari kami. Dan selama Qotrun Nada masih berdiri, selama zikir masih menggema di masjid ini, selama kitab-kitab masih terbuka di hadapan para santri, namamu akan terus disebut dengan cinta dan hormat yang tak akan terhenti.
Al-Fatihah untuk Buya KH. Burhanuddin Marzuki.
HM
Tulisan Lainnya
ABOUT US
By: Jiddah Zainab Bicara "Tentang Kita" adalah pembicaraan tentang keseluruhan dari Cipta, proses perjalanan dan cita- cita dari setiap personel, baik unsur atau struktur, dari A sampa
Tercatat dalam Sejarah: Antara Lupa dan Wafa’
Oleh: Humaidi Mufa Tidak semua yang membangun sejarah merasa penting untuk tercatat. Banyak tokoh besar dalam lintasan waktu yang berjalan tanpa pamrih, tanpa mencatat namanya sendiri
SAFINAH NAJA
Oleh:Jiddah Zainab (Tribute to Sang Kyai 140621 – 140625) Malam itu laut tenang, Langit ditemani bintang, Angin semilir sejuk menghantam ombak tanpa deburan, Semua rahasia menja
Terdidik dalam situasi mendadak
By: Jiddah Zainab Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Dan dengan kesempurnaanNya Allah menciptakan Rasulullah menjadi makhluq yang sempurna. Dan selain itu tak ada lagi makhluq y
TERUSLAH BERGERAK DAN JANGAN BERHENTI
Oleh: Humaidi Mufa Jika jatuh, bangunlah kembali. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita sedang belajar berdiri lebih kuat. Jika gagal, cobalah lagi. Karena kegagalan bukan akhir, m
KEMANA PENDIDIKAN KITA MELANGKAH ?
Oleh : Humaidi Mufa Pendidikan Indonesia lahir melalui semangat perjuangan. Ki Hajar Dewantara, Bapak pendidikan nasional, telah menanamkan nilai-nilai luhur bahwa pendidikan sejatinya
MAGICAL WORDS
By Halimah Sadiyah Kita mungkin sering melihat dan membaca sebuah tulisan, atau mendengar sebuah kata yang bernyawa dari lisan orang-orang yang mampu memberikan dampak po
11 hari menjemput Surga
In Memoriam Koh Abun By: Jiddah Zainab Tak seorang pun yang tahu bagaimana cerita hidup yang akan di jalaninya. Dari mulai di lahirkan sang Bunda sampai akhir dari perjalanannya di d
UPDATE AND UPGRADE
By: Jiddah Zainab Kehidupan manusia akan selalu melalui poros nya. Dalam konteks keimanan, poros seorang mukmin adalah taqdir Allah. Bagi kaum tertentu, taqdir Allah adalah
JALUR SUNYI
Oleh : Halimatus Sadiyah Momentum hari raya masih sangat terasa, hal ini pun menjadi ruang untuk beradaptasi kembali, mengusahakan kebiasaan baik yang dilakukan dibulan ramadhan dan ha