{"id":1550,"date":"2025-11-28T16:58:53","date_gmt":"2025-11-28T09:58:53","guid":{"rendered":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/?p=1550"},"modified":"2025-11-29T12:51:58","modified_gmt":"2025-11-29T05:51:58","slug":"universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/","title":{"rendered":"Universitas Kehidupan: Belajar Menjadi Manusia dari Bumi."},"content":{"rendered":"\n<p><br><strong>Kajian edisi November 2025.<br>Oleh Muhammad Irfan Zidny.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam universitas kehidupan, bumi adalah ruang kuliah yang tidak pernah selesai memberi pelajaran, dan manusia adalah mahasiswa yang tidak berhenti diuji oleh waktu. Kita selalu membayangkan pendidikan sebagai ruang kelas dengan meja dan papan tulis, tetapi kehidupan memaksa kita memahami bahwa pendidikan sejati justru berlangsung ketika kaki kita menyentuh tanah, ketika tangan kita menyentuh daun basah, ketika hati kita mendengar bisikan halus dari makhluk yang tak pernah hingar\u2014air yang mengalir, tanah yang retak, angin yang membawa kabar perjalanan jauh dunia. Manusia belajar menjadi manusia ketika ia menyentuh bumi, bukan ketika ia memandangnya dari balik kaca.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan di universitas kehidupan ini, rektornya adalah pengalaman. Ia tidak pernah berbicara keras, tetapi setiap keputusannya mengubah arah hidup mahasiswa-mahasiswa yang menempuh studinya. Ia tidak mengajar dari podium, tetapi dari peristiwa-peristiwa\u2014yang kadang lembut, kadang mengguncang. Ia tidak memberi gelar sarjana atau magister, tetapi ia menandai manusia dengan kedewasaan, ketenangan, dan luasnya pandangan. Di kampus ini, SKS tidak dihitung dari jumlah jam duduk, tetapi dari jumlah luka yang menjadi pelajaran, dari jumlah kesulitan yang berubah menjadi kebijaksanaan, dari jumlah keberanian untuk bangkit ketika runtuh. Dan setiap semester di kampus bumi ini dibuka oleh musim\u2014musim hujan, musim kemarau, musim gagal, musim tumbuh\u2014semuanya adalah mata kuliah wajib.<\/p>\n\n\n\n<p>Hubungan manusia dengan bumi bukan hanya relasi ekologis; ia adalah relasi eksistensial yang menentukan kualitas jiwa. Ilmuwan Fritjof Capra menulis bahwa \u201ckita tidak hidup di alam, tetapi sebagai bagian dari jejaring kehidupan itu sendiri,\u201d sebuah pernyataan yang menempatkan manusia bukan sebagai penguasa ekosistem, tetapi sebagai simpul kecil yang hanya akan kuat jika terhubung dengan keseluruhan jaringan. Pemikir lain, Seyyed Hossein Nasr, mengingatkan bahwa manusia modern telah \u201ckehilangan kesucian kosmos\u201d karena pendidikan hari ini terlalu menekankan pengetahuan teknis, namun melupakan kefanaan, keterhubungan, serta tanggung jawab moral terhadap bumi.<\/p>\n\n\n\n<p>Riset-riset dunia menegaskan bahwa bumi bukan sekadar ruang hidup, tetapi ruang belajar. National Geographic dalam laporannya tahun 2020 mencatat bahwa kedekatan manusia dengan lingkungan alam meningkatkan hormon oxytocin dan serotonin yang berperan besar dalam membangun rasa keterhubungan, empati, dan kestabilan emosi. Dalam salah satu artikelnya, para peneliti yang diwawancarai menjelaskan bahwa \u201csetiap kali manusia berada dekat elemen alam\u2014air, tanah, pepohonan\u2014otak memasuki kondisi restoratif yang memperbaiki memori, fokus, dan ketangguhan psikologis.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>National Geographic juga menulis bahwa hutan memiliki efek memulihkan yang jauh lebih dalam daripada sekadar memberi udara segar. Ia memberi ruang keheningan, ruang untuk mendengar diri sendiri, serta ruang bagi jiwa untuk menyusun kembali keping-kepingnya yang pecah. Para ilmuwan yang meneliti forest bathing di Jepang menjelaskan bahwa berada di antara pepohonan menurunkan hormon stres cortisol secara signifikan, membuat manusia \u201cpulang\u201d kepada ritme biologis yang selama ribuan tahun menjadi rumahnya. Maka tidak mengherankan bila banyak orang merasa lebih menjadi manusia saat berada di alam\u2014karena memang di situlah manusia pertama kali belajar bernapas sebagai manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendidikan berbasis praktik\u2014pendidikan yang membuat manusia sungguh menjadi manusia\u2014lahir ketika dunia menjadi laboratorium etika, bukan hanya laboratorium eksperimen. Di sawah, kita belajar kesabaran dari benih yang tumbuh perlahan; dari tanah yang harus dibalik berkali-kali sebelum ia siap menerima kehidupan baru. Di hutan, kita belajar keberagaman dari pohon-pohon yang tumbuh berdampingan meski berbeda rupa dan usia. Di laut, kita belajar kerendahan hati, sebab ombak mengajarkan betapa kecilnya manusia di hadapan kehendak alam. Dan dari langit, kita belajar bahwa hidup tidak pernah berhenti memperluas kemungkinan; ia selalu menawarkan ruang untuk merenung dan berharap. Semua ini adalah SKS-SKS yang tidak tersampaikan oleh kurikulum akademik, tetapi wajib ditempuh oleh siapa pun yang ingin lulus sebagai manusia seutuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perjalanan panjang umat manusia, para guru sejati sering tidak datang dari ruang akademik yang megah, tetapi dari ruang hidup yang nyata. Petani yang membaca tanda-tanda hujan lebih akurat daripada radar bukan hanya mempraktikkan teknik, tetapi juga kebijaksanaan turun-temurun. Nelayan yang mengetahui waktu pasang hanya dari suara ombak bukan sekadar memahami fenomena alam, tetapi menaruh hormat pada lautan yang menjadi sahabat sekaligus ancaman. Orang tua yang mengajarkan anaknya cara berjalan di pematang sawah tanpa jatuh sedang menanamkan kecermatan, keseimbangan, dan rasa percaya diri yang tak tertulis dalam buku pelajaran mana pun. Dan dari mereka, kita belajar bahwa gelar sejati tidak ditentukan oleh universitas tempat kita belajar, tetapi oleh seberapa besar kita membiarkan hidup mengajar kita tanpa menolak pelajarannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian-penelitian terdahulu mendukung gagasan bahwa kedekatan manusia dengan bumi memperkaya kapasitas kognitif sekaligus emosional. Studi yang dipublikasikan di Journal of Environmental Psychology (Kaplan, 1995) menunjukkan bahwa keterlibatan langsung dengan alam meningkatkan perhatian, empati, dan kemampuan mengambil keputusan. Sementara itu, dalam The Nature Fix, Florence Williams menunjukkan bahwa hanya dengan berjalan di ruang hijau selama 15 menit, otak manusia menghasilkan gelombang alfa yang meningkatkan ketenangan dan kejernihan berpikir. Pendidikan yang lepas dari bumi sering gagal membuat manusia utuh karena ia membangun kecerdasan tanpa membangun kebijaksanaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sinilah universitas kehidupan bekerja: ia mengajarkan bahwa teori tanpa pengalaman adalah wacana yang rapuh, dan pengalaman tanpa refleksi adalah jalan yang kabur. Bumi tidak mengajar dengan ujian tertulis, tetapi dengan ujian peristiwa. Ia memaksa kita jatuh, gagal, patah, lalu bangkit membawa pemahaman yang lebih jernih. Setiap musim adalah mata kuliah; setiap kesulitan adalah penguji kelulusan; setiap keberhasilan adalah tesis yang ditulis oleh tangan-tangan kehidupan itu sendiri. Di kampus ini, dosennya adalah waktu, asistennya adalah kesulitan, dan perpustakaannya adalah perjalanan panjang yang kita tempuh sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, hubungan manusia dengan bumi tidak sekadar menciptakan manusia yang cerdas, tetapi manusia yang sadar\u2014sadar akan keterbatasan dirinya, makna keberadaannya, dan tanggung jawabnya menjaga kehidupan. Universitas kehidupan tidak membentuk manusia untuk menguasai dunia, tetapi untuk merawatnya. Dan mungkin, seperti ditulis Rachel Carson dalam Silent Spring, \u201ckita tidak akan pernah memandang alam dengan cara yang sama setelah kita menyadari bahwa hidup kita sendiri adalah bagian dari hidupnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Universitas kehidupan tidak meminta ijazah, tetapi meminta kesungguhan. Ia tidak menuntut gelar, tetapi menuntut kematangan jiwa. Ia tidak mengajarkan sekadar cara hidup, tetapi cara menjadi manusia. Dan selama manusia masih menjejak bumi, selama itu pula bumi akan terus mengajar\u2014dengan bahasa yang kadang keras, kadang lembut, tetapi selalu jujur.<\/p>\n\n\n\n<p>Referensi:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Capra, Fritjof. The Web of Life.<\/li>\n\n\n\n<li>Nasr, Seyyed Hossein. Man and Nature.<\/li>\n\n\n\n<li>Kaplan, Stephen. Journal of Environmental Psychology, 1995.<\/li>\n\n\n\n<li>Williams, Florence. The Nature Fix.<\/li>\n\n\n\n<li>Carson, Rachel. Silent Spring.<\/li>\n\n\n\n<li>National Geographic Society, laporan lingkungan dan neurosains alam (2020\u20132023).<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Depok, 6 Jumadil Akhiroh 1447 H.<br>Wallahu a&#8217;lam.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kajian edisi November 2025.Oleh Muhammad Irfan Zidny. Dalam universitas kehidupan, bumi adalah ruang kuliah yang tidak pernah selesai memberi pelajaran, dan manusia adalah mahasiswa yang tidak berhenti diuji oleh waktu. Kita selalu membayangkan pendidikan sebagai ruang kelas dengan meja dan papan tulis, tetapi kehidupan memaksa kita memahami bahwa pendidikan sejati justru berlangsung ketika kaki kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1551,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"class_list":["post-1550","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Universitas Kehidupan: Belajar Menjadi Manusia dari Bumi. - Pondok Pesantren Qotrun Nada<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Universitas Kehidupan: Belajar Menjadi Manusia dari Bumi. - Pondok Pesantren Qotrun Nada\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kajian edisi November 2025.Oleh Muhammad Irfan Zidny. Dalam universitas kehidupan, bumi adalah ruang kuliah yang tidak pernah selesai memberi pelajaran, dan manusia adalah mahasiswa yang tidak berhenti diuji oleh waktu. Kita selalu membayangkan pendidikan sebagai ruang kelas dengan meja dan papan tulis, tetapi kehidupan memaksa kita memahami bahwa pendidikan sejati justru berlangsung ketika kaki kita [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Pondok Pesantren Qotrun Nada\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-28T09:58:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-29T05:51:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/WhatsApp-Image-2025-11-27-at-19.31.02.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"642\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"428\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/\",\"url\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/\",\"name\":\"Universitas Kehidupan: Belajar Menjadi Manusia dari Bumi. - Pondok Pesantren Qotrun Nada\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/WhatsApp-Image-2025-11-27-at-19.31.02.jpeg\",\"datePublished\":\"2025-11-28T09:58:53+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-29T05:51:58+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/b8ca3941165a2894608fcefe68584abe\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/WhatsApp-Image-2025-11-27-at-19.31.02.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/WhatsApp-Image-2025-11-27-at-19.31.02.jpeg\",\"width\":642,\"height\":428},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Universitas Kehidupan: Belajar Menjadi Manusia dari Bumi.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#website\",\"url\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/\",\"name\":\"Pondok Pesantren Qotrun Nada\",\"description\":\"Pondok Pesantren Qotrun Nada\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/b8ca3941165a2894608fcefe68584abe\",\"name\":\"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1a5f64753457878d280afeb3e2b878910adf5bf917b3e20d27f080055525abe6?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1a5f64753457878d280afeb3e2b878910adf5bf917b3e20d27f080055525abe6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN\"},\"url\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/author\/media-publisher\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Universitas Kehidupan: Belajar Menjadi Manusia dari Bumi. - Pondok Pesantren Qotrun Nada","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Universitas Kehidupan: Belajar Menjadi Manusia dari Bumi. - Pondok Pesantren Qotrun Nada","og_description":"Kajian edisi November 2025.Oleh Muhammad Irfan Zidny. Dalam universitas kehidupan, bumi adalah ruang kuliah yang tidak pernah selesai memberi pelajaran, dan manusia adalah mahasiswa yang tidak berhenti diuji oleh waktu. Kita selalu membayangkan pendidikan sebagai ruang kelas dengan meja dan papan tulis, tetapi kehidupan memaksa kita memahami bahwa pendidikan sejati justru berlangsung ketika kaki kita [&hellip;]","og_url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/","og_site_name":"Pondok Pesantren Qotrun Nada","article_published_time":"2025-11-28T09:58:53+00:00","article_modified_time":"2025-11-29T05:51:58+00:00","og_image":[{"width":642,"height":428,"url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/WhatsApp-Image-2025-11-27-at-19.31.02.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/","url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/","name":"Universitas Kehidupan: Belajar Menjadi Manusia dari Bumi. - Pondok Pesantren Qotrun Nada","isPartOf":{"@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/WhatsApp-Image-2025-11-27-at-19.31.02.jpeg","datePublished":"2025-11-28T09:58:53+00:00","dateModified":"2025-11-29T05:51:58+00:00","author":{"@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/b8ca3941165a2894608fcefe68584abe"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/#primaryimage","url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/WhatsApp-Image-2025-11-27-at-19.31.02.jpeg","contentUrl":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/WhatsApp-Image-2025-11-27-at-19.31.02.jpeg","width":642,"height":428},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/kajian\/2025\/11\/universitas-kehidupan-belajar-menjadi-manusia-dari-bumi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Universitas Kehidupan: Belajar Menjadi Manusia dari Bumi."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#website","url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/","name":"Pondok Pesantren Qotrun Nada","description":"Pondok Pesantren Qotrun Nada","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/b8ca3941165a2894608fcefe68584abe","name":"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1a5f64753457878d280afeb3e2b878910adf5bf917b3e20d27f080055525abe6?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1a5f64753457878d280afeb3e2b878910adf5bf917b3e20d27f080055525abe6?s=96&d=mm&r=g","caption":"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN"},"url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/author\/media-publisher\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1550","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1550"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1550\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1552,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1550\/revisions\/1552"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}