{"id":1577,"date":"2025-12-15T10:07:21","date_gmt":"2025-12-15T03:07:21","guid":{"rendered":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/?p=1577"},"modified":"2025-12-15T10:11:52","modified_gmt":"2025-12-15T03:11:52","slug":"roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/","title":{"rendered":"Roger Garaudy: Ziarah Panjang Sang Pencari Cahaya."},"content":{"rendered":"\n<p><br><strong>Manaqib edisi Desember 2025.<br>Oleh Muhammad Irfan Zidny.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Roger Garaudy lahir di Marseille pada 17 Juli 1913, di sebuah kota pelabuhan yang sejak lama menjadi persilangan bangsa-bangsa, tempat angin Afrika dan Eropa berpapasan, dan tempat Timur jauh terasa lebih dekat dari peta mana pun. Dari lingkungan pekerja yang sederhana, ia menyerap nilai keteguhan dan spiritualitas Kristen, yang kelak menjadi fondasi awal pencariannya. Namun sejak muda ia sudah merasa bahwa iman yang diajarkan kepadanya bukanlah sesuatu yang final. Ada ruang kosong, semacam rongga eksistensial yang tidak terisi oleh dogma gereja. Dalam Appels aux Vivants ia menulis bahwa masa kecilnya adalah \u201ciman yang rapuh, yang mengajarkan kasih, tetapi kehilangan keberanian untuk memerangi ketidakadilan.\u201d Kata-kata ini mengungkapkan benih yang kelak menuntunnya ke perjalanan panjang lintas ideologi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika Eropa terguncang oleh krisis ekonomi dan kebangkitan fasisme, Garaudy muda melihat penderitaan di mana-mana. Ia tidak menemukan gereja berdiri tegak membela kaum terhina, sehingga ia berpaling kepada Marxisme\u2014bukan karena menolak agama, melainkan karena mencari keadilan yang lebih konkret. Marx, terutama dalam Manuskrip 1844, memberinya bahasa baru tentang keterasingan manusia dan harapan akan tatanan sosial yang adil. Ia bergabung dengan Partai Komunis Prancis, bukan karena ingin memusuhi agama, tetapi karena ingin membela manusia. Dalam Dieu est Mort (1962) ia menulis bahwa langkah itu \u201cbukan pemberontakan terhadap Tuhan, melainkan terhadap mereka yang menjadikan Tuhan pembenaran status quo.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Perang Dunia II mengubah hidupnya. Ia ditangkap Nazi dan dipenjarakan di Aljazair. Di dalam penjara yang sunyi, ia mengajar sesama tahanan membaca dan berdiskusi, sementara ia sendiri bergulat dengan keheningan yang memaksa seseorang memeriksa kedalaman dirinya. Ia menyaksikan manusia dalam keadaan paling rapuh dan paling kuat sekaligus. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa ideologi\u2014apa pun bentuknya\u2014dapat berubah menjadi berhala jika tidak disinari oleh hati nurani. Dari penjara itu, ia keluar bukan sebagai seorang komunis yang patuh, tetapi seorang manusia yang mulai mencurigai \u201ckepastian-kepastian\u201d yang terlalu sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun jalan itu belum selesai. Selepas perang, ia kembali ke pangkuan partai dan menjadi salah satu pemikir resmi mereka, hingga akhirnya duduk di Komite Pusat PCF. Di mata banyak orang, ia mencapai puncak karier seorang intelektual kiri. Tetapi hatinya kembali retak pada tahun 1956 ketika tank-tank Soviet memasuki Budapest. Ia mengutuk kezaliman itu dengan lantang dalam esai-esai dan perdebatan internal. Bukunya Le Communisme et la Morale (1959) menjadi kritik tajam yang membuatnya diawasi dan akhirnya dikeluarkan dari partai pada 1970. Dari pengusiran itu, ia menemukan sebuah kebebasan moral yang selama ini dirindukannya. Ia memunggungi ideologi, bukan karena membencinya, tetapi karena telah menemukan bahwa kebenaran tidak dapat dipenjarakan dalam satu kerangka sistem.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun-tahun berikutnya menjadi masa pencarian spiritual yang sangat mendalam. Ia membaca Rumi, Ibnu Arabi, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Muhammad Iqbal, Syekh Ahmad al-Alawi, Ren\u00e9 Gu\u00e9non, Frithjof Schuon\u2014serta tekun menelaah Louis Massignon yang memperkenalkan dunia mistik Islam. Ia merasa tradisi intelektual Islam memiliki keluasan yang tidak ia temukan di Barat modern: sebuah peradaban yang dapat menyatukan ilmu astronomi dengan puisi, matematika dengan musik, rasionalitas dengan keindahan batin, politik dengan etika spiritual.<\/p>\n\n\n\n<p>Karya Promesses de l\u2019Islam (1981) adalah tanda bahwa pintu itu sudah terbuka. Ia menulis tentang tauhid bukan sebagai konsep teologis semata, tetapi sebagai prinsip yang menyatukan Tuhan, manusia, dan alam. Islam baginya adalah \u201cperadaban kesaksian\u201d\u2014kesaksian bahwa hidup tidak boleh dipisahkan dari makna, dan makna tidak boleh dipisahkan dari keadilan. Ia menemukan bahwa Islam tidak memutus jembatan antara akal dan wahyu, antara realitas dan nilai-nilai, antara dunia dan Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan pada tahun 1982, setelah pergulatan panjang dan tenang, Roger Garaudy memeluk Islam. Ia memilih nama Ragaa, \u201charapan.\u201d Dalam wawancaranya, ia berkata, \u201cSaya tidak berpindah agama. Saya pulang dari pengembaraan panjang.\u201d Islam baginya bukan pelabuhan akhir, melainkan laut luas yang akhirnya mampu menampung seluruh pencariannya. Ia menemukan kembali apa yang hilang dari kekristenan masa kecilnya: spritualitas yang menggugah dan keberpihakan terhadap kaum tertindas sekaligus. Ia menemukan apa yang tidak memuaskannya dari Marxisme: etika transenden yang tidak tunduk kepada agenda politik.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah masuk Islam, karya-karyanya memasuki fase paling matang. Ia menulis L\u2019Islam habit\u00e9; Appel aux Vivants yang menjadi semacam wasiat intelektual dan spiritual; Histoire des Civilisations yang menempatkan Islam dalam lintasan sejarah manusia; dan karya yang paling kontroversial Les Mythes fondateurs de la politique isra\u00e9lienne (1996), yang membuatnya dipenjara opini di Prancis. Ia kehilangan ruang bicara, kehilangan dukungan media, dan dicerca oleh kalangan tertentu. Tetapi ia tidak kehilangan keberanian. \u201cJika kebenaran membuatku sendirian,\u201d katanya, \u201cbiarkan aku sendirian bersama kebenaran.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Garaudy berkelana ke dunia Islam, dari Teheran hingga Rabat, dari Kairo hingga Damaskus. Ia berdialog dengan ulama, cendekiawan, mahasiswa, dan seniman. Dalam setiap kunjungannya, ia selalu menekankan bahwa Islam tidak akan bangkit hanya dengan retorika, melainkan dengan ilmu, kreativitas, dan keberanian moral. Ia sering mengutip Rumi: \u201cDi mana engkau berdiri, jadilah jiwa dunia itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kajian tentang seni Islam (L\u2019Art de l\u2019Islam), ia menegaskan bahwa peradaban Islam tidak pernah membuat seni untuk meniru dunia, tetapi untuk menyingkapkan ruh dunia. Dalam kritiknya terhadap Barat, ia tidak anti-ilmu, tidak anti-modernitas; ia hanya menolak peradaban yang memutus manusia dari makna, merusak bumi, dan memuja pasar. Ia menawarkan visi alternatif: peradaban berbasis tauhid, yang menjadikan manusia penjaga bumi, bukan penghisapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Nasihat-nasihat Garaudy menyebar luas dalam dunia Islam. Di antara pesan-pesannya yang terkenal adalah:<br>\u201cJika engkau ingin memahami Islam, bukalah hatimu lebih dahulu sebelum membuka pustakamu.\u201d<br>\u201cKeadilan tanpa spiritualitas akan melahirkan kekerasan; spiritualitas tanpa keadilan akan melahirkan kemunafikan.\u201d<br>\u201cJadilah manusia yang tidak tunduk kepada uang, pujian, atau ketakutan\u2014karena tiga itulah berhala modern.\u201d<br>\u201cIslam adalah janji masa depan, bukan nostalgia masa silam.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun-tahun terakhir hidupnya adalah masa sunyi yang damai. Ia terus menulis, membaca, dan menerima tamu. Ia wafat pada 13 Juni 2012, dengan penuh ketenangan. Di Prancis, berita tentangnya mungkin dingin. Namun di dunia Islam, namanya dikenang dengan cinta dan penghormatan: sebagai jembatan hidup antara dua dunia, sebagai musafir kebenaran yang jujur sampai akhir, sebagai bukti bahwa hati manusia akan menemukan rumahnya jika ia cukup berani untuk mencari.<\/p>\n\n\n\n<p>Hidupnya mengajarkan bahwa kebenaran bukan hadiah bagi mereka yang berhenti bertanya, tetapi bagi mereka yang berani kehilangan segalanya demi nurani. Garaudy menunjukkan bahwa akal yang jujur akan selalu mencari cahaya, dan cahaya itu dapat muncul dari tempat yang tidak pernah kita duga. Tauhid\u2014yang ditemukannya setelah panjang berkelana\u2014menjadi jawaban bagi pencarian seumur hidupnya: kesatuan antara Tuhan, manusia, dan alam dalam satu simfoni yang tak terputus.<\/p>\n\n\n\n<p>Karya-Karya Penting Roger Garaudy<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa karya utama yang memuat pemikirannya tentang spiritualitas, filsafat, seni, dan kritik peradaban:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"588\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-15-at-09.51.20-588x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1581\" style=\"aspect-ratio:0.5742222547745043;width:399px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-15-at-09.51.20-588x1024.jpeg 588w, https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-15-at-09.51.20-172x300.jpeg 172w, https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-15-at-09.51.20.jpeg 733w\" sizes=\"(max-width: 588px) 100vw, 588px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Promesses de l&#8217;Islam (1981)<br>L\u2019Islam Habit\u00e9 (1987)<br>Appel aux Vivants (1979\u20131995)<br>Histoire des Civilisations<br>Le Communisme et la Morale (1959)<br>Pour un Dialogue des Civilisations<br>L\u2019Art de l\u2019Islam<br>Les Mythes fondateurs de la politique isra\u00e9lienne (1996)<br>Dieu est Mort (1962)<br>Parole d\u2019Homme<br>Danse du Feu: Dialogue avec Rumi<\/p>\n\n\n\n<p>Daftar Referensi Utama:<\/p>\n\n\n\n<p>Karya Primer Roger Garaudy<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Roger Garaudy, Promesses de l\u2019Islam, Paris: Seuil, 1981.<\/li>\n\n\n\n<li>Roger Garaudy, Appel aux Vivants, Paris: Robert Laffont, 1979\u20131995.<\/li>\n\n\n\n<li>Roger Garaudy, L\u2019Islam Habit\u00e9, Paris: Seuil, 1987.<\/li>\n\n\n\n<li>Roger Garaudy, Le Communisme et la Morale, Paris: PUF, 1959.<\/li>\n\n\n\n<li>Roger Garaudy, Parole d\u2019Homme, Paris: Laffont, 1975.<\/li>\n\n\n\n<li>Roger Garaudy, Histoire des Civilisations, Paris: Bordas.<\/li>\n\n\n\n<li>Roger Garaudy, L\u2019Art de l&#8217;Islam, Paris: Descl\u00e9e de Brouwer.<\/li>\n\n\n\n<li>Roger Garaudy, Les Mythes fondateurs de la politique isra\u00e9lienne, 1996.<\/li>\n\n\n\n<li>Roger Garaudy, Danse du Feu: Dialogue avec Rumi, Paris: Seghers, 1990.<\/li>\n\n\n\n<li>Roger Garaudy, Dieu est Mort, Paris: Seuil, 1962.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Sumber Sekunder, Biografis, dan Kajian Tentang Garaudy<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Jean Daniel, L\u2019Itin\u00e9rance de la V\u00e9rit\u00e9: Entretiens autour de Roger Garaudy.<\/li>\n\n\n\n<li>Mohammed Arkoun, Lectures du Monde Arabe et Islamique.<\/li>\n\n\n\n<li>Louis Massignon, Opera Minora.<\/li>\n\n\n\n<li>Darius Shayegan, Les Illusions de l\u2019identit\u00e9.<\/li>\n\n\n\n<li>Henry Corbin, Histoire de la Philosophie Islamique.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Wallahu a&#8217;lam.<br>Sabtu, 22 Jumadil Akhiroh 1447.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manaqib edisi Desember 2025.Oleh Muhammad Irfan Zidny. Roger Garaudy lahir di Marseille pada 17 Juli 1913, di sebuah kota pelabuhan yang sejak lama menjadi persilangan bangsa-bangsa, tempat angin Afrika dan Eropa berpapasan, dan tempat Timur jauh terasa lebih dekat dari peta mana pun. Dari lingkungan pekerja yang sederhana, ia menyerap nilai keteguhan dan spiritualitas Kristen, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1578,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[],"class_list":["post-1577","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-manaqib"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Roger Garaudy: Ziarah Panjang Sang Pencari Cahaya. - Pondok Pesantren Qotrun Nada<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Roger Garaudy: Ziarah Panjang Sang Pencari Cahaya. - Pondok Pesantren Qotrun Nada\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Manaqib edisi Desember 2025.Oleh Muhammad Irfan Zidny. Roger Garaudy lahir di Marseille pada 17 Juli 1913, di sebuah kota pelabuhan yang sejak lama menjadi persilangan bangsa-bangsa, tempat angin Afrika dan Eropa berpapasan, dan tempat Timur jauh terasa lebih dekat dari peta mana pun. Dari lingkungan pekerja yang sederhana, ia menyerap nilai keteguhan dan spiritualitas Kristen, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Pondok Pesantren Qotrun Nada\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-12-15T03:07:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-12-15T03:11:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-22.33.07.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"260\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"173\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/\",\"url\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/\",\"name\":\"Roger Garaudy: Ziarah Panjang Sang Pencari Cahaya. - Pondok Pesantren Qotrun Nada\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-22.33.07.jpeg\",\"datePublished\":\"2025-12-15T03:07:21+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-15T03:11:52+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/b8ca3941165a2894608fcefe68584abe\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-22.33.07.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-22.33.07.jpeg\",\"width\":260,\"height\":173},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Roger Garaudy: Ziarah Panjang Sang Pencari Cahaya.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#website\",\"url\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/\",\"name\":\"Pondok Pesantren Qotrun Nada\",\"description\":\"Pondok Pesantren Qotrun Nada\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/b8ca3941165a2894608fcefe68584abe\",\"name\":\"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1a5f64753457878d280afeb3e2b878910adf5bf917b3e20d27f080055525abe6?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1a5f64753457878d280afeb3e2b878910adf5bf917b3e20d27f080055525abe6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN\"},\"url\":\"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/author\/media-publisher\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Roger Garaudy: Ziarah Panjang Sang Pencari Cahaya. - Pondok Pesantren Qotrun Nada","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Roger Garaudy: Ziarah Panjang Sang Pencari Cahaya. - Pondok Pesantren Qotrun Nada","og_description":"Manaqib edisi Desember 2025.Oleh Muhammad Irfan Zidny. Roger Garaudy lahir di Marseille pada 17 Juli 1913, di sebuah kota pelabuhan yang sejak lama menjadi persilangan bangsa-bangsa, tempat angin Afrika dan Eropa berpapasan, dan tempat Timur jauh terasa lebih dekat dari peta mana pun. Dari lingkungan pekerja yang sederhana, ia menyerap nilai keteguhan dan spiritualitas Kristen, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/","og_site_name":"Pondok Pesantren Qotrun Nada","article_published_time":"2025-12-15T03:07:21+00:00","article_modified_time":"2025-12-15T03:11:52+00:00","og_image":[{"width":260,"height":173,"url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-22.33.07.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/","url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/","name":"Roger Garaudy: Ziarah Panjang Sang Pencari Cahaya. - Pondok Pesantren Qotrun Nada","isPartOf":{"@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-22.33.07.jpeg","datePublished":"2025-12-15T03:07:21+00:00","dateModified":"2025-12-15T03:11:52+00:00","author":{"@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/b8ca3941165a2894608fcefe68584abe"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/#primaryimage","url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-22.33.07.jpeg","contentUrl":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-12-at-22.33.07.jpeg","width":260,"height":173},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/manaqib\/2025\/12\/roger-garaudy-ziarah-panjang-sang-pencari-cahaya\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Roger Garaudy: Ziarah Panjang Sang Pencari Cahaya."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#website","url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/","name":"Pondok Pesantren Qotrun Nada","description":"Pondok Pesantren Qotrun Nada","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/b8ca3941165a2894608fcefe68584abe","name":"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1a5f64753457878d280afeb3e2b878910adf5bf917b3e20d27f080055525abe6?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1a5f64753457878d280afeb3e2b878910adf5bf917b3e20d27f080055525abe6?s=96&d=mm&r=g","caption":"TIM REDAKSI JURNALIS PPQN"},"url":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/author\/media-publisher\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1577","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1577"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1577\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1584,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1577\/revisions\/1584"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1578"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1577"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1577"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/qotrunnada-depok.ponpes.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1577"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}