• PONDOK PESANTREN QOTRUN NADA
  • Berkhidmat Untuk Ummat

Trilogi Gerakan : Belajar, Berjuang dan Bertaqwa

Oleh: Ust Humaidi Mufa, M.Pd

Bagi kita yang pernah aktif dalam organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah Belajar, Berjuang dan Bertaqwa. Ya betul tiga kata singkat yang memiliki filosofi mendalam terkait garis perjuangan bagi pelajar NU tidak boleh lepas dari gerakan untuk senantiasa Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Dalam realitanya Trilogi ini ternyata juga dapat kita implementasikan dalam keseharian kita dibidang apapun. Tugas utama seorang manusia tentunya adalah belajar. Belajar mengandung makna berproses untuk merubah dari ketidaktahuan menjadi pengetahuan, merubah ketidakmampuan menjadi kemampuan dan merubah dari ketidakpahaman menjadi pemahaman. Jangan pernah menyepelekan belajar karena hakikatnya, belajar bukan hanya tugas pelajar saja namun setiap manusia memiliki tugas untuk terus belajar sepanjang hidupnya sebagai bentuk manifestasi dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam : "Tuntutlah Ilmu dari Buaian Hingga ke Liang Lahat". Dalam analisa lanjutan, bahwa dikarenakan kita semua terlahir dalam "ketidaktahuan" maka proses untuk mencari tahu adalah sebuah identitas kita sebagai seorang manusia. Buya KH. Burhanuddin Marzuki pernah mengatakan kurang lebih seperti ini "Manusia yang berhenti untuk belajar adalah manusia yang telah kehilangan jati dirinya (identitasnya)".

Selanjutnya dalam konteks kekinian, dinamika kehidupan dan kemajuan akan teknologi saat ini memaksa kita untuk terus berkejaran dengan kemampuan kita dalam beradaptasi untuk mengimbangi dan menjadi bagian dari sebuah perubahan. Perubahan baik dari sisi kehidupan maupun pendidikan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat kita hindari. Diam tertinggal atau lari untuk mengejar, mungkin itulah kalimat sederhana yang menggambarkan realita kita hari ini. Perubahan yang terjadi pada berbagai situasi memaksa kita untuk juga berubah dan mampu beradaptasi. Adapun cara yang paling ampuh untuk berubah adalah dengan terus belajar agar perubahan yang terjadi nantinya adalah perubahan yang baik dan terarah bukan asal berubah namun kita kehilangan marwah sebagai manusia. Perubahan yang disebabkan dengan belajar adalah sebuah konsekuensi dari proses yang baik maka akan berdampak pada hasil yang baik pula.

Selanjutnya adalah berjuang. Perjuangan juga menjadi bagian dari sebuah proses. Manusia yang berjuang adalah manusia yang sedang berproses. Tak perlu khawatir dengan hasil akhir, karena bagi seorang pejuang, berjuang adalah lebih dari sebuah hasil karena berjuang merupakan nilai luhur yang memiliki makna tanggung jawab kemanusiaan yang harus kita emban sebagai seorang manusia. Mahatma Gandi pernah berkata : "Ketika kita melangkah mungkin ada hasil mungkin juga tidak ada hasil, tetapi ketika kita tidak melangkah sudah pasti tidak ada hasil". Orang yang berjuang mungkin akan memenangi perjuangannya mungkin tidak tetapi ketika kita berhenti untuk berjuang maka sudah pasti kita tidak akan pernah memenangi apapun. Karena langkah pertama bagi seorang pemenang adalah berjuang.

Manusia adalah makhluk perjuangan. Kenapa demikian? karena setiap dari kita akan menempuh jalur perjuangannya masing-masing. Seorang ayah akan terus berjuang demi menafkahkan keluarganya. Seorang Ibu akan terus berjuang untuk membesarkan anak-anaknya. Seorang Guru akan berjuang untuk mendidik murid-muridnya. Seorang pegawai dan karyawan akan berjuang untuk menyelesaikan tugas dan kewajibannya. Seorang santri akan terus berjuang untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Semua akan berjuang dan terus berjuang sebagai konsekuensi logis dari peran sertanya menjadi manusia yang utuh dan bermartabat.

Bagian akhir dari Trilogi Gerakan diatas adalah Bertaqwa. Sebagai seorang muslim bagian akhir dari perjalanan spiritualnya adalah ketika kita mampu menjadi insan yang bertaqwa. Pribadi yang mampu untuk memanifestasikan kehidupannya agar dapat selalu menjalankan apa yang diperintahkan Sang Khaliq dan berusaha untuk selalu meninggalkan apa yang kemudian dilarang-Nya. Hal ini juga memiliki arti bahwa kita dipersilahkan untuk melakukan apa saja saat ini akan tetapi ada konsekuensi didalamnya yakni jangan sampai keluar dari definisi taqwa tersebut.

Sayyidina Ali Karramallahu Wajhahu pernah mengatakan bahwa "Kerjakanlah (apapun) untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan kerjakanlah (apapun) untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok". Pada kalimat pertama, kita dipersilahkan untuk menaruh cita-cita dan harapan yang tinggi agar kemudian memberikan stimulus berupa motivasi untuk terus melakukan kerja-kerja cerdas untuk kehidupan kita saat ini, akan tetapi pada kalimat kedua kita juga diingatkan agar dalam beribadah atau sesuatu yang memiliki kaitan dengan akhirat kita bahwa seakan-akan kita akan meninggalkan dunia ini secepatnya, sehingga terkandung maksud bahwa ketika kita beribadah seperti shalat misalnya, jadikan satu keyakinan bahwa bisa jadi shalat yang kita kerjakan saat ini adalah shalat terakhir kita. Sehingga akan muncul kesadaran dalam diri kita karena ini adalah shalat terakhir maka kita akan melakukannya dengan penuh kekhusyu'an dan ketawadhu'an dihadapan Allah. Inilah yang kemudian akan menjadi penguat kita dalam membentengi diri agar tetap tunduk dan patuh kepada Allah SWT.

Pada akhirnya kita dihadapkan pada pilihan untuk maukah kita berusaha untuk terus belajar (dari apapun), berjuang (demi apapun) dan bertaqwa (dengan cara apapun) atau tidak ? yang mana pilihan itu akan membawa kita pada kesadaran akan layakkah kita kemudian disebut seorang manusia ? dan layakkah kita disebut sebagai seorang hamba ?. (HM)

Tulisan Lainnya
ABOUT US

By: Jiddah Zainab Bicara "Tentang Kita" adalah pembicaraan tentang keseluruhan dari Cipta, proses perjalanan dan cita- cita dari setiap personel, baik unsur atau struktur, dari A sampa

06/07/2025 18:55 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 1317 kali
Tercatat dalam Sejarah: Antara Lupa dan Wafa’

Oleh: Humaidi Mufa Tidak semua yang membangun sejarah merasa penting untuk tercatat. Banyak tokoh besar dalam lintasan waktu yang berjalan tanpa pamrih, tanpa mencatat namanya sendiri

05/07/2025 17:34 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 901 kali
SAFINAH NAJA

Oleh:Jiddah Zainab (Tribute to Sang Kyai 140621 – 140625) Malam itu laut tenang, Langit ditemani bintang, Angin semilir sejuk menghantam ombak tanpa deburan, Semua rahasia menja

14/06/2025 16:08 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 1332 kali
MENAPAK JEJAK YANG TAK PERNAH HILANG

Refleksi Haul ke-4 Buya KH. Burhanuddin Marzuki  Oleh: Humaidi Mufa Empat tahun sudah dan masih kami ingat. Suaranya yang tenang, penuh kebijaksanaan, namun setiap katanya menusu

09/06/2025 08:53 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 1286 kali
Terdidik dalam situasi mendadak

By: Jiddah Zainab  Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Dan dengan kesempurnaanNya Allah menciptakan Rasulullah menjadi makhluq yang sempurna. Dan selain itu tak ada lagi makhluq y

02/06/2025 11:33 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 849 kali
TERUSLAH BERGERAK DAN JANGAN BERHENTI

Oleh: Humaidi Mufa Jika jatuh, bangunlah kembali. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita sedang belajar berdiri lebih kuat. Jika gagal, cobalah lagi. Karena kegagalan bukan akhir, m

06/05/2025 18:54 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 901 kali
KEMANA PENDIDIKAN KITA MELANGKAH ?

Oleh : Humaidi Mufa Pendidikan Indonesia lahir melalui semangat perjuangan. Ki Hajar Dewantara, Bapak pendidikan nasional, telah menanamkan nilai-nilai luhur bahwa pendidikan sejatinya

05/05/2025 19:58 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 638 kali
MAGICAL WORDS

By Halimah Sadiyah     Kita mungkin sering melihat dan membaca sebuah tulisan, atau mendengar sebuah kata yang bernyawa dari lisan orang-orang yang mampu memberikan dampak po

04/05/2025 07:51 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 717 kali
11 hari menjemput Surga

In Memoriam Koh Abun By: Jiddah Zainab Tak seorang pun yang tahu bagaimana cerita hidup yang akan di jalaninya. Dari mulai di lahirkan sang Bunda sampai akhir dari perjalanannya di d

30/04/2025 21:47 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 10306 kali
UPDATE AND UPGRADE

By: Jiddah Zainab  Kehidupan manusia akan selalu melalui poros nya. Dalam konteks keimanan, poros seorang mukmin adalah taqdir Allah.  Bagi kaum tertentu, taqdir Allah adalah

14/04/2025 22:14 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 942 kali