• PONDOK PESANTREN QOTRUN NADA
  • Berkhidmat Untuk Ummat

Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (1801–1873); Sang Revolusioner Pendidikan.

Manaqib edisi Maret 2025.
Oleh: Muhammad Irfan Zidny.

Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi adalah seorang pemikir, ulama, dan reformis asal Mesir yang dikenal sebagai pelopor modernisasi dalam dunia Islam, khususnya dalam bidang pendidikan, sosial, dan politik. Ia merupakan salah satu tokoh pertama yang mendorong keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan Barat tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Sebagai seorang akademisi lulusan Al-Azhar, al-Tahtawi memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. Namun, pengalaman studinya di Prancis membuka perspektif baru tentang modernitas, tata kelola pemerintahan, dan sistem pendidikan yang lebih maju. Sekembalinya ke Mesir, ia menjadi motor penggerak reformasi pendidikan dan penerjemahan karya-karya ilmu pengetahuan dari Prancis ke bahasa Arab. Melalui berbagai tulisannya, al-Tahtawi menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk mencapai kemajuan peradaban Islam. Ia juga memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, sesuatu yang sangat revolusioner pada zamannya.

Kehidupan awal dan pendidikan.

Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi lahir pada 15 Oktober 1801 di desa Tahta, Provinsi Sohag, Mesir Hulu. Nama belakangnya, "al-Tahtawi," diambil dari nama desanya. Ia berasal dari keluarga ulama dan memiliki garis keturunan yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad melalui cucunya, Husain bin Ali. Sejak kecil, al-Tahtawi dibesarkan dalam lingkungan yang religius dan dididik dalam ilmu-ilmu keislaman. Ayahnya, seorang ulama terkemuka, memberikan pendidikan dasar dalam Al-Qur’an, hadis, fiqih, dan bahasa Arab. Dari usia muda, ia menunjukkan kecerdasan yang luar biasa dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai disiplin ilmu. Pada usia 16 tahun, al-Tahtawi dikirim ke Universitas Al-Azhar di Kairo, yang merupakan pusat pendidikan Islam terbesar di dunia. Di sana, ia belajar di bawah bimbingan ulama besar, termasuk Syekh Hasan al-‘Attar, seorang pemikir yang memiliki pandangan reformis dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan modern. Di Al-Azhar, ia mendalami berbagai bidang ilmu, antara lain: Tafsir Al-Qur’an, Hadis, Fiqih Mazhab Syafi’i, Bahasa Arab klasik, Filsafat Islam, Ilmu kalam dan logika. Selain itu, ia juga mulai tertarik pada sejarah, geografi, dan ilmu pengetahuan umum. Pergaulannya dengan Syekh Hasan al-‘Attar sangat berpengaruh dalam membentuk pemikirannya tentang pentingnya reformasi pendidikan dan keterbukaan terhadap ilmu dari peradaban lain.

Perjalanan ke Prancis: Titik Balik Pemikiran

Pada tahun 1826, penguasa Mesir Muhammad Ali Pasha mengirim sekelompok mahasiswa ke Prancis untuk mempelajari ilmu pengetahuan modern. Al-Tahtawi ditunjuk sebagai imam dan pembimbing spiritual bagi para mahasiswa ini. Setibanya di Prancis, al-Tahtawi mengalami kejutan budaya. Ia menemukan masyarakat yang sangat berbeda dari yang ia kenal di Mesir. Namun, ia tidak menutup diri dan mulai belajar bahasa Prancis serta membaca berbagai buku tentang filsafat, hukum, sains, dan ilmu sosial.


Beberapa hal yang ia pelajari selama lima tahun di Prancis:

1. Pemerintahan berbasis hukum → Ia mengagumi sistem hukum Prancis yang adil dan transparan.
2. Pendidikan yang sistematis → Ia melihat bagaimana sistem pendidikan modern menciptakan masyarakat yang lebih maju.
3. Kebebasan akademik dan ilmiah → Ia menyadari pentingnya kebebasan berpikir dalam kemajuan peradaban.

Ia menyimpulkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern dan bahwa dunia Islam harus mengadopsi metode pendidikan yang lebih maju tanpa kehilangan nilai-nilai agamanya.

Kembali ke Mesir: Reformasi Pendidikan dan Pemikiran

Setelah kembali ke Mesir pada tahun 1831, al-Tahtawi mulai menerapkan gagasannya dalam berbagai bidang.
Beberapa karya intelektual al-Tahtawi yang paling berpengaruh adalah:

1. "Takhlis al-Ibriz fi Talkhis Paris" (1834). Buku ini berisi pengamatannya tentang Prancis, termasuk sistem pemerintahan, pendidikan, dan budaya. Ia menekankan bahwa umat Islam harus belajar dari peradaban lain untuk mencapai kemajuan.
2. "Manahij al-Albab al-Misriyyah fi Mabahij al-Adab al-‘Asriyyah". Buku ini membahas sistem pendidikan ideal yang menggabungkan ilmu agama dan ilmu modern.
3. "Al-Murshid al-Amin li al-Banat wa al-Banin". Buku ini menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan, sebuah gagasan yang sangat revolusioner pada zamannya.
4. Terjemahan Karya-Karya Ilmiah. Al-Tahtawi menerjemahkan banyak buku dari Prancis ke dalam bahasa Arab, sehingga membuka wawasan masyarakat Muslim terhadap ilmu pengetahuan modern.

Nilai-Nilai Kehidupan yang Bisa Diteladani:

1. Cinta Ilmu dan Pendidikan. Al-Tahtawi mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Ia percaya bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan umat Islam.
2. Keseimbangan Tradisi dan Modernitas. Ia menunjukkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan modernisasi. Ia mengambil yang terbaik dari peradaban Barat tanpa kehilangan nilai-nilai Islam.
3. Keterbukaan terhadap Ilmu Pengetahuan Baru. Ia belajar dari peradaban lain dan menerapkannya untuk kemajuan dunia Islam.
4. Pendidikan untuk Semua, Termasuk Perempuan. Ia adalah salah satu ulama pertama yang memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan.
5. Keadilan Sosial dan Pemerintahan yang Baik. Ia mengagumi sistem hukum yang adil dan menekankan pentingnya keadilan dalam Islam.

Akhir Hayat dan Warisan

Pada tahun 1873, Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi meninggal dunia. Namun, pemikirannya terus menginspirasi generasi Muslim berikutnya. Reformis seperti Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani banyak dipengaruhi oleh gagasan-gagasannya. Melalui dedikasinya, al-Tahtawi membuktikan bahwa integrasi antara Islam dan ilmu pengetahuan modern adalah kunci kemajuan peradaban.

Referensi:

1. Albert Hourani, Arabic Thought in the Liberal Age
2. P.J. Vatikiotis, The History of Modern Egypt
3. Charles Tripp, The Power and the People
4. Rifa’ah al-Tahtawi, Takhlis al-Ibriz fi Talkhis Paris
5. Malcolm H. Kerr, Islamic Reform: The Political and Legal Theories of Muhammad Abduh and Rashid Rida
6. Wikipedia (id, en, ms)
7. Afkaruna.id, Rifa’ah Tahtawi: Sang Pejuang Pendidikan untuk Perempuan

Wallahu a'lam.

Tulisan Lainnya
H.O.S. Tjokroaminoto; Guru Para Pemimpin, Sang Raja Tanpa Mahkota.

Manaqib edisi Juni 2025.Oleh: Muhammad Irfan Zidny. Dalam lorong waktu sejarah Indonesia, ada satu nama yang disegani kawan dan lawan, yang dikenang bukan karena harta atau kuasa, tapi

04/06/2025 11:20 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 420 kali
Mohammad Natsir: Pelita Yang Tak Pernah Padam.

Manaqib edisi Mei 2025.Oleh: Muhammad Irfan Zidny. Di kaki pegunungan Alahan Panjang, Sumatera Barat, angin pagi yang lembut menyapa sebuah rumah sederhana. Di sinilah, pada 17 Juli 19

31/05/2025 16:38 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 366 kali
Ismail dan Yahya; Pemimpin Para Syuhada'.

Manaqib edisi April 2025.Oleh: Muhammad Irfan Zidny. Pendahuluan: Api Perlawanan yang Tak Pernah Padam Dalam sejarah bangsa Palestina, terdapat dua nama yang menggema sebagai simbol k

11/04/2025 13:39 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 443 kali
Fatimah Al-Fihri; Wanita Pendiri Universitas Pertama Di Dunia.

Manaqib Edisi Desember 2024.Oleh: Muhammad Irfan Zidny. Fathimah binti Muhammad Al Fihriyah Al Qurosyiyah (w. 266 H/878 M); Fatimah al-Fihri, nama yang hampir terlupa dalam dunia pendi

28/12/2024 22:49 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 2898 kali
Pahlawan Pendidikan Islam; Prof. DR. Hj. Zakiah Daradjat.

Manaqib edisi November 2024. Oleh: Muhammad Irfan Zidny. Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat (6 November 1929 – 15 Januari 2013) adalah pakar psikologi Islam Indonesia. Berkarier di D

13/11/2024 18:19 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 1125 kali
The Clever Man; Grand Imam Muhammad Mustafa Al Maraghi.

Manaqib edisi Oktober 2024.Oleh: Muhammad Irfan Zidny. Muhammad Mustafa Al-Maraghi (1881 - 1945 adalah seorang ulama Azhar dan hakim Syariah Mesir. Ia menjabat sebagai Syekh Al-Azhar d

01/10/2024 20:55 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 1609 kali
BUNG TOMO ; SANG SYUHADA PADANG ARAFAH

Manaqib edisi Agustus 2024.Oleh Muhammad Irfan Zidny Sutomo (3 Oktober 1920 – 7 Oktober 1981) atau lebih dikenal dengan sapaan akrab Bung Tomo adalah pahlawan nasional Indonesia

03/08/2024 07:25 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 2667 kali
OBITUARI SYEKH AL - MUQRI DR. ALI MUHAMMAD TAUFIQ AN - NAHHAS

Manaqib edisi Mei 2024.Oleh Muhammad Irfan Zidny, Lc. Beliau bernama Ali bin Muhammad Taufiq bin Ali bin Musthofa bin Ali An-Nahhas. Dilahirkan di kota Faraskur provinsi Dimyath pada 9

17/05/2024 09:40 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 1680 kali
MANAQIB SEPULUH IMAM QIRAAT (1)

Manaqib edisi April 2024.Oleh Muhammad Irfan Zidny, Lc Ramadhan adalah bulan Al Qur'an diturunkan pertama kali. Selanjutnya selama kurang lebih 23 tahun Al Quran sebagai firman Allah d

04/04/2024 19:01 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 3202 kali
KH AGUS SALIM: THE GRAND OLD MAN

Manaqib Edisi Februari 2024   Kiai Haji Agus Salim merupakan salah satu intelektual Islam sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia. Nama aslinya adalah Mashadul Haq yang berarti p

02/03/2024 11:19 - Oleh TIM REDAKSI JURNALIS PPQN - Dilihat 22148 kali