MEMBANGUN BERSAMA ATAU …. ?
Oleh : Humaidi Mufa
"مَتى يَبلُغُ البُنيانُ يَوماً تَمامَهُ، إِذا كُنتَ تَبنيهِ وَغَيرُكَ يَهدِمُ} "صَالِحُ بْنُ عَبْدِ القُدُّوس}
“Kapan bangunan itu akan selesai, jika engkau membangunnya sementara orang lain menghancurkannya?”
Maqolah Arab ini bukan sekadar untaian kata indah, tetapi juga pancaran hikmah yang dalam. Ia menggambarkan realitas hidup yang acap kali kita temui, terutama dalam konteks kerja kolektif (Collective Collegial) dan perjuangan bersama. Setiap upaya pembangunan, baik fisik maupun spiritual, tidak akan pernah mencapai kesempurnaan jika di saat yang sama ada pihak lain yang justru meruntuhkannya. Maqolah ini mengajak kita untuk merenung, apakah kita termasuk yang membangun, atau justru yang merusak?
Dalam kehidupan sosial, kita sering menemui ironi semacam ini. Sebuah organisasi yang ingin maju, tetapi internalnya penuh konflik. Sebuah bangsa yang ingin sejahtera, namun sebagian anak bangsanya sibuk menyebar fitnah, korupsi, dan perpecahan. Sebuah lembaga pendidikan yang bertekad mencerdaskan generasi, namun tak sedikit yang hanya mencari keuntungan pribadi. Maka pertanyaannya relevan, bagaimana bangunan itu akan selesai jika satu pihak membangun, namun pihak lain menghancurkan?
Maqolah ini juga menyentil tentang pentingnya sinergi dan kesatuan visi dalam setiap proyek kehidupan. Seberat apa pun beban kerja, jika dipikul bersama akan terasa ringan. Namun sebaliknya, sekecil apa pun upaya, jika dirusak dari dalam, akan sia-sia. Ini bukan hanya persoalan fisik, tetapi persoalan mental kolektif. Dibutuhkan kesadaran bersama bahwa keberhasilan adalah hasil dari kolaborasi, bukan kompetisi yang saling menjatuhkan.
Lebih jauh, Maqolah ini bisa dimaknai dalam ranah spiritual. Betapa banyak orang yang ingin membangun jiwanya, ingin menjadi insan shaleh, namun di saat yang sama lalai terhadap lingkungan yang merusaknya, baik lingkungan pergaulan, informasi, maupun kebiasaan. Maka pembangunan diri atau sumber daya manusia pun akan terus terbengkalai jika tak disertai penjagaan dari kemungkinan faktor perusak.
Kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan sumber masalah. Menjadi ‘’tukang bangunan’’, bukan perusak bangunan, yang akan terus membangun tanpa henti. Dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam bangsa, bahkan dalam kehidupan pribadi. Kesuksesan hanya akan dicapai jika semua unsur berkontribusi untuk membangun, bukan menghancurkan. (HM)
Tulisan Lainnya
ABOUT US
By: Jiddah Zainab Bicara "Tentang Kita" adalah pembicaraan tentang keseluruhan dari Cipta, proses perjalanan dan cita- cita dari setiap personel, baik unsur atau struktur, dari A sampa
Tercatat dalam Sejarah: Antara Lupa dan Wafa’
Oleh: Humaidi Mufa Tidak semua yang membangun sejarah merasa penting untuk tercatat. Banyak tokoh besar dalam lintasan waktu yang berjalan tanpa pamrih, tanpa mencatat namanya sendiri
SAFINAH NAJA
Oleh:Jiddah Zainab (Tribute to Sang Kyai 140621 – 140625) Malam itu laut tenang, Langit ditemani bintang, Angin semilir sejuk menghantam ombak tanpa deburan, Semua rahasia menja
MENAPAK JEJAK YANG TAK PERNAH HILANG
Refleksi Haul ke-4 Buya KH. Burhanuddin Marzuki Oleh: Humaidi Mufa Empat tahun sudah dan masih kami ingat. Suaranya yang tenang, penuh kebijaksanaan, namun setiap katanya menusu
Terdidik dalam situasi mendadak
By: Jiddah Zainab Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Dan dengan kesempurnaanNya Allah menciptakan Rasulullah menjadi makhluq yang sempurna. Dan selain itu tak ada lagi makhluq y
TERUSLAH BERGERAK DAN JANGAN BERHENTI
Oleh: Humaidi Mufa Jika jatuh, bangunlah kembali. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita sedang belajar berdiri lebih kuat. Jika gagal, cobalah lagi. Karena kegagalan bukan akhir, m
KEMANA PENDIDIKAN KITA MELANGKAH ?
Oleh : Humaidi Mufa Pendidikan Indonesia lahir melalui semangat perjuangan. Ki Hajar Dewantara, Bapak pendidikan nasional, telah menanamkan nilai-nilai luhur bahwa pendidikan sejatinya
MAGICAL WORDS
By Halimah Sadiyah Kita mungkin sering melihat dan membaca sebuah tulisan, atau mendengar sebuah kata yang bernyawa dari lisan orang-orang yang mampu memberikan dampak po
11 hari menjemput Surga
In Memoriam Koh Abun By: Jiddah Zainab Tak seorang pun yang tahu bagaimana cerita hidup yang akan di jalaninya. Dari mulai di lahirkan sang Bunda sampai akhir dari perjalanannya di d
UPDATE AND UPGRADE
By: Jiddah Zainab Kehidupan manusia akan selalu melalui poros nya. Dalam konteks keimanan, poros seorang mukmin adalah taqdir Allah. Bagi kaum tertentu, taqdir Allah adalah