INVESTASI AKHIRAT

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X

By: Jiddah Zainab

Senja di lirboyo hari ini mengingatkanku pada senja di Lirboyo 15 tahun silam saat undur diri pamit pada si sulung yang kami titipkan di salah satu Pesantren terbesar di Pulau jawa, tepatnya di Kota kediri, Jawa Timur.

Perasaan kami dulu sangat mengharu biru saat harus melepas nya belajar mandiri di usianya yg baru 10 tahun lebih di tempat yang berjarak ratusan kilo meter dari tempat tinggal kami.

Seluruh rasa jiwa berkecamuk di dada kami, sebagai orang tua… karena sejatinya, setiap orang tua selalu ingin berdekatan dengan anaknya sehingga bisa melihat langsung proses tumbuh kembang anaknya.

Rasa hati kami hampir sama saat moment moment yang sama saat kami menitip kan anak kedua, ketiga dan keempat di pesantren yang berbeda atau bahkan mengantar mereka ke bandara untuk melanjutkan pendidikannya, di waktu yang berbeda, tapi rasa di hati kami tetap sama.

Subhanallah… Allah menciptakan cinta dan sayang sama, di moment sama terhadap tempat dan anak yang berbeda.  Demikianlah, cinta dan sayang orang tua akan tetap ada disepanjang kehidupan anak anaknya.

Kita mempelajari ayat Al Qur an yang menyebutkan bahwa harta dan anak adalah Fitnah. Arti fitnah tidak seharusnya selalu di asumsikan negatif. Kita dapat  memaknai kata fitnah disini dengan makna posisif yaitu inventasi akhirat.

Kita bisa memaknai harta dan  anak keturunan yang kita miliki adalah invenstasi akhirat bagi kita. Jika kita mampu menggunakan  dan mengatur harta kita dengan baik demi kebaikan dan keberlangsungan agama, maka  anak keturunan dan harta titipan tuhan akan menjadi investasi akhirat yang baik.

Investasi adalah salah satu cara kita menanam saham untuk mendapatkan keuntungan berlipat dimasa mendatang.

Kalau yang diinvenstasikan adalah materi, maka materi pula yang akan di petik sebagai keuntungan sebuah investasi

Namun,  investasi pendidikan  menyatukan investasi finansial dan investasi sumber daya manusia  yang di petik dalam bentuk generasi penerus  yang kuat, baik secara mental dan spiritual demi masa depan manusia secara keseluruhan.

Jika ada orang tua yang berani melepas anaknya tinggal berjauhan demi pendidikan, bukan berarti orang tua itu tega dan benci hingga tidak menginginkan nya  tinggal bersama di rumah.

Orang tua yang mengambil keputusan untuk melepaskan anak keluar rumah demi pendidikan pasti mem butuhkan banyak effort baik dari sisi finansial atau sisi mental spiritual saat mulai melepaskan anak belajar mandiri di pesantren atau ruang baru di luar rumah sebagai ekosistem baru bagi anak yang mulai tumbuh dan berkembang menuju usia remaja , bahkan mungkin sampai usia mereka menjadi  dewasa,

Ekosistem baru memaksa mereka untuk belajar berbaur dengan komunitas yang ada sebagai proses pembelajaran kehidupan anak  sebelum mereka terjun langsung berbaur dengan lingkungan masyarakat nya di masa depan.

Salah satu hambatan proses ini adalah mind set  yang mengatakan bahwa orang tua yang memgizinkan anaknya untuk melanjutkan pendidikan dengan memutuskan hidup di sekolah berasrama atau keluar negri adalah orang tua yang tega membuang anaknya dari rumah. Atau Mind set  orang yang mengatakan ,makan atau tidak makan lebih baik berkumpul bersama keluarga di rumah.

Pada situasi ini kekuatan mental orang tua dan anak di uji , apakah akan tetap istiqomah atau mungkin bisa berbalik arah dengan membawa anak kembali ke rumah.

Alangkah indahnya, jika semua  orang tua mampu mendidik nya dengan baik dan sempurna  melalui pendidikan yang dilakukan di dalam rumah.

Tapi ada banyak juga orang tua yang merasa membutuhkan bantuan orang lain dalam mendidik anak anaknya karna beberapa alasan.

Niat yang baik harus menjadi pondasi kokoh orang tua saat mulai melepas anaknya menuju ruang baru tanpa pengawasan  langsung secara fisik dengan orang tuanya. Kalau niat awal nya salah maka pasti akan berimbas dengan output yang jauh dari apa yang di harapkan dari proses pembelajaran hidup yang akan di jalani anak anaknya.

Effort mental dan spiritual juga harus selalu dijaga untuk selalu berada di titik edar yang tidak jauh dari kata istiqomah walaupun ada kondisi naik turun dari perasaan   baik dari sisi anak atau sisi orang tua terhadap peristiwa peristiwa yang bakal di hadapi sepanjang hidup anak dan orang tua.

Banyak ujian ujian hidup yang bakal di hadapi orang tua yang berimbas kepada anak ataupun sebaliknya akan ada ujian ujian hidup yang di hadapi oleh anak yang juga berimbas kepada orang tuanya.

Jika pendidikan agama  di tanamkan dengan baik oleh orang tua kepada anak ,maka  anak akan mampu menghadapi problematika hidupnya dengan baik tanpa mempersulit hidup orang tuanya.

Anak anak yang terdidik  dengan norma norma agama dan diajarkan untuk belajar mandiri sejak usia menginjak akil baligh akan memiliki mental yang kuat untuk mengambil solusi dari permasalahan hidupnya, tanpa melupakan dukungan spiritual  dari Tuhan melalui doa yang di ucapkan sendiri dan doa yang di lantunkan orang tua di sepertiga malam saat bermunajat dengan Tuhannya.

Dukungan finansial juga bisa menjadi salah satu effort dari orang tua yang menginginkan hasil baik dari tumbuh kembamg anaknya di ruang belajar baru bagi pembelajaran hidup anaknya.

Orang tua akan selalu  berusaha untuk mensupport anaknya secara finansial untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Semua akan di upayakan oleh orang tua walau harus ada penambahan besar pada  anggaran rumah tangga yang pasti tidak akan menguntungkan dari sisi ekonomi.

Jika anak  berangkat sekolah dan kembali kerumah setiap hari dan beraktifitas di rumah, maka banyak anggaran rumah tangga yang bisa di minimalisir untuk di pergunakan secara bersama sama.

Namun demikian, hal itu tidak akan menyurut kan niat dan  langkah dari orang tua yang menginginkan masa depan yang baik untuk anaknya.

Pada saat anak sudah mulai melangkah keluar rumah, support finansial, mental   spiritual adalah bekal yang akan memupuk jiwa anak untuk dapat melangkah di garis taqdir hidupnya

Seperti hal nya sebuah investasi, akan ada resiko resiko yang bakal di hadapi seorang investor.

Begitu pula dengan perjalanan kehidupan anak, apalagi jika mereka beraktifitas di tempat yang berbeda bahkan jauh dari jangkauan fisik dari orang tua nya.

Resiko investasi akhirat bisa berupa ujian mental, ujian spiritual atau pun kendala perekonomian dan ujian hidup yang bisa mengganggu situasi kondisi dari keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak.

Resiko resiko tersebut bisa di minimalisir dengan usaha yang berkesinambungan  melalui ikhtiyar fisik, doa bahkan bersedekah atas nama anak sebagai upaya penolak bala saat anaknya menghadapi ujian hidup dalam taqdirnya.

cinta dan sayang orang tua kepada anak tidak harus selalu dalam bentuk kebersamaan fisik disetiap detik dalam kehidupan.

cinta dan sayang orang tua terpendam dalam doa doa lirih yang selalu di lantunkan dalam diam.

Orang tua akan selalu memiliki rindu, sayang dan cinta yang kuat walaupun tidak mampu membersamai langkah hidup anak anaknya secara fisik.

Keberadaan orang tua sebagai support system dengan memberikan bekal hidup berupa pendidikan agama dan lingkungan yang baik, sehingga anak bisa   tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang beretika dan memiliki etos kerja yang baik, merupakan bentuk konkrit dari cinta sejati orang tua kepada anaknya.

Narasi tadi mungkin belum bisa di fahami sebagian besar anak anak kita, sampai mereka ada di posisi menjadi orang tua bagi anaknya kelak.

Orang tua yang selalu mensupport anak nya dalam pendidikan berarti telah menginvestasikan saham taqdirnya untuk investasi akhirat. Orang tua menginginkan pendidikan terbaik (mental dan spiritual) bagi anaknya  demi kemandirian anak dalam menghadapi hidup nya sebagai bekal di masa depan. Karna orang tua tidak semua mampu mendampingi anaknya sampai mereka dewasa. Adakala nya orang tua sudah wafat sebelum menyiapkan kehidupan yang layak untuk anaknya, tetapi ilmu dan taqwa akan menjadi warisan terbaik dari orang tua kepada anak-anaknya. Imam Syafi’i berkata:

حياة الفتى والله بالعلم والتقى # اذ لم يكونا لاعتبارا لذاته

Demi Allah, seorang pemuda mampu hidup dengan baik bersama ilmu dan ketaqwaannya # Dan jika ilmu dan ketaqwaan nya tidak di miliki maka keberadaanya tidak akan diperhitungkan oleh orang lain

Bekalilah anak anak kita dengan ilmu dan taqwa (akhlaq yang baik) karna dengan mengaplikasikan ilmu dan taqwa dalam kehidupan nya, anak itu akan mampu bermuamalah dengan siapapun dalam hidupnya.

Jika kita tidak mempersiapkan hidup anak dengan lingkungan yang baik, tidak dididik dengan pendidikan agama yang baik dan tidak di beri sandang pangan papan dengan harta yang halal dan toyyib,  maka kondisi ini bisa menjadikannya investasi bodong. Harta dan anak yang tidak di investasikan di tempat yang baik bahkan akan menyebabkan kerugian fatal, baik kerugian mental spiritual dan finansial di masa depan anak nya dan dimasa tua orang tua nya baik di dunia ataupun di akhirat.

خسر الدنيا والاخرة

NAS ALUKAL ‘AFIAH WAL ‘IYAADZU BILLAH

Kediri,  Lirboyo, 12 Februari 2026/  23 sya’ban 1447 H.

HBD, Sanah Helwah dalam doa dan cinta untuk Seseorang yang berada jauh ribuan kilometer di ujung  Benua. Afrika…

Semoga panjang umur dalam sehat afiat dan selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah dan Rasulullah…aamiin (Kamis 5 Maret 2026)

2 Responses

  1. Terima kasih Umi, tulisan-tulisan Umi amat sangat menginspirasi.
    Semoga Umi senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, keberkahan, serta senantiasa berada dalam rida dan naungan Allah yang Maha Rahman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *