KATA PENGANTAR BUKU PENGEMBANGAN AKIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH (Karya DR. Sayyid Hasan bin Ali As- Saqqaf) Edisi Terjemah Indonesia.

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X

Kajian edisi Safar 1448H.
Oleh Muhammad Irfan Zidny.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم، أما بعد…

Tidak ada persoalan yang lebih mendasar dalam kehidupan manusia selain persoalan ilmu. Sebab seluruh keyakinan, cara berpikir, sikap, dan tindakan pada akhirnya dibangun di atas apa yang dianggap sebagai pengetahuan yang benar. Oleh karena itu, pertanyaan pertama yang harus dijawab bukanlah apa yang diketahui, melainkan bagaimana kebenaran itu diketahui. Dari jawaban atas pertanyaan inilah lahir seluruh bangunan pemikiran, kebudayaan, dan peradaban. Ketika jalan memperoleh ilmu benar, pengetahuan akan melahirkan keyakinan yang lurus; sebaliknya, ketika metodologi memperoleh ilmu mengalami penyimpangan, penyimpangan itu tidak berhenti pada satu kesimpulan, tetapi menjalar kepada seluruh cara manusia memandang agama, manusia, dan kehidupan.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak dipahami sebagai sekadar akumulasi informasi atau keluasan bacaan. Ilmu adalah pengetahuan yang dibangun di atas sumber yang sahih, dipahami melalui metodologi yang benar, serta dipertanggungjawabkan dengan amanah ilmiah. Karena itu, para ulama tidak hanya mewariskan pendapat, tetapi juga mewariskan manhaj; tidak hanya menjelaskan kesimpulan, tetapi juga menunjukkan jalan yang mengantarkan kepada kesimpulan tersebut. Inilah yang membedakan tradisi keilmuan Islam dari sekadar tradisi informasi.

Di antara seluruh disiplin ilmu Islam, akidah menempati kedudukan yang paling asasi. Ia bukan sekadar pembahasan tentang perkara-perkara yang wajib diimani, melainkan fondasi yang menentukan arah seluruh bangunan agama. Benarnya ibadah, lurusnya akhlak, dan sehatnya cara berpikir bergantung pada benarnya akidah. Karena itu, para ulama Ahlussunnah wal Jamaah membangun akidah di atas keseimbangan antara wahyu yang otoritatif, akal yang proporsional, bahasa yang presisi, dan metodologi istidlal yang tertib. Keseimbangan inilah yang menjaga kemurnian ajaran Islam sepanjang sejarah.

Realitas zaman menunjukkan bahwa tantangan terbesar umat Islam bukanlah berkurangnya dalil, melainkan melemahnya metodologi dalam memahami dalil. Kemudahan memperoleh informasi sering kali tidak diiringi dengan kedisiplinan berpikir. Tidak sedikit orang mendahulukan kesimpulan sebelum memahami definisi, memilih dalil tanpa menghimpun keseluruhan dalil yang berkaitan, atau menilai pendapat para ulama tanpa memahami kaidah yang melandasi istidlal mereka. Akibatnya, persoalan yang sesungguhnya bersifat metodologis berubah menjadi perdebatan yang tidak pernah mencapai akar masalah.

Karena itu, setiap pembahasan akidah memerlukan mīzān al-‘ilm—neraca ilmu—agar keyakinan tidak dibangun di atas prasangka, melainkan di atas hujjah. Neraca tersebut sekurang-kurangnya bertumpu pada empat hal: kesahihan dalil, sehingga yang dijadikan landasan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan; ketepatan pemahaman, sehingga nash dipahami sesuai dengan petunjuk bahasa, konteks, dan penjelasan para ulama; konsistensi metodologi, sehingga proses istidlal tidak berubah mengikuti kecenderungan pribadi; serta amanah ilmiah, yaitu keberanian menerima kebenaran sekalipun tidak sejalan dengan pendapat yang telah diyakini sebelumnya. Selama empat neraca ini dijaga, perbedaan akan tetap berada dalam koridor ilmu; namun ketika salah satunya diabaikan, penyimpangan pemikiran mudah menemukan jalannya.

Dari perspektif inilah buku Pengembangan Akidah Ahlussunnah wal Jamaah karya Dr. Sayyid Hasan bin Ali As-Saqqaf, yang diterjemahkan dengan baik oleh Ustadz Ibnu Ubaidillah Syihab, M.Pd., menemukan relevansinya. Buku ini tidak hanya menghadirkan uraian mengenai pokok-pokok akidah Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga mengembalikan pembaca kepada tradisi keilmuan yang menjadikan dalil sebagai dasar, metodologi sebagai penuntun, dan adab ilmiah sebagai penjaga. Dengan demikian, pembaca tidak sekadar diajak mengetahui apa yang diyakini, tetapi juga memahami mengapa keyakinan itu ditetapkan dan bagaimana para ulama sampai kepada penetapan tersebut.

Oleh sebab itu, buku ini sebaiknya dibaca sebagaimana para ulama membaca ilmu. Mulailah dengan memahami istilah sebelum menilai kesimpulan. Ikutilah alur argumentasi sebelum menerima atau menolak suatu pendapat. Bedakan antara nash, pemahaman terhadap nash, dan proses istidlal atas nash. Timbanglah setiap pembahasan dengan kaidah-kaidah ilmu, bukan dengan kecenderungan pribadi. Dengan cara demikian, membaca tidak lagi menjadi aktivitas mengumpulkan informasi, melainkan proses membangun cara berpikir yang benar.

Pada akhirnya, hakikat pengembangan akidah bukanlah memperbanyak materi yang dipelajari ataupun memperluas ruang perdebatan. Hakikatnya adalah mematangkan manhaj berpikir agar keyakinan senantiasa dibangun di atas wahyu, dipahami melalui metodologi yang lurus, dan dijaga oleh adab ilmiah yang diwariskan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Sebab ilmu yang benar akan melahirkan keyakinan yang benar; keyakinan yang benar akan melahirkan amal yang benar; dan amal yang benar, dengan izin Allah, akan melahirkan peradaban yang benar.

Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjadikan buku ini sebagai wasilah untuk memperteguh keimanan, menjernihkan cara berpikir, menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam yang otentik, serta melahirkan generasi yang menghormati dalil, memuliakan ilmu, dan rendah hati di hadapan kebenaran.

والله أعلم بالصواب

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

8 Safar 1448 H

Muhammad Irfan Zidny
Khadim Pondok Pesantren Qotrun Nada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *