REFLEKSI 30 TAHUN QOTRUN NADA : “JANGAN BIARKAN EMBUN ITU MENGERING”

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X

Oleh : Humaidi Mufa

Tiga puluh tahun kini telah berlalu. Waktu terus berjalan membawa banyak perubahan dalam perjalanan Qotrun Nada. Bangunan yang dahulu sederhana kini telah tumbuh berkembang, ruang-ruang kelas semakin ramai, santri datang silih berganti, guru-guru mengabdikan diri, dan generasi demi generasi tumbuh di dalamnya. Ada wajah-wajah yang dahulu begitu akrab, kini hanya tinggal dalam ingatan. Ada suara-suara guru yang dahulu setiap hari kita dengar, kini hanya bisa kita kenang. Ada orang-orang yang pernah berjuang bersama, tetapi telah lebih dahulu kembali kepada Allah. Namun di tengah semua perubahan itu, ada sesuatu yang semoga tidak akan pernah berubah, yakni ruh Qotrun Nada, ruh yang memiliki esensi belajar, berkhidmat, dan terus menebar manfaat.

Jika hari ini kita melihat Qotrun Nada berdiri dengan segala yang dimilikinya, jangan pernah mengira bahwa semua ini hadir dengan sendirinya. Di balik setiap bangunan ada keringat yang pernah jatuh. Di balik setiap ilmu ada guru yang pernah mengajarkan. Di balik setiap keberhasilan ada doa yang tidak pernah kita dengar. Dan di balik setiap langkah yang kita tempuh hari ini, ada orang-orang yang dahulu berjalan lebih jauh, berjuang lebih keras, dan bertahan lebih lama agar kita dapat melanjutkan perjalanan ini. Mereka mungkin tidak lagi berada di samping kita, tetapi jejak mereka masih ada di setiap sudut tempat ini. Nama mereka mungkin tidak selalu disebut, tetapi jasa mereka hidup dalam ilmu yang terus diajarkan, dalam adab yang terus dijaga, dan dalam kebaikan yang terus mengalir dari Qotrun Nada.

Kepada mereka yang dahulu menanam, kami hanya dapat mengucapkan terima kasih. Kepada mereka yang merawat dengan kesabaran, terima kasih. Kepada mereka yang mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan sebagian besar hidupnya untuk pesantren ini, terima kasih. Dan kepada mereka yang telah lebih dahulu menghadap Allah, semoga setiap ayat dan ilmu  yang pernah diajarkan menjadi cahaya, setiap nasihat menjadi pahala, setiap langkah menjadi amal, dan setiap pengorbanan menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir. Karena mungkin mereka tidak sempat melihat sejauh apa Qotrun Nada akan tumbuh, tetapi hari ini kita sedang berdiri di atas benih yang mereka tanam dengan doa dan keikhlasan.

Kepada para santri yang hari ini masih mengenakan seragam, masih membawa kitab, masih berlari menuju kelas dan masjid, mungkin kalian belum menyadari bahwa suatu hari nanti kalian juga akan menjadi bagian dari cerita masa lalu Qotrun Nada. Suatu saat kalian akan pergi. Kalian akan menjadi guru, orang tua, pemimpin, profesional, atau apa pun yang Allah takdirkan. Kalian mungkin akan tinggal jauh dari tempat ini dan jarang kembali. Tetapi percayalah, ada bagian dari diri kalian yang akan selalu tertinggal di sini, dan ada bagian dari Qotrun Nada yang akan selalu kalian bawa ke mana pun kalian pergi. Kelak, ketika kalian kembali setelah bertahun-tahun, mungkin bangunannya telah berubah, wajah-wajahnya telah berganti, dan suasananya tidak lagi sama. Tetapi semoga ketika mendengar suara Al-Qur’an, suara adzan, suara guru membuka kitab, atau melihat anak-anak berjalan menuju masjid, hati kalian kembali berkata, “Di sinilah saya pernah belajar. Di sinilah saya pernah tumbuh. Di sinilah saya pernah ditempa menjadi manusia.”

Oleh Karena itu, Jangan hanya bertanya apa yang telah Qotrun Nada berikan kepada kita. Tanyakan pula apa yang sudah kita berikan kepada Qotrun Nada.  Jangan hanya mewarisi namanya, tetapi warisilah semangatnya. Jangan hanya mengenang sejarahnya, tetapi lanjutkan perjuangannya.  Jangan hanya bangga pernah menjadi bagian darinya, tetapi jadilah bagian yang membuatnya terus berharga. Sebab pada akhirnya, pesantren tidak diukur hanya dari seberapa besar bangunannya, seberapa banyak santrinya, atau seberapa banyak prestasinya. Pesantren akan dikenang dari seberapa banyak ilmu yang diwariskan, seberapa banyak adab yang ditanamkan, seberapa banyak manusia yang dibentuk, dan seberapa banyak kebaikan yang lahir darinya.

Mungkin suatu hari nanti kita semua akan pergi. Guru-guru akan pergi, santri akan berganti, pengurus akan berganti, dan generasi akan terus berganti. Tetapi semoga setelah kita tidak lagi berada di sini, suara-suara itu tetap ada: suara adzan sebelum fajar, suara Al-Qur’an selepas Subuh, suara halaman kitab yang dibuka, suara guru yang mengajar, suara santri yang menghafal, dan suara langkah kaki menuju masjid. Semoga masih ada tangan-tangan yang dengan ikhlas membersihkan halaman, masih ada hati yang bersedia mengabdi, dan masih ada doa yang dipanjatkan untuk para guru, para pendiri, para pejuang, dan mereka yang telah lebih dahulu kembali kepada-Nya.

Sebab Qotrun Nada bukan sekadar tanah tempat kita berdiri, bukan sekadar gedung tempat kita belajar, dan bukan sekadar nama sebuah lembaga pendidikan. Qotrun Nada adalah kenangan yang hidup, perjuangan yang diwariskan, doa yang dipanjangkan, dan rumah bagi begitu banyak hati. Bagi sebagian orang, mungkin Qotrun Nada hanyalah sebuah pesantren. Tetapi bagi mereka yang pernah tumbuh di dalamnya, Qotrun Nada adalah bagian dari kehidupan yang tidak pernah benar-benar selesai. Kita mungkin meninggalkannya, tetapi ia tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.

Tiga puluh tahun yang telah berlalu bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah saat ketika estafet kembali berpindah tangan. Apa yang dahulu dimulai oleh para pendahulu kini berada di tangan kita, dan apa yang kita jaga hari ini kelak akan berpindah kepada generasi setelah kita. Karena itu, jagalah ilmu yang telah diwariskan, jagalah adab yang telah diajarkan, jagalah tradisi yang telah dirawat, jagalah persaudaraan yang telah dibangun, dan yang paling penting, jagalah ruhnya. Sebab boleh jadi suatu hari gedung-gedung akan berubah, sistem akan berkembang, teknologi akan berganti, dan zaman akan membawa tantangan baru. Tetapi selama ruh itu tetap hidup, Qotrun Nada akan tetap menjadi Qotrun Nada.

Nama itu sendiri telah mengajarkan kita sebuah makna: Qotrun Nada, setetes embun. Embun tidak datang dengan suara yang keras. Ia hadir dalam diam, tetapi memberi kesejukan. Ia tidak meminta untuk dilihat, tetapi kehadirannya terasa. Ia tidak bertanya siapa yang akan menerima manfaat darinya, ia hanya jatuh dan membasahi. Mungkin begitulah seharusnya perjalanan Qotrun Nada. Tidak harus menjadi yang paling besar, tetapi semoga selalu menjadi tempat yang memberi. Tidak harus selalu menjadi yang paling ramai, tetapi semoga selalu menjadi tempat yang berarti. Tidak harus dikenal oleh semua orang, tetapi semoga kebaikannya dirasakan oleh banyak orang.

Maka setelah tiga puluh tahun menanam, tiga puluh tahun merawat, dan tiga puluh tahun mengabdi, tugas kita bukanlah berhenti untuk sekadar mengenang masa lalu. Tugas kita adalah melanjutkan apa yang telah dimulai. Kita menerima sebuah amanah dari mereka yang datang sebelum kita, dan suatu hari amanah itu akan kita serahkan kepada mereka yang datang setelah kita. Semoga ketika saat itu tiba, kita dapat menyerahkannya dalam keadaan tetap utuh: ilmunya tetap hidup, adabnya tetap terjaga, tradisinya tetap berakar, persaudaraannya tetap erat, dan ruhnya tetap menyala.

Jika suatu hari nanti kita sudah tidak lagi berada di sini, semoga masih ada seorang anak yang berdiri di halaman Qotrun Nada dan bertanya kepada ayahnya, “Ayah, siapa yang membangun tempat ini?” Semoga ayahnya menjawab, “Banyak orang, Nak. Orang-orang yang dahulu berjuang dalam diam, menanam tanpa sempat menikmati seluruh buahnya, dan berdoa agar tempat ini menjadi jalan bagi banyak manusia untuk mengenal ilmu, mengenal adab, dan mengenal Tuhannya.” Lalu jika anak itu bertanya, “Apa yang mereka tinggalkan?” semoga jawabannya sederhana: “Mereka meninggalkan doa. Dan kamu adalah salah satu jawabannya.”

Itulah yang ingin kita jaga. Bukan sekadar bangunan, bukan sekadar nama, bukan sekadar sejarah, tetapi doa yang telah berjalan selama tiga puluh tahun. Doa yang dahulu mungkin hanya berupa cita-cita kecil, lalu tumbuh menjadi pesantren, melahirkan ribuan cerita, membentuk begitu banyak manusia, dan menebarkan kebaikan ke tempat-tempat yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh para pendirinya.

Maka, jangan biarkan embun itu mengering. Biarkan ia tetap bening, tetap sejuk, dan tetap memberi kehidupan. Biarkan ia jatuh dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Jika dahulu ia hanya setetes, semoga kini ia telah menjadi sungai. Jika dahulu ia hanya membasahi satu tanah, semoga kini ia telah menumbuhkan taman-taman kebaikan di banyak tempat. Dan jika dahulu ia lahir dari sebuah cita-cita sederhana, semoga kelak ia menjadi warisan besar yang terus memberi arti bagi umat dan bangsa.

Selamat tiga puluh tahun, Qotrun Nada.

Tiga puluh tahun telah berlalu, tetapi kisah ini belum selesai. Batu pertama telah diletakkan oleh mereka yang datang sebelum kita. Kini tugas kita adalah melanjutkan bangunan itu, bukan hanya dengan batu dan dinding, tetapi dengan ilmu, adab, keikhlasan, dan pengabdian. Kelak tangan kita akan lelah dan generasi kita akan berganti, tetapi semoga selalu ada tangan berikutnya yang bersedia menerima estafet ini.

Sebab selama Al-Qur’an masih dilantunkan, selama kitab masih dibaca, selama guru masih mengajar, selama santri masih belajar, selama ada hati yang mau mengabdi, dan selama doa masih dipanjatkan, embun itu akan tetap ada.

Tetap bening. Tetap sejuk. Dan Tetap memberi kehidupan.

Dan semoga, sampai kapan pun, embun itu tidak pernah mengering.

HM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *