Sebelum Akar Dicabut.

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X


Sajian utama edisi Safar 1448 H.
Oleh Muhammad Irfan Zidny.

Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba diterima sebagai kelaziman. Jauh sebelum sebuah pilihan dianggap pantas untuk dikejar, sebelum sebuah penampilan dipandang menghadirkan kewibawaan, sebelum suatu bentuk bangunan diyakini melambangkan kemajuan, sebelum sebuah ucapan terdengar lebih berharga daripada ucapan lain, bahkan sebelum cita-cita seorang anak mulai diarahkan ke tujuan tertentu, selalu ada ukuran yang lebih dahulu bekerja dalam diam. Ukuran itu tidak terlihat, tetapi mengatur hampir seluruh keputusan. Ia tidak memaksa, tetapi perlahan membuat seseorang merasa malu terhadap apa yang selama ini menghidupinya, lalu merasa bangga terhadap sesuatu yang sebelumnya sama sekali asing. Yang mengherankan, hampir tidak ada yang bertanya dari mana ukuran itu berasal. Ia diterima seolah-olah telah menjadi hukum alam yang tidak dapat diganggu gugat. Padahal, tidak ada satu pun ukuran yang lahir dengan sendirinya. Selalu ada perjalanan panjang yang membentuknya, selalu ada kepentingan yang menjaganya, dan selalu ada proses yang membuatnya tampak begitu wajar hingga akhirnya berhenti dipersoalkan. Barangkali, kehilangan terbesar bukan ketika sesuatu dirampas dari genggaman, melainkan ketika timbangan yang digunakan untuk menilai segala sesuatu diam-diam diganti. Sebab sejak saat itu, seseorang dapat meninggalkan miliknya sendiri dengan penuh kerelaan, bahkan merasa sedang melangkah menuju masa depan yang lebih baik, tanpa pernah menyadari bahwa arah langkahnya telah ditentukan jauh sebelum ia merasa sedang memilih.

Tidak ada yang lebih mudah mengubah arah sebuah keluarga selain mengubah cita-cita anak-anaknya. Sejak usia yang paling belia, mereka diperkenalkan kepada gambaran tentang keberhasilan yang telah dipilihkan. Diperlihatkan gedung-gedung yang menjulang, ruangan yang tertata, pakaian tertentu yang dianggap menghadirkan wibawa, cara berbicara yang dianggap lebih berkelas, serta pekerjaan-pekerjaan yang dipandang layak untuk dibanggakan. Pada saat yang sama, tanpa disadari, mereka perlahan dijauhkan dari kehidupan yang membesarkan ayah dan ibunya sendiri. Ladang yang selama puluhan tahun menghidupi keluarga tidak lagi dipandang sebagai ruang yang menyimpan ilmu. Laut yang setiap hari dibaca oleh para nelayan tidak lagi dipahami sebagai kitab yang mengajarkan kesabaran dan ketelitian. Bengkel, pasar, kebun, hutan, sungai, bahkan dapur yang selama ini menjadi tempat lahirnya kecakapan hidup, perlahan hanya dipandang sebagai tempat yang harus ditinggalkan. Bukan karena semuanya gagal menghidupi, bukan karena tidak lagi memberi manfaat, melainkan karena sejak awal telah ditanamkan keyakinan bahwa kemuliaan selalu berada di tempat lain. Akibatnya, seorang anak dapat menyelesaikan pendidikan yang panjang, mengenal banyak teori, menguasai berbagai istilah, bahkan mampu menjelaskan banyak hal dengan sangat fasih, tetapi tidak lagi memahami jejak yang telah menghidupi keluarganya selama bergenerasi. Ia mengenal dunia yang jauh, tetapi menjadi asing terhadap halaman rumahnya sendiri. Barangkali, di situlah awal dari sebuah kehilangan yang paling sunyi: bukan hilangnya tanah, bukan hilangnya rumah, melainkan putusnya mata rantai yang selama berabad-abad menghubungkan pengalaman, kebijaksanaan, dan kehidupan sehari-hari dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Barangkali, tidak banyak yang menyadari bahwa setiap pekerjaan yang bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun tidak pernah hanya menghasilkan penghasilan. Di dalamnya tersimpan cara membaca langit, mengenali arah angin, memahami watak tanah, memperkirakan datangnya hujan, memilih benih, merawat air, memanfaatkan tumbuhan, membangun tempat tinggal yang selaras dengan keadaan sekitar, mengolah makanan agar bertahan lama, hingga membentuk watak yang sabar karena hidup berdampingan dengan hukum-hukum alam yang tidak dapat dipaksa. Semua itu tidak lahir dalam semalam, tidak pula muncul dari dugaan sesaat. Ia disusun oleh pengamatan yang panjang, diperbaiki oleh pengalaman yang berulang, lalu diwariskan melalui teladan, percakapan, dan kebiasaan. Namun ketika seorang anak diyakinkan bahwa seluruh masa depannya baru dimulai setelah meninggalkan jejak keluarganya sendiri, sesungguhnya yang berhenti diwariskan bukan sekadar sebuah profesi. Yang ikut terputus adalah ribuan halaman pengetahuan yang tidak pernah sempat dituliskan. Yang mengherankan, setelah mata rantai itu terputus, banyak pihak kembali bersusah payah mencari jawaban atas persoalan yang muncul kemudian. Berbagai penelitian dilakukan, beragam pendekatan dikembangkan, dan tidak sedikit biaya dikeluarkan untuk menemukan apa yang disebut sebagai penemuan baru. Padahal, boleh jadi sebagian jawabannya pernah hidup begitu dekat, dipraktikkan setiap hari, dan terbukti menjaga keseimbangan selama waktu yang sangat panjang. Bukan untuk diterima tanpa kritik, melainkan untuk dibaca kembali dengan kejujuran, diuji dengan akal yang sehat, dan diletakkan pada tempat yang semestinya. Sebab kemajuan tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada; adakalanya ia justru dimulai dengan kesediaan membuka kembali lembaran yang terlalu cepat ditutup oleh rasa kagum terhadap segala sesuatu yang datang belakangan.

Perubahan yang paling sulit dikenali bukanlah perubahan pada apa yang tampak di depan mata, melainkan perubahan pada cara memberi nilai. Ketika timbangan telah bergeser, hampir segala sesuatu ikut berubah tanpa perlu dipaksa. Tangan yang setiap hari menanam padi mulai dipandang kurang bergengsi dibanding tangan yang setiap hari menekan papan ketik. Keringat yang menetes di bawah terik matahari dianggap lebih rendah daripada kelelahan yang lahir di balik meja. Sebuah rumah yang berdiri dengan memanfaatkan bambu, kayu, dan bahan-bahan yang telah terbukti menyatu dengan iklim setempat perlahan dipandang sebagai lambang keterbelakangan, sedangkan dinding beton, kaca, dan baja segera menghadirkan rasa percaya, seakan-akan kekuatan sebuah tempat tinggal ditentukan oleh kerasnya bahan penyusun, bukan oleh kecerdasan yang melahirkannya. Selembar kain yang diwariskan turun-temurun, yang setiap motifnya menyimpan kisah tentang asal-usul, doa, dan perjalanan panjang sebuah daerah, bergeser menjadi pakaian untuk acara tertentu, sementara potongan kain yang datang dari tempat lain memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dalam berbagai kesempatan. Lidah yang fasih mengucapkan bahasa asing segera mengundang kekaguman, walaupun belum tentu membawa gagasan yang lebih bernas, sedangkan bahasa yang selama berabad-abad membentuk cara berpikir, sastra, petuah, dan kebijaksanaan sendiri perlahan kehilangan wibawanya. Bahkan makanan pun mengalami nasib yang serupa. Hasil bumi yang selama berabad-abad menghidupi masyarakat dianggap sederhana, sedangkan sajian yang datang dari tempat yang jauh sering kali menghadirkan kebanggaan tersendiri. Anehnya, hampir semua perubahan itu diterima tanpa banyak pertanyaan. Seolah-olah telah ada kesepakatan yang tidak pernah ditulis bahwa segala sesuatu yang dekat harus lebih dahulu meminta pengakuan kepada sesuatu yang jauh sebelum akhirnya dianggap layak untuk dihormati.

Barangkali, di sinilah letak ironi yang paling jarang disadari. Ketika sebuah ukuran telah diterima terlalu lama, ia tidak lagi terasa sebagai pilihan; ia berubah menjadi sesuatu yang tampak alamiah. Padahal, apa yang dianggap wajar pada satu masa sering kali dipandang aneh pada masa yang lain, dan apa yang dipandang rendah di suatu tempat belum tentu dipandang rendah di tempat yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa penghargaan tidak selalu lahir dari manfaat, kebenaran, atau kebijaksanaan, melainkan sering kali mengikuti arah kekuatan yang sedang berada di puncaknya. Semakin besar pengaruh yang dimiliki, semakin mudah pula cara hidupnya dianggap sebagai teladan. Sedikit demi sedikit, kekaguman berubah menjadi peniruan, peniruan berubah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akhirnya berubah menjadi ukuran. Pada titik itu, seseorang tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu baik, sesuai, atau membawa kemaslahatan; pertanyaan yang tersisa hanyalah apakah ia telah memenuhi bentuk yang sedang diagungkan. Inilah sebabnya mengapa banyak hal yang telah menghidupi begitu lama dapat kehilangan kehormatannya dalam waktu yang relatif singkat. Bukan karena gagal memberikan manfaat, melainkan karena tidak lagi sesuai dengan arah kekaguman yang sedang bergerak. Yang lebih mengherankan, perubahan semacam ini sering kali membuat seseorang merasa semakin maju justru ketika ia semakin jauh dari akar yang membesarkannya. Ia diajarkan untuk mengenal banyak tempat, tetapi perlahan lupa memahami tempatnya sendiri; diajak menguasai berbagai istilah, tetapi tidak lagi mampu membaca hikmah yang hidup di sekelilingnya; didorong mengejar masa depan, tetapi tanpa sadar kehilangan ingatan tentang pelajaran yang telah menjaga kehidupan selama waktu yang sangat panjang. Padahal, pohon yang paling tinggi pun tidak pernah bertahan dengan cara memutus akarnya sendiri.

Keadaan ini akhirnya merambah cara memandang ilmu. Sedikit demi sedikit, tumbuh keyakinan seolah-olah pengetahuan baru benar-benar bernilai apabila lahir dari ruang-ruang tertentu, ditulis dengan istilah tertentu, diuji melalui tata cara tertentu, lalu diumumkan oleh lembaga tertentu. Semua yang berada di luar jalur itu perlahan ditempatkan pada kedudukan yang lebih rendah, sekalipun telah membuktikan manfaatnya melalui perjalanan waktu yang sangat panjang. Padahal, hampir seluruh pengetahuan besar pada mulanya lahir dari keberanian mengamati, ketekunan mencoba, kesediaan mengulang, dan kerendahan hati untuk belajar dari kenyataan. Seorang petani yang selama puluhan tahun membaca perubahan musim, seorang nelayan yang mampu mengenali watak laut hanya dari arah angin, seorang perajin yang memahami sifat kayu sebelum menyentuh alatnya, seorang tabib yang mengenali tumbuhan melalui pengalaman yang diwariskan, semuanya sedang melakukan pengamatan yang tidak kalah serius terhadap kenyataan. Barangkali mereka tidak menuliskannya dalam bahasa yang sedang dihargai, tidak menyusunnya dengan istilah-istilah yang rumit, dan tidak mempresentasikannya di ruang-ruang akademik, tetapi hal itu tidak serta-merta menghapus nilai dari apa yang mereka ketahui. Persoalannya bukan terletak pada perlunya pembuktian—sebab setiap pengetahuan memang layak diuji—melainkan pada kebiasaan menolak lebih dahulu sebelum bersedia memeriksa. Akibatnya, banyak warisan pengalaman berhenti di ambang pintu hanya karena datang dengan pakaian yang berbeda. Lalu, bertahun-tahun kemudian, ketika kesimpulan yang serupa muncul kembali melalui jalur yang lebih diterima, ia disambut sebagai penemuan yang mengagumkan, seolah-olah sebelumnya tidak pernah ada jejak yang mengarah ke sana. Bukankah lebih arif apabila setiap warisan diperiksa dengan adil: yang benar dikuatkan, yang keliru diperbaiki, dan yang belum dipahami diteliti, daripada menyingkirkannya hanya karena tidak lahir dari tempat yang sedang dipandang paling bergengsi?

Selama ini, terlalu banyak tenaga dihabiskan untuk mengejar apa yang tampak di permukaan, padahal yang sesungguhnya memerlukan pembenahan berada jauh lebih dalam. Yang perlu dipulihkan bukan sekadar cara berpakaian, bukan sekadar pilihan pekerjaan, bukan sekadar bentuk bangunan, bukan pula kebiasaan makan atau bahasa yang digunakan. Semua itu hanyalah cabang. Akar persoalannya terletak pada cara memberi nilai. Selama timbangan yang digunakan masih menganggap bahwa sesuatu menjadi lebih berharga hanya karena datang dari arah tertentu, memiliki bentuk tertentu, atau memperoleh pengakuan dari pihak tertentu, maka perubahan apa pun hanya akan berpindah dari satu bentuk ketergantungan menuju bentuk ketergantungan yang lain. Sebaliknya, apabila timbangan itu dikembalikan kepada kebenaran, kemanfaatan, keadilan, dan hikmah, maka setiap pilihan akan memperoleh tempatnya secara proporsional. Yang baik diterima karena memang baik, bukan karena sedang digemari. Yang keliru ditinggalkan karena memang keliru, bukan karena telah kehilangan pengikut. Dengan timbangan semacam inilah kejujuran intelektual dapat tumbuh, sebab penghargaan tidak lagi diberikan kepada asal-usul suatu gagasan, melainkan kepada kekuatan argumen dan kemampuannya menghadirkan kemaslahatan.

Langkah berikutnya adalah menyambung kembali mata rantai yang terlalu lama terputus. Seorang anak tidak perlu dibatasi oleh jalan yang pernah ditempuh keluarganya, tetapi ia juga tidak boleh tumbuh tanpa mengenal jejak yang telah membesarkannya. Ia berhak mempelajari ilmu yang paling mutakhir, menguasai teknologi yang paling canggih, menjelajahi berbagai penjuru dunia, dan berdialog dengan beragam pemikiran. Namun, semua itu seharusnya membuatnya semakin memahami tanah tempat ia berpijak, bukan semakin asing terhadapnya. Pendidikan yang baik tidak menjadikan seseorang lupa kepada asalnya, melainkan memberinya kemampuan untuk membaca kembali warisan yang diterimanya dengan akal yang lebih tajam, memperbaiki kekurangannya dengan ilmu yang lebih luas, serta mengembangkannya agar mampu menjawab tantangan pada zamannya. Dengan cara demikian, hubungan antara generasi terdahulu dan generasi sesudahnya tidak lagi terputus, tetapi terus bergerak sebagai mata rantai pembelajaran yang saling menyempurnakan.

Hal yang sama berlaku terhadap ilmu pengetahuan. Tidak ada alasan untuk mempertentangkan pengamatan yang diwariskan turun-temurun dengan penyelidikan yang dilakukan secara sistematis. Keduanya lahir dari keinginan yang sama, yakni memahami kenyataan secara lebih benar. Pengalaman yang telah teruji oleh waktu patut diperiksa dengan ketelitian ilmiah, sementara hasil penelitian juga layak diperkaya oleh pengalaman yang hidup di tengah masyarakat. Apa yang benar diperkuat, apa yang belum sempurna diperbaiki, dan apa yang masih menjadi dugaan diteliti kembali. Dengan cara seperti inilah ilmu berkembang tanpa harus memutus ingatan. Kemajuan tidak lagi dipahami sebagai penolakan terhadap seluruh warisan, tetapi sebagai kemampuan menyaring, menguji, menyempurnakan, lalu mewariskannya kembali dalam bentuk yang lebih kokoh. Perjalanan ilmu sepanjang sejarah menunjukkan bahwa penemuan besar hampir selalu lahir dari kesediaan untuk belajar, bukan dari kesombongan untuk merasa selalu memulai dari nol.

Pada akhirnya, kemuliaan sebuah masyarakat tidak ditentukan oleh seberapa jauh ia mampu meninggalkan jejak masa lalunya, melainkan oleh kemampuannya membawa seluruh pengalaman terbaik menuju masa depan. Sebuah pohon tidak menjadi tinggi dengan memutus akarnya, tetapi dengan membiarkan akar itu terus menyerap kehidupan sambil batang dan dahannya menjulang ke langit. Demikian pula, masa depan yang kokoh tidak dibangun dengan menghapus ingatan, melainkan dengan keberanian menempatkan setiap warisan pada timbangan yang adil, mengambil hikmah dari mana pun ia datang, mengujinya dengan akal yang jernih, memperkayanya dengan penelitian yang bertanggung jawab, dan membimbing seluruh ikhtiar itu dengan cahaya wahyu. Barangkali, sejak titik itulah perjalanan menuju masa depan tidak lagi dimulai dengan rasa malu terhadap apa yang dimiliki, tetapi dengan keyakinan bahwa kemajuan yang sejati bukanlah menjadi salinan dari siapa pun, melainkan mampu menghadirkan kebaikan yang berakar kuat, bertumbuh sehat, dan memberi manfaat bagi siapa saja.

Wallahu a’lam.
Qotrun Nada, 15 safar 1448 H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *