• PONDOK PESANTREN QOTRUN NADA
  • Berkhidmat Untuk Ummat

NIKMATNYA PERDAMAIAN

By : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc.

Edisi maret 2022

Konflik antara ukraina dan Rusia baru saja dimulai. Ketegangan antar kedua negara semakin meningkat. Suara tembakan dan bom terdengar hampir diseluruh penjuru negeri. Warga sipil terutama kalangan menengah kebawah harus kehilangan harta, rumah, bahkan anggota keluarga mereka yang terbunuh atau ditahan. Mengutip dari sumber terkini listrik dan saluran telepon akan padam dalam rentang waktu 72 jam. Ketakutan, kesedihan dan suara tangis semakin menggema. Apapun agama mereka, sebesar apapun sukunya mereka tidak akan mampu menjalankan ritual keagaman maupun sukanya dengan sempurna.

Ini bukan kali pertama peperangan merusak tatanan budaya, agama, perilaku sosial, atau kondisi mental suatu bangsa. Sebut saja negara-negara ditimur tengah, bosnia, dan Eropa Timur yang sempat porak poranda setelah dilanda peperangan maupun invasi militer. Indonesia adalah salah satunya banyak pemalsuan sejarah dan pemutarbalikkan fakta setelah peperangan usai. Paling sederhana; fakta tentang siapa sebenarnya yang berjuang memerdekakan negeri ini?, untuk siapakah kemerdekaan indonesia? Siapa sebenarnya yang ingin menghancurkan bangsa ini?. Pertanyaan tadi memang sederhana, tapi tidak banyak bangsa ini yang tahu atau bahkan mampu menjawabnya.

Dalam sejarahnya yang panjang, umat islam berkali-kali menghadapi konflik dan peperangan Abul faraj ibnul jawzy dalam karyanya mengungkapkan bahwa Diantara yang terbesar adalah silang pendapat dalam shiffin; Amirul mukminin Ali karramallahu wajhah ketika itu sebagai khalifah yang sah berbeda pendapat dengan Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhuma Secara fakta dan hukum Sayyidina Ali berada dalam kebenaran, karena telah dilantik dan dipilih langsung oleh pembesar sahabat ketika itu secara Bai'at. Peperangan pun terjadi, dan disaat kemenangan pihak pemerintahan sudah didepan mata, salah satu oknum dari pasukan Muawiyah mengikat Kitab Suci Al Quran diujung tombak seraya berseru untuk melangsungkan dialog. Imam Ali dan Muawiyah radhiallahu anhuma tetap menerima usulan tersebut kendati kemenangan yang sudah sangat dekat. Para ahli sejarah menyimpulkan bahwa tindakan Sayyidina Ali dan Sayyidina Muawiyah menerima forum dialog (walaupun beliau mengetahui ketidakfairan dalam dialog tersebut) dan merelakan kemenangannya adalah tindakan yang amat tepat, beliau sangat dapat membaca situasi, menang bukan berarti tanpa resiko. Resiko terbesar adalah pecahnya umat islam, menolak dialog berarti memecah belah, dan Imam Ali dan Muawiyah tidak ingin terjadi perpecahan.

Perpecahan dan peperangan memiliki arti tidak adanya keamanan dan ketentraman, hancurnya negeri, kejahatan yang merajalela, pendidikan yang terhambat, dan korban jiwa yang bertebaran, dimana tidak seharusnya mereka mati begitu saja. Sebaliknya, perdamaian melahirkan ketentraman, persatuan, pendidikan yang maju, ketenangan jiwa, dan senyuman-senyuman bahagia dari setiap insan. Sudah sepatutnya pemimpin-pemimpin dunia saat ini menurunkan sedikit ego nya dan menjadikan cara Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para pengikutnya dalam meredam konflik dan peperangan, serta mewujudkan perdamaian. Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa taala: Hamba-hamba tuhan yang maha pengasih dan penyayang adalah mereka yang berjalan diatas bumi dengan menebar perdamaian dan rendah hati, dan ketika orang-orang bodoh hendak menegur mereka, maka mereka menjawabnya dengan perdamaian dan keselamatan. Wallahu a'lam.

Tulisan Lainnya
madrasah ramdhan

By : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc. Edisi April 2022 Bulan Ramadhan sedang menyapa kita. Penantian dan harapan kita agar kembali disapa dan dikunjungi Ramadhan sudah dikabulkan. Tentuny

06/04/2022 16:22 - Oleh MUHAMMAD FARID HAKIM - Dilihat 74 kali
Habis Gelap Terbitlah Terang

Istilah Aamul huzni agaknya sangat tepat bila dilekatkan pada perjalanan pondok pesantren Qotrun Nada ditahun 2021. Mulai dari virus corona yang masih menjadi pandemi, hingga wafatnya s

20/01/2022 12:15 - Oleh MUHAMMAD FARID HAKIM - Dilihat 174 kali