PUDARNYA BUDAYA DISKUSI, MENGAPA ?

image - PUDARNYA BUDAYA DISKUSI, MENGAPA

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X

Oleh: Humaidi Mufa

Kegiatan bertukar pikiran (sharing opinion) dengan orang lain dalam memecahkan suatu permasalahan biasa disebut dengan diskusi. Salah satu pentingnya diskusi adalah membuka wawasan berpikir seseorang menjadi lebih luas. Karena di dalamnya, kita akan mendapat berbagai informasi dari setiap orang melalui pemahaman yang berbeda-beda. Dari situlah, khasanah keilmuan akan semakin bertambah, cara berpikir yang semakin luas, dan yang paling penting adalah mampu untuk tetap menghargai setiap perbedaan yang ada tanpa harus selalu menggangap diri yang paling benar.

Sebagai negara demokrasi, bangsa ini sudah menjadikan diskusi sebagai “ritual” wajib sebelum memutuskan berbagai kebijakan publik, pun demikian dengan lembaga atau institusi yang ada, namun kini seakan semakin terkikis. Pudarnya budaya diskusi di tengah masyarakat, hemat penulis tidak terlepas karena dalam ranah pendidikan, proses belajar itu selalu dimaknai dalam pengertian yang sempit, yaitu pada kegiatan membaca dan menulis. Sangat jarang ada guru yang menekankan pada siswanya untuk rajin berdiskusi, disamping rajin membaca dan menulis. Orangtua juga demikian, selalu saja menyandarkan penilaian rajin belajar terhadap anaknya pada kegiatan membaca dan menulis. Anak pun akhirnya termotivasi untuk melakukan dua hal itu saja, tanpa mengembangkan proses belajar dengan cara yang lain.

Kemudian juga, kegiatan diskusi masih dianggap tidak terafiliasi dalam proses belajar, aneh bukan? Sudah tidak pernah kita mendengar ada orang yang rajin berdiskusi, lantas dikatakan ia rajin belajar. Sebaliknya, ketika seorang anak sudah rajin membaca buku (sekalipun itu buku cerpen atau novel) maka termasuklah ia golongan anak-anak yang rajin belajar. Padahal, seseorang yang mampu tampil dominan dalam diskusi, tentu saja apa-apa yang disampaikannya itu juga pasti melalui proses belajar, termasuk di dalamnya yaitu membaca dan menulis. Paradigma inilah yang berkembang di tengah masyarakat kita, sekaligus menjadi jawaban mengapa para generasi sekarang enggan menghidupkan budaya diskusi.

Akibatnya, banyak orang yang kemudian menjadi terbiasa untuk menerima informasi dari sumber yang satu arah, yaitu lewat buku, internet, televisi, atau informasi lain yang sifatnya pasif. Kecenderungan informasi itu pun diterima secara mentah-mentah dan menjadi rujukan dalam pemikirannya. Mereka menjadi tidak terbiasa untuk bersikap kritis dalam mempertanyakan atas kebenaran setiap informasi yang mereka terima. Sebab, sedari dini mereka telah dilatih untuk menjadi manusia-manusia yang berpikir secara “monoton”.

Wallahu’alam (HM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *