Perempuan, antara takdir, perasaan dan keinginannya

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X

Oleh : Nd. Hafian

Meskipun label pemimpin biasanya erat dengan sosok laki-laki, nyatanya perempuan adalah makhluk yang hebat. Belakang ada slogan viral bahwasanya perempuan adalah “ras terkuat” dimuka bumi. Rasanya label itu tidaklah berlebihan. Dari segi biologisnya, perempuan memiliki sel telur yang sudah dimiliki sejak masih dalam kandungan akan tetapi di nonaktifkan sampai datang masa haidhnya. Perempuan juga memiliki serangkaian organ rahim yang memungkinkan untuk tumbuh dan berkembang individu baru di dalamnya bukan untuk waktu yang sebentar tapi hampir 10 bulan. Kantung rahim itu dapat menampung janin dengan berat mencapai 3 hingga 4 kilogram. Jalan lahirnya sendiri dapat melebar, membuka secara otomatis sesuai ukuran kepala bayi dan tertutup secara sempurna segera setelah bayi dilahirkan. Dari darah, daging dan tulangnya terciptalah seorang manusia baru yang hanya mirip dengannya tapi benar-benar makhluk yang berbeda karna ada campuran genetik dari pasangannya.

Dari segi psikisnya, perempuan merupakan makhluk yang istimewa. Anggun, lembut, penuh empati dan simpati, kepedulian terhadap sekitarnya yang mendominasi, multitasking seolah ia beraktifitas dengan bantuan energi bulan dan kekuatan matahari. Tapi dibalik segala kelebihannya, benarkah perempuan setangguh itu?.

Nyatanya itu adalah kekuatan dari kesadaran diri perempuan akan takdirnya dan kekuatan itu diberikan langsung oleh Zat penciptanya Allah SWT. Sedari kecil sudah terlihat mencolok perbedaan kodrat antara laki-laki dan perempuan. Anak Perempuan akan terpanggil dirinya untuk membantu pekerjaan orang-orang di sekitarnya. Anak Perempuan akan refleks menyukai hal-hal indah seperti perhiasan, baju bagus dan mainan yang gemerlap yang belakangan saya menemukan korelasi antara kecendurangan ini dengan ganjara-ganjaran wanita sholeha kelak nanti di syurga. Kekuatan ini mencapai puncaknya saat si anak kecil tadi tumbuh dewasa dan menjadi seorang ibu. Tubuh yang dulu rapuh, kini mulai kuat membawa calon anaknya 9 bulan lebih 10 hari dalam keadaan dan aktifitas apapun. Dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi kehamilan itu tetap dibawanya walaupun tidak jarang dilalui dengan banyak keluhan. Hal menakjubkan itu terjadi berulang ada yang 2, 3 bahkan belasan kali sesuai kemampuan dan kesiapan ia bersama pasangannya. Jiwa yang dulu rentan, kini mampu menerjang badai demi kemashlahatan suami dan anaknya. Bahkan orang tua dan saudaranya tidak pernah sedikitpun luput dari perhatian, mereka tetap punya porsi besar dalam hatinya. Semampu itu perempuan membagi tenaga, pikiran, perhatian dan emosinya untuk orang banyak dengan porsi yang masing-masing proporsional.

 Fase menjadi ibu itu yang menginpirasi penulis menyadari bahwa jika tanpa kesadaran akan takdirnya untuk dapat di aplikasikan bahwa setiap kegiatan seorang ibu dalam mengurus keluarganya adalah ibadah, rasanya peran itu mustahil untuk dijalankan. Kepercayaan bahwa apa yang perempuan lakukan adalah bentuk ibadah dalam perjalanan jihad terpanjang bernama rumah tangga. Akan tetapi tanpa kepercayaan itupun, naluri seorang ibu akan menyeruak keluar, mengalir alami sejak pertama ia mendengar tangisan anak yang keluar dari rahimnya. Dia akan menyayangi anaknya lebih dari dirinya sendiri, mengutamakan kesejahteraan mereka, senantiasa menyertakan mereka dalam sujud panjang dan do’a, dengan satu harapan mereka akan menjalani kehidupan lebih baik dari dirinya. Aneh tapi nyata, terhadap anaknya perempuan tidak iri terhadap kesuksesan orang lain, bahagia atas kebahagiannya, bersedih atas lukanya, marah atas sakitnya dan merindu walau anak ada disampingnya. Lantas apakah yang perempuan dapatkan ketika cinta seluas samudra itu tidak berbalas setimpal ?

 Mungkin firman Allah dalam QS. Al Isra ayat 23-24 dapat menjadi jawabannya. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidik aku pada waktu kecil”. Ayat ini memerintahkan kita untuk memperlakukan orang tua dengan penuh perhatian. Mengapa tidak memerintahkan orang tua untuk menyayangi anaknya ?. Karena tanpa diperintahkan pun orang tua dalam hal ini perempuan pasti mencintai anaknya bahkan lebih dari apapun di dunia ini. Karena perempuan akan selalu memprioritaskan kebutuhan anaknya diatas kebutuhannya. Karena perempuan akan selalu menyayangi dan mencintai anaknya dalam keadaan apapun, dalam kondisi baik bahkan buruknya. Karena itu yang ditekankan bakti anak kepada orang tuanya, bukan sebaliknya.

Seorang anak yang sudah menjadi orang tua, dalam setiap fase kehidupan, selayaknya kaset yang diputar kembali akan teringat masa-masa hidupnya selagi masih jadi seorang anak. Secara naluriah, mereka akan bertambah sayang dan cinta kepada orang tuanya. Lebih lagi seorang anak perempuan yang telah menjadi ibu, setiap hari membersamai anaknya, dipikiran dan hatinya akan penuh dengan ibunya. Siklus kehidupan ini yang perlu kita renungkan, bahwa perempuan akan kehilangan sebagian besar dirinya saat menjadi seorang ibu. Keinginannya seperti terabaikan, walau dengan sadar ia rela melepaskannya. Tanpa paksaan ia mencurahkan segalanya, segala hal terbaik dari dirinya untuk kebaikan anak-anaknya. Ini bukan paksaan atau keharusan, ini adalah takdir, keinginan dan perasaan perempuan umumnya. Ibuku pernah berkata, “kita adalah anak, anak adalah kita. Kita adalah orang tua, orang tua adalah kita.” Peran yang sama dengan pemeran yang berbeda, perkataan ibuku menjadi layaknya oase untuk mencoba memahami dalam menyeimbangkan peran anak dan orang tua yang dijalani.

Jika Islam ada untuk mengangkat derajat perempuan dari kehinaan ke derajat yang mulia, menempatkan syurga di kaki seorang ibu, menjadikan do’a ibu setara dengan do’a Nabi untuk umatnya…maka segala pengorbanan itu serasa setimpal. Mari kita terus bertarekat wahai para perempuan, agar ibadah dan perjuangan terpanjang ini jadi ladang pahala berbuat manis nanti dihadapan Zat yang memberi kita keistimewaan dengan panggilan “IBU”.

Depok, 28 April 2026

To my beloved kiddos, Ghani Yusuf dan Salma. Maaf ibu belum seperti ibu yang kalian harapkan. Terimakasih sudah menjadi anakku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *