Sunan Muria: Cahaya yang Turun Bersama Kabut.

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X


Manaqib edisi November 2025.
Oleh Muhammad Irfan Zidny.

Pada pagi-pagi yang muda di lereng Gunung Muria—gunung yang diliputi kabut seperti jubah putih para aulia—lahirlah seorang lelaki yang kelak disebut orang sebagai Sunan Muria, tetapi oleh keluarganya dipanggil dengan penuh kasih sebagai Raden Umar Said.

Para sejarawan seperti Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo menjelaskan bahwa ia adalah putra Sunan Kalijaga, wali yang menanamkan nilai kesederhanaan, akulturasi, dan cinta alam. Dari ayahnya, ia mewarisi dua cahaya: cinta pada manusia yang sederhana, dan cinta pada bumi yang menjadi tempat manusia belajar memahami Tuhan.

Muria bukan kota besar. Ia tidak memiliki pelabuhan, tidak memiliki istana. Tetapi ia memiliki sesuatu yang lebih tua daripada kota mana pun: alam yang berbicara, alam yang mengajar. Di situlah Sunan Muria tinggal, di antara hutan yang masih perawan dan suara air yang turun dari sela batu seperti ayat yang dilantunkan tanpa huruf.

Ia memilih pegunungan bukan karena ingin bersembunyi, tetapi karena ingin mendengar lebih dalam—suara manusia yang belum banyak terpengaruh hiruk-pikuk pesisir, dan suara bumi yang masih asli.

Air yang Tidak Boleh Dikeruhkan

Dalam penelitian IAIN Curup (2022) tentang akulturasi dakwah Sunan Muria, disebutkan bahwa beliau sering mengucapkan pesan:

“Ngluru banyu ojo nganti keruh.”
Carilah air, tapi jangan membuatnya keruh.

Riwayat ini tidak hanya mengandung ajaran etika sosial, tetapi juga etika ekologis: rezeki harus dicari dengan cara yang tidak merusak sumber rezeki itu sendiri.

Ketika para nelayan Muria menggunakan cara-cara menangkap ikan yang membahayakan ekosistem sungai, Sunan Muria mengajak mereka duduk di tepi aliran. Ia menyuruh mereka mendengar suara air, menyentuh kesejukan batu-batunya, dan bertanya:

“Bagaimana engkau berharap berkah dari sungai, jika engkau menyakitinya?”
Dan sejak itu, masyarakat Muria hidup dengan prinsip yang bahkan hari ini dianggap sangat modern:

Menangkap secukupnya, bukan sebanyak-banyaknya.
Mengambil sambil menjaga.

Prinsip ini tercatat dalam kajian budaya Kompas (2022) tentang perilaku ekologi masyarakat Colo.

Tembang yang Menuntun Hati, Bukan Perintah yang Menggurui.

Sunan Muria menggunakan jalan yang tidak keras, tidak memaksa, tidak menghancurkan—jalan yang diwariskan ayahnya.

Ia tidak berdiri di mimbar tinggi, tetapi duduk di beranda bambu, mengajarkan masyarakat melalui tembang Jawa. Dalam catatan Kompas Skola (2024), beliau mahir dalam sekar alit—tembang pendek yang mengetuk hati tanpa menimbulkan perlawanan.

Ia menanamkan pesan ekologis dan spiritual melalui alunan halus, misalnya dalam bentuk ajaran yang dirasakan masyarakat:

“Ojo nganti napasmu ninggal tatu ning bumi.”
Jangan sampai napasmu meninggalkan luka di bumi.

Pesan tu terasa seperti suara gunung sendiri—tenang, tetapi tak dapat diabaikan.

Mengubah Ritual Tanpa Merusak Akar.

Sebelum Islam datang dengan lembut ke Muria, masyarakat gunung mengadakan ritual meminta hujan dengan sesaji. Banyak orang luar akan menghapus tradisi semacam itu dengan keras. Tapi Sunan Muria melakukan sebaliknya.

Seperti dijelaskan dalam kajian antropologi Kumparan dan penelitian budaya Jawa yang dikutip Kompas, ia mengambil ruh dari ritual itu dan membersihkannya:

Sesaji ia ganti menjadi sedekah kepada fakir.

Pemujaan ia ganti menjadi syukur kepada Allah.

Pemanggilan roh ia ganti menjadi doa bersama.

Tetapi makna ekologisnya ia pertahankan: manusia harus mengingat bahwa hujan, tumbuh-tumbuhan, dan bumi bukanlah produk teknologi, melainkan berkah yang harus disyukuri.

Ritual itu hingga kini hidup sebagai “sedekah bumi”, yang menurut penelitian antropologi Universitas Diponegoro memuat pesan konservasi: menjaga hutan, sumber air, dan tanah pertanian.

Kesederhanaan yang Menyelamatkan Dunia.

Banyak manuskrip lokal dan dokumentasi budaya Muria (Komunitas Budaya Muria, 2019) menggambarkan Sunan Muria sebagai sosok yang begitu sederhana. Ia berjalan tanpa alas kaki, makan sekadarnya, tidur dalam rumah kayu kecil, dan hidup tidak lebih tinggi dari masyarakat yang ia layani.

Ia sering berkata:

“Sapa sing mangan luwih saka perlu, iku sing ngrasakake bumi luwih saka perlu.”
Siapa yang makan lebih dari yang ia butuhkan, dialah yang membuat bumi menderita.

Kesederhanaan bagi beliau bukan sekadar ketaatan, tetapi strategi ekologis jangka panjang. Karena yang merusak bumi bukanlah orang miskin atau rakyat kecil—butuh sekadar cukup—melainkan kerakusan manusia yang merasa berhak menguasai alam tanpa batas.

Dalam pandangan ekologinya:

Makan secukupnya adalah ibadah.

Tidak membuang-buang adalah bentuk syukur.

Menggunakan seperlunya adalah bentuk cinta kepada Tuhan.

Nilai-nilai ini sejalan dengan tafsir sosial-ekologi Islam seperti yang ditulis oleh Fazlur Rahman dan Seyyed Hossein Nasr (dalam konteks lebih luas tentang etika lingkungan Islam).

Nasihat-Nasihat yang Hidup dalam Gunung.

Dari berbagai penelitian—IAIN Curup, Kompas, Kumparan, Sinau Budaya Muria—terdapat beberapa nasihat Sunan Muria yang secara konsisten muncul dan diterima masyarakat sebagai warisan beliau:

  1. “Rawatlah mata air, sebab ia adalah mata Tuhan yang mengawasi kalian.”

(Ajaran lokal Muria, Kompas.id 2022)

  1. “Saben wit sing do ambruk, siji nyawamu ilang.”

Setiap pohon yang kau tumbangkan sembarangan, satu nyawamu ikut hilang.
(Tradisi tutur Colo)

  1. “Bertani dengan sabar, jangan memaksa tanah yang lelah.”

(Petani Muria, dokumentasi 2019)

  1. “Bumi adalah kitab pertama; bacalah sebelum kau membuka kitab lainnya.”

(Interpretasi dakwah tembang Jawa, Kompas Skola)

  1. “Sing nyolong saka bumi, mengko bali nyilih sengsara.”
    Yang mencuri dari bumi, kelak akan meminjam kesengsaraan.
    (Warisan lisan Muria)

Jika Sunan Muria Menatap Dunia Hari Ini.

Jika Sunan Muria melihat banjir bandang, hutan terbakar, sungai beracun, dan lautan penuh plastik—ia mungkin akan merasa bahwa manusia telah melupakan nasihat paling dasar:

Bahwa bumi bukanlah toko serba ada.
Bahwa alam bukanlah mesin yang tunduk pada kesombongan kita.
Bahwa setiap pohon yang tumbang adalah satu baris doa yang hilang dari langit.
Bahwa setiap sungai yang kotor adalah ayat Allah yang terhapus.

Dan ia mungkin akan menunduk, seperti dahulu ia menunduk saat mengajar para petani, lalu berkata dengan suara yang tidak meninggi:

“Sampeyan wis adoh saka alam, mula adoh saka Gusti.”
Kalian telah jauh dari alam, maka kalian jauh dari Tuhan.

Daftar Referensi Ilmiah:

Sejarah & Biografi:

  1. Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, Pustaka IIMaN, 2016.
  2. Kompas.id – “Sunan Muria: Syiar Islam Menjangkau Masyarakat Terpinggirkan” (2022).
  3. Kompas.com – “Biografi Sunan Muria: Nama Asli, Silsilah, dan Metode Dakwah” (2024).
  4. Katadata – “Sunan Muria: Wali Songo Termuda” (2024).
  5. Detik.com – “Sejarah Sunan Muria dan Strategi Dakwahnya” (2023).

Antropologi & Budaya Lokal:

  1. Kompas Skola – “Metode Dakwah Sunan Muria melalui Tembang Jawa” (2024).
  2. Kumparan.com – “Sunan Muria dan Akulturasi Budaya” (2024).
  3. Penelitian Komunitas Budaya Muria, Colo (2019).

Dakwah & Ekologi:

  1. Jurnal Dakwah dan Komunikasi, IAIN Curup (2022) – “Dakwah Akulturatif Sunan Muria”.
  2. Kajian antropologi Gunung Muria – Kompas Serat Budaya (2019–2024).
  3. Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (untuk rujukan etika ekologi Islam).

Depok, 6 Jumadil Akhiroh 1447 H.
Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *