Oleh: Putra Betawi
Dari Muadz bin Jabal radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam (SAW) bersabda:
اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن
“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah olehmu perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu menghapus dosa-dosa dari keburukan, dan hendaklah kamu berakhlak atau bergaul sesama manusia dengan akhlak yang baik” (HR Ahmad 21354 dan Tirmidzi 1987).
Hadis dari Muadz bin Jabal ini mengandung tiga nasihat penting dari Rasulullah SAW: bertakwa kepada Allah di mana pun berada, memperbanyak kebaikan setelah melakukan kesalahan, dan berakhlak mulia kepada sesama manusia.
Saat memasuki masa libur santri, menurut saya hadis ini menjadi pedoman yang begitu sangat relevan terhadap santri disaat mereka pulang. Liburan bukan berarti berhenti menjaga ketakwaan dan akhlak. Seorang santri tetap dituntut untuk istiqomah dalam kebaikan menjalankan ibadah, menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, Hati-hati didalam menggunakan media sosial serta menjauhi perbuatan yang tidak diridhai Allah meskipun sedang berada di rumah dan jauh dari lingkungan pesantren.
Selain itu,Apabila selama liburan ada diantara mereka melakukan kesalahan atau kelalaian, hendaknya segera memperbanyak amal saleh, seperti membantu orang tua, bersedekah, menuntut ilmu, atau melakukan kegiatan yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun orang lain. Kebaikan-kebaikan tersebut menjadi sarana untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.
Selama liburan, santri berinteraksi lebih banyak dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat. Oleh karena itu, santri hendaknya menunjukkan sikap sopan, santun, menghormati orang tua, membantu sesama, serta menjadi teladan yang baik di lingkungan sekitar. Santri Harus menjadi Pelopor kebaikan.
Masa liburan juga menjadi kesempatan emas bagi orang tua untuk menyaksikan dan menumbuhkan akhlak anak-anaknya. Santri yang berbakti kepada orang tua, membantu pekerjaan rumah, menghormati tetangga, menjaga lisan, dan menjadi pribadi yang bermanfaat merupakan buah nyata dari pendidikan yang diterimanya.
Kami mengajak seluruh wali santri untuk menjadikan rumah sebagai perpanjangan dari pesantren. Berikan perhatian pada salat berjamaah anak, murojaah Al-Qur’an, adab dalam berbicara, serta penggunaan waktu dan Media Sosial. Dukungan dan keteladanan orang tua akan menjadi faktor besar dalam menjaga istiqamah mereka. Karena mereka butuh dimana suasana rumah yang sejalan. Pastinya ada ruang bagi mereka untuk mengisi ulang tenaganya baik secara fisik, emosi dan ruhiyah, tanpa adanya tuntutan harus selalu produktif atau terlihat “wah”.
Liburan para santri seharusnya ajang dimana orang tua dan santri saling menguatkan, bukan malah meruntuhkan. Orang tua harus menjaga keseimbangan antara kasih sayang dan konsistensi, dengan harapan santri Kembali ke pesantren dengan mental yang siap dan hati yang senang. Ketika orang tua mampu menata dan mendampingi kebiasaan santri, santri akan pulang ke pesantren dengan hati yang kuat tidak banyak drama disaat waktunya tiba untuk Kembali kepondok. Dengan arti lain orang tua tidak menguras tenaga, pikiran pusing, memaksakan santri Kembali ke pesantren.
Pada akhirnya, liburan bagi seorang santri bukanlah tentang memperpanjang waktu untuk bersenang-senang atau melupakan kebiasaan baik yang telah dibangun di pesantren.Akan tetapi waktu yang Allah SWT berikan sebagai momemn evaluasi diri untuk membangun kesadaran, sifat rasa syukur,kekuatan jiwa, menenangkan hati, mempererat ikatan dengan keluarga dasn persiapan mental sebelum Kembali ke rutinitas.
Di rumah, santri belajar kembali tentang makna bakti kepada orang tua, kehangatan keluarga, dan kehidupan nyata di tengah masyarakat. Di sanalah ketulusan, kesabaran, dan akhlak yang telah dipelajari diuji dan dibuktikan.
Maka hakikat liburan bukanlah menjauh dari pendidikan, melainkan melanjutkan pendidikan dalam bentuk yang berbeda. Ia adalah masa persiapan, agar ketika kembali ke pesantren, santri tidak hanya membawa badan yang lebih segar, tetapi juga hati yang lebih bersih, mental yang lebih kuat, semangat yang lebih menyala, dan tekad yang lebih kokoh dalam menuntut ilmu serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebab santri yang hebat bukanlah yang hanya mampu bertahan di dalam pesantren, tetapi yang tetap menjaga nilai-nilai pesantren di mana pun ia berada.




