Ketika Liburan Menjadi Sekolah Kehidupan.

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X

Sajian Utama edisi Juni 2026.
Oleh Muhammad Irfan Zidny.

Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa seseorang harus melakukan pengabdian, melakukan studi komparatif, atau menghidupkan berbagai kegiatan Ramadhan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh pendidikan? Sebab pada akhirnya, seluruh proses pendidikan, apa pun bentuknya, selalu bermuara pada satu tujuan yang sama, yaitu membentuk manusia. Bukan sekadar manusia yang mengetahui banyak hal, melainkan manusia yang mampu menjalani hidupnya dengan baik, memberi manfaat kepada sesama, terus bertumbuh, dan memahami makna dari apa yang dilakukannya.

Persoalannya, menjadi manusia ternyata tidak sesederhana dilahirkan sebagai manusia. Banyak orang bertambah usia tanpa bertambah kedewasaannya. Banyak orang bertambah ilmu tanpa bertambah kebijaksanaannya. Banyak orang memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi tidak pernah benar-benar memahami untuk apa kemampuan itu digunakan. Karena itulah pendidikan tidak boleh berhenti pada proses transfer ilmu. Pendidikan harus menjadi proses pembentukan diri, proses panjang yang mengubah pengetahuan menjadi karakter, pengalaman menjadi pelajaran, dan kemampuan menjadi kemanfaatan.

Dalam penutup Surat Al-Furqan, Allah menggambarkan manusia-manusia terbaik bukan melalui jumlah ilmu yang mereka miliki, bukan pula melalui kedudukan yang mereka capai. Yang ditampilkan justru adalah kualitas hidup mereka. Mereka mampu hidup bersama orang lain dengan rendah hati, mampu mengendalikan dirinya ketika menghadapi persoalan, mampu memperbaiki kesalahan ketika terjatuh, mampu menjaga integritas ketika menghadapi godaan, mampu belajar dari setiap peringatan, dan mampu memikirkan generasi yang akan datang. Gambaran ini menunjukkan bahwa manusia yang matang bukanlah manusia yang selesai belajar, melainkan manusia yang terus bertumbuh sepanjang hidupnya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana manusia seperti itu dibentuk? Tentu bukan hanya dengan mendengar nasihat atau membaca teori. Manusia dibentuk oleh latihan, dan kehidupan adalah tempat latihan itu berlangsung. Karena itulah setiap manusia membutuhkan pengalaman yang membuatnya keluar dari dirinya sendiri, keluar dari cara pandangnya sendiri, dan sesekali masuk lebih dalam ke dalam dirinya sendiri. Tiga proses inilah yang sebenarnya menjadi kebutuhan setiap manusia sepanjang hidupnya.

Proses pertama adalah belajar keluar dari dirinya sendiri. Tidak sedikit persoalan manusia lahir karena ia terlalu sibuk dengan dirinya, terlalu fokus pada kepentingannya, dan terlalu terbiasa melihat dunia dari sudut pandangnya sendiri. Padahal kedewasaan justru dimulai ketika seseorang belajar melihat kebutuhan orang lain, memahami keadaan lingkungannya, dan menyadari bahwa keberadaannya seharusnya membawa manfaat. Di sinilah makna pengabdian menemukan tempatnya. Pengabdian bukan sekadar program, bukan pula tugas yang harus diselesaikan. Pengabdian adalah latihan menjadi manusia yang bermanfaat. Sebab seseorang tidak akan benar-benar memahami arti ilmu yang dimilikinya sebelum ilmu itu menyentuh kehidupan orang lain.

Pengabdian juga melatih sesuatu yang semakin langka di zaman ini, yaitu kerendahan hati. Dunia modern mendorong manusia untuk tampil, menunjukkan kemampuan, dan mencari pengakuan. Tidak semuanya salah, tetapi ada bahaya ketika seseorang mulai mengukur dirinya dari seberapa banyak ia dilihat, bukan dari seberapa banyak ia memberi manfaat. Kehidupan mengajarkan bahwa pohon yang paling banyak buahnya justru paling menunduk. Demikian pula manusia. Semakin besar ilmu dan kemampuannya, seharusnya semakin besar pula kesediaannya untuk melayani, membantu, dan memberi.

Namun menjadi manusia tidak cukup hanya dengan berbuat baik kepada orang lain. Manusia juga harus belajar memahami kehidupan. Banyak orang hidup bertahun-tahun tanpa benar-benar belajar dari apa yang dialaminya. Kesalahan yang sama diulang berkali-kali. Peluang yang sama terlewatkan berkali-kali. Padahal setiap hari sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu. Kehidupan tidak pernah berhenti berbicara, hanya saja tidak semua orang mau mendengarkannya.

Karena itu manusia membutuhkan kemampuan untuk mengamati, membandingkan, dan mengambil pelajaran. Ia perlu melihat mengapa sebagian orang berhasil dan sebagian lainnya gagal. Ia perlu memahami mengapa sebuah masyarakat maju sementara yang lain tertinggal. Ia perlu belajar mengapa suatu kebiasaan melahirkan kebaikan, sementara kebiasaan lain justru membawa kerugian. Dari sinilah lahir apa yang disebut sebagai studi komparatif. Hakikatnya bukan perjalanan, bukan laporan, dan bukan dokumentasi. Hakikatnya adalah kerendahan hati intelektual, yaitu kesediaan untuk mengakui bahwa selalu ada sesuatu yang dapat dipelajari dari kehidupan.

Orang yang berhenti belajar biasanya bukan karena tidak ada lagi pelajaran yang tersedia. Ia berhenti belajar karena merasa sudah cukup. Padahal salah satu tanda kedewasaan adalah kemampuan menerima koreksi, mendengar pandangan yang berbeda, dan memperbaiki diri ketika menemukan sesuatu yang lebih baik. Kehidupan selalu berubah. Tantangan selalu berubah. Karena itu manusia yang ingin terus bertumbuh harus memiliki keberanian untuk terus belajar.

Namun setelah belajar dari orang lain dan belajar dari kehidupan, masih ada satu pelajaran yang lebih sulit daripada keduanya, yaitu belajar dari diri sendiri. Banyak orang mampu memahami dunia tetapi tidak memahami dirinya. Banyak orang mampu memberi nasihat tetapi tidak pernah sempat menasihati dirinya sendiri. Banyak orang mampu menilai orang lain dengan sangat tajam, tetapi kesulitan melihat kekurangan yang ada dalam dirinya.

Karena itulah manusia memerlukan ruang untuk menjaga sanubarinya. Bukan agar menjauh dari kehidupan, tetapi agar tidak kehilangan arah di tengah kehidupan. Sebab manusia bukan hanya makhluk yang membutuhkan aktivitas, melainkan juga makhluk yang membutuhkan makna. Kesibukan tidak selalu melahirkan kedewasaan. Keramaian tidak selalu melahirkan kebahagiaan. Bahkan keberhasilan pun tidak selalu melahirkan ketenangan apabila seseorang tidak memahami untuk apa semua itu dilakukan.

Dalam konteks inilah berbagai kegiatan Ramadhan menemukan maknanya. Khataman Al-Qur’an, jamaah, buka puasa bersama, penampilan kemampuan santri, kegiatan sosial, dan berbagai bentuk syiar lainnya sesungguhnya bukan tujuan. Semua itu hanyalah sarana. Tujuan yang sesungguhnya adalah menghubungkan ilmu dengan amal, kemampuan dengan kebermanfaatan, dan kehidupan dengan nilai-nilai yang lebih tinggi. Karena itu ukuran keberhasilannya bukan terletak pada kemegahan acara, melainkan pada kedalaman pengaruh yang ditinggalkannya di dalam hati.

Kita hidup di zaman yang sering membuat manusia terpesona pada hal-hal yang terlihat besar. Padahal tidak semua yang besar itu bermakna. Banyak perubahan besar dalam sejarah justru lahir dari hal-hal yang tampak sederhana: sebuah keteladanan, sebuah kebiasaan baik, sebuah nasihat yang tulus, atau sebuah tindakan kecil yang dilakukan dengan istiqamah. Pendidikan kehilangan ruhnya ketika lebih sibuk membangun kesan daripada membangun karakter. Sebaliknya, pendidikan akan menemukan kekuatannya ketika berhasil menanamkan nilai yang terus hidup bahkan setelah kegiatan itu berakhir.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukanlah mencetak manusia yang hebat untuk dirinya sendiri. Tujuan pendidikan adalah melahirkan manusia yang mampu hidup dengan benar, berpikir dengan jernih, bertindak dengan bijaksana, dan meninggalkan kebaikan bagi orang lain. Manusia yang tidak hanya memikirkan hari ini, tetapi juga memikirkan generasi setelahnya. Manusia yang tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga berusaha menjadi sebab keberhasilan bagi orang lain. Manusia yang kehadirannya menenangkan, pemikirannya mencerahkan, dan tindakannya menghadirkan manfaat.

Barangkali itulah sebabnya pendidikan tidak pernah benar-benar libur. Sebab kehidupan tidak pernah berhenti membentuk manusia. Selama seseorang masih mau mengabdi, ia sedang belajar menjadi manusia. Selama seseorang masih mau belajar dari kehidupan, ia sedang bertumbuh menjadi manusia. Dan selama seseorang masih menjaga sanubarinya, ia sedang merawat makna menjadi manusia. Ketika ketiganya bertemu, lahirlah pribadi-pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga matang; tidak hanya berhasil, tetapi juga bermanfaat; tidak hanya hidup, tetapi benar-benar menghidupi nilai-nilai yang membuat hidup itu layak dijalani.

Wallahu ‘lam.
Depok, 1 Muharram 1448 H

4 Responses

  1. Karena sejatinya manusia itu harus terus selalu belajar,belajar dan.belajar,karena belajar bukan hanya untuk di lingkungan pendidikan saja,dikehidupan sehari haripun kita harus sering sering Belajar tentang kehidupan

  2. menjadi manusia ternyata tidak sesederhana dilahirkan sebagai manusia. Banyak orang bertambah usia tanpa bertambah kedewasaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *