MEMASJIDKAN MASJID, MENZAKATKAN ZAKAT.

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X

Kajian edisi Juni 2026.
Oleh Muhammad Irfan Zidny.

Membangun Manusia, Menjaga Kehidupan

Setiap peradaban besar selalu dimulai dari manusia. Bangunan dapat didirikan dalam waktu singkat, organisasi dapat dibentuk dengan cepat, dan program dapat dirancang dengan sangat rapi. Namun sejarah menunjukkan bahwa yang menentukan hidup atau matinya sebuah peradaban bukanlah bangunan, organisasi, atau programnya, melainkan kualitas manusia yang menghidupkannya. Karena itu Al-Qur’an, ketika berbicara tentang kebangkitan umat, tidak memulai dari sistem, melainkan dari manusia.

Hal itu tampak jelas ketika Allah menjelaskan siapa yang memakmurkan masjid. Menariknya, Allah tidak menyebut orang yang paling kaya, paling berilmu, paling berpengaruh, atau paling kuat. Allah justru memilih lima fondasi kehidupan: beriman kepada Allah, beriman kepada Hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Pilihan ini bukan kebetulan. Setiap kata yang dipilih seolah sedang menyusun kurikulum pembentukan manusia.

Allah menyebut iman kepada-Nya terlebih dahulu. Sebab manusia membutuhkan arah sebelum melangkah. Iman kepada Allah menjawab pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan: dari mana manusia berasal, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa seluruh perjalanan hidupnya akan berakhir. Banyak kerusakan dalam sejarah bukan lahir karena kurangnya kemampuan, melainkan karena kemampuan itu kehilangan arah. Ilmu tanpa arah dapat menyesatkan. Kekuasaan tanpa arah dapat menindas. Kekayaan tanpa arah dapat merusak. Karena itu Allah memulai dari arah.

Namun arah saja tidak cukup. Karena itu Allah menyandingkannya dengan iman kepada Hari Akhir. Jika iman kepada Allah membangun tujuan hidup, maka iman kepada Hari Akhir membangun pertanggungjawaban hidup. Manusia tidak cukup mengetahui ke mana ia akan berjalan, tetapi juga harus menyadari bahwa setiap langkahnya akan dimintai pertanggungjawaban. Keyakinan kepada Hari Akhir melahirkan kejujuran ketika tidak ada yang melihat, amanah ketika ada kesempatan untuk berkhianat, dan kesungguhan ketika tidak ada penghargaan yang dijanjikan. Karena itu, peradaban yang sehat membutuhkan manusia yang memiliki tujuan sekaligus tanggung jawab.

Setelah arah dan tanggung jawab, Allah menyebut shalat. Ini juga sangat menarik. Sebab keyakinan yang tidak dijaga akan melemah, dan kesadaran yang tidak dilatih akan memudar. Shalat adalah pendidikan yang berlangsung sepanjang hidup. Lima kali sehari manusia dihentikan dari urusannya untuk mengingat kembali siapa dirinya, siapa Tuhannya, dan ke mana hidupnya akan menuju. Dalam shalat manusia belajar disiplin, keteraturan, ketundukan, dan kerendahan hati. Karena itu shalat bukan hanya ibadah. Shalat adalah proses pembentukan karakter.

Kemudian Allah menyebut zakat. Mengapa setelah shalat? Karena setelah manusia berhasil mengatur dirinya, ia harus belajar memperhatikan orang lain. Setelah hubungan dengan Allah terjaga, hubungan dengan sesama harus tumbuh. Zakat adalah pendidikan kepedulian. Ia mengajarkan bahwa nikmat tidak boleh berhenti menjadi milik pribadi, bahwa keberhasilan tidak boleh dinikmati sendiri, dan bahwa di dalam setiap rezeki terdapat hak orang lain. Jika shalat membentuk kedekatan kepada Allah, maka zakat membentuk kedekatan kepada manusia.

Setelah itu Allah menyebut satu fondasi yang sering terlupakan, yaitu tidak takut kecuali kepada Allah. Inilah keberanian moral. Menariknya, keberanian tidak disebut di awal, tetapi di akhir. Seolah-olah Al-Qur’an ingin mengajarkan bahwa keberanian bukan titik awal, melainkan buah kematangan. Orang yang memiliki arah hidup, kesadaran pertanggungjawaban, kedisiplinan, dan kepedulian akan lebih mudah berdiri di atas kebenaran. Ia tidak mudah dibeli oleh kepentingan, tidak mudah ditekan oleh ketakutan, dan tidak mudah mengorbankan prinsip demi kenyamanan.

Lalu setelah semua itu disebutkan, Allah menutup ayat dengan kalimat yang sangat indah: “Mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” Hidayah tidak disebut di awal, tetapi di akhir. Seakan-akan Allah sedang mengajarkan bahwa petunjuk bukan sekadar sesuatu yang dicari, tetapi sesuatu yang tumbuh dalam perjalanan hidup. Hidayah lahir ketika arah, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, dan keberanian bertemu dalam satu manusia.

Jika diperhatikan, susunan ayat ini membentuk sebuah proses yang utuh. Iman kepada Allah melahirkan arah hidup. Iman kepada Hari Akhir melahirkan pertanggungjawaban hidup. Shalat melahirkan disiplin hidup. Zakat melahirkan kepedulian hidup. Tidak takut selain Allah melahirkan keberanian hidup. Dan dari semuanya itu tumbuh hidayah. Karena itu At-Taubah ayat 18 sesungguhnya bukan hanya ayat tentang masjid. Ia adalah kurikulum pembentukan manusia.

Namun Al-Qur’an tidak berhenti pada pembentukan manusia. Setelah menjelaskan siapa yang harus membangun kehidupan, Al-Qur’an juga menjelaskan siapa saja yang tidak boleh ditinggalkan oleh kehidupan. Di sinilah letak kedalaman At-Taubah ayat 60.

Ketika Allah menjelaskan zakat, Allah tidak memulai dengan jumlah harta atau cara pengelolaannya. Allah justru menyebut manusia. Dan lebih menarik lagi, Allah menyebut mereka satu per satu. Fakir. Miskin. Amil. Muallaf. Riqab. Gharim. Fi sabilillah. Ibnu sabil. Seolah-olah Allah ingin mengajarkan bahwa setiap kelemahan manusia memiliki wajah yang berbeda dan membutuhkan perhatian yang berbeda pula.

Fakir disebut pertama. Ini bukan kebetulan. Fakir menggambarkan manusia yang hampir kehilangan sumber daya untuk menopang kehidupannya. Ia berada pada titik kelemahan yang paling berat. Dengan meletakkannya di urutan pertama, Al-Qur’an mengajarkan bahwa perhatian pertama sebuah komunitas harus tertuju kepada mereka yang paling rentan.

Setelah itu Allah menyebut miskin. Berbeda dengan fakir, miskin masih memiliki sesuatu, tetapi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Jika fakir berbicara tentang kekurangan yang sangat mendasar, maka miskin berbicara tentang ketidakcukupan. Dengan menyebut keduanya secara terpisah, Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemiskinan memiliki tingkatan dan tidak boleh disederhanakan.

Menariknya, setelah fakir dan miskin, Allah menyebut amil. Seolah-olah setelah menunjukkan siapa yang harus dibantu, Allah langsung menunjukkan siapa yang harus menjaga proses bantuan itu. Ini mengandung pelajaran besar. Kepedulian tidak cukup hanya memiliki niat baik. Kepedulian membutuhkan pengelolaan. Kebaikan membutuhkan penjaga. Amanah membutuhkan sistem. Karena itu amil ditempatkan setelah fakir dan miskin, bukan sebelum mereka dan bukan pula di akhir. Al-Qur’an seakan mengajarkan bahwa sistem harus hadir untuk melayani manusia, bukan manusia untuk melayani sistem.

Setelah kebutuhan dasar dan sistemnya disebut, Allah bergerak kepada dimensi kehidupan yang lebih luas. Muallaf menunjukkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga penguatan hati dan penerimaan sosial. Kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan uang, melainkan rasa diterima dan ditemani.

Kemudian riqab. Ini berbicara tentang kebebasan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia tidak boleh dibiarkan hidup dalam keterbelengguan yang merendahkan martabatnya. Peradaban yang sehat tidak hanya membantu manusia bertahan hidup, tetapi juga membantu manusia hidup dengan merdeka.

Setelah itu gharim. Ia mewakili manusia yang terhimpit oleh beban kehidupan. Tidak semua orang jatuh karena kemalasan. Ada yang jatuh karena beratnya tanggungan yang harus dipikul. Karena itu masyarakat harus memiliki kemampuan untuk mengangkat mereka yang terjatuh sebelum mereka tenggelam lebih dalam.

Kemudian fi sabilillah. Ini menunjukkan bahwa masa depan membutuhkan perjuangan. Dakwah, pendidikan, pelayanan, dan berbagai ikhtiar kemaslahatan tidak dapat berjalan tanpa dukungan. Dengan memasukkan fi sabilillah ke dalam golongan penerima zakat, Al-Qur’an mengajarkan bahwa menjaga masa depan adalah tanggung jawab bersama.

Dan terakhir, ibnu sabil. Penutup ini sangat indah. Ia mengajarkan bahwa manusia bisa kuat dalam satu keadaan dan lemah dalam keadaan yang lain. Seseorang dapat berkecukupan di tempat asalnya, tetapi membutuhkan bantuan ketika berada dalam perjalanan. Dengan demikian Al-Qur’an mengajarkan bahwa kepedulian harus peka terhadap situasi kehidupan manusia yang terus berubah.

Jika diperhatikan lebih dalam, delapan golongan ini bukan sekadar daftar penerima zakat. Mereka adalah delapan titik rapuh kehidupan manusia. Fakir mewakili lemahnya sumber daya. Miskin mewakili lemahnya kecukupan. Amil mewakili lemahnya sistem tanpa pengelolaan. Muallaf mewakili lemahnya keteguhan dan penerimaan sosial. Riqab mewakili lemahnya kebebasan. Gharim mewakili lemahnya daya tahan akibat beban kehidupan. Fi sabilillah mewakili lemahnya dukungan terhadap perjuangan. Dan ibnu sabil mewakili lemahnya akses dan keterhubungan.

Menariknya, urutan ini juga membentuk sebuah alur yang utuh. Al-Qur’an memulai dari kebutuhan paling dasar manusia, lalu membangun sistem yang menjaganya, kemudian menguatkan hati dan martabat manusia, menopang mereka yang sedang memikul beban, mendukung perjuangan untuk masa depan, dan akhirnya memastikan tidak ada seorang pun yang tercecer dalam perjalanan hidupnya. Seolah-olah Al-Qur’an sedang menggambarkan sebuah peta pembangunan masyarakat yang lengkap: dari bertahan hidup hingga menjaga keberlanjutan kehidupan.

Karena itu zakat bukan sekadar instrumen ekonomi. Zakat adalah mekanisme perlindungan kehidupan. Ia memastikan bahwa setiap titik lemah dalam masyarakat menemukan penguatnya. Ia memastikan bahwa tidak ada manusia yang jatuh terlalu jauh tanpa ada yang mengangkatnya. Ia memastikan bahwa tidak ada manusia yang berjuang sendirian tanpa ada yang membersamainya.

Jika At-Taubah ayat 18 mengajarkan siapa yang harus membangun komunitas, maka At-Taubah ayat 60 mengajarkan siapa saja yang tidak boleh ditinggalkan oleh komunitas. At-Taubah ayat 18 adalah kurikulum pembentukan manusia. At-Taubah ayat 60 adalah kurikulum penjagaan kehidupan manusia. Yang satu membentuk sumber kebaikan. Yang satu mengarahkan aliran kebaikan.

Karena itu, memasjidkan masjid dan menzakatkan zakat pada hakikatnya adalah pekerjaan yang sama. Keduanya bertujuan membangun manusia dan menjaga kehidupan. Keduanya bertujuan melahirkan masyarakat yang memiliki arah, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, keberanian, dan solidaritas.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh bangunan yang megah atau organisasi yang besar. Peradaban dibangun oleh manusia yang menemukan petunjuk dan menghadirkan manfaat. Dan itulah yang diajarkan Al-Qur’an melalui dua ayat besar ini: membentuk manusia yang layak memikul amanah, lalu memastikan bahwa tidak ada satu pun manusia yang tercecer dari perhatian umat.

Memasjidkan Masjid. Menzakatkan Zakat.

Bukan sekadar menghidupkan bangunan dan menyalurkan harta, tetapi membangun manusia yang mampu menjaga kehidupan, serta membangun kehidupan yang mampu menjaga setiap manusia.

Wallahu a’lam.
Depok, 1 Muharram 1448 H.

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *