Sajian Utama edisi Desember 2025.
Oleh: Muhammad Irfan Zidny.
Ada saat ketika hidup terasa seperti berjalan dengan dada terbuka di tengah angin dingin. Tidak ada yang benar-benar melukai, namun semuanya terasa menggerus. Manusia tetap bangun pagi, tetap menjalankan peran, tetap menyelesaikan kewajiban, tetapi ada bagian dalam dirinya yang pelan-pelan mati: keyakinan bahwa apa yang ia kejar selama ini memang layak dikejar. Ia tidak sedang kehilangan apa pun, namun merasa kehilangan segalanya.
Seumur hidup ia diajari untuk berharap. Bukan berharap kepada Tuhan, tetapi berharap kepada hasil. Ia diminta sabar agar berhasil, ikhlas agar dihargai, taat agar hidupnya tenang. Tanpa sadar, Tuhan diletakkan di ujung, bukan di pusat. Amal menjadi alat, doa menjadi jalan pintas, ibadah menjadi cara agar hidup sesuai keinginannya. Selama harapan terpenuhi, ia menyebut dirinya bersyukur. Ketika harapan runtuh, ia mulai meragukan segalanya.
Pada fase ini, yang paling berat bukan kegagalan, tetapi kenyataan bahwa hati tidak lagi tahu harus bersandar ke mana. Manusia mulai merasa asing dengan dirinya sendiri. Ia telah menjadi terlalu banyak hal untuk dunia, sampai lupa menjadi hamba. Ia sibuk menjaga citra, menimbang sikap, mengatur kata, sementara batinnya menanggung beban yang tidak pernah dibicarakan. Di hadapan manusia ia tampak utuh, di hadapan Tuhan ia rapuh—dan keretakan itu semakin terasa.
Lalu datang momen yang tidak dramatis, namun menentukan: ketika hati berhenti menuntut penjelasan dan mulai menerima bahwa selama ini arah hidupnya keliru. Bahwa ia terlalu sering berkata “aku ingin” dan terlalu jarang berkata “Engkau lebih tahu.” Bahwa ia berdoa bukan untuk didekatkan, tetapi untuk dikabulkan. Kesadaran ini tidak menghibur; ia menyakitkan. Ia merobohkan bangunan niat yang dibangun bertahun-tahun dengan susah payah.
Dari reruntuhan itu, lahir kepatuhan yang tidak lagi berisik. Hamba mulai melakukan kebaikan tanpa berharap perubahan keadaan. Ia tetap taat meski hidup tidak menjadi lebih mudah. Ia tetap berjalan meski tidak ada jaminan selain keyakinan bahwa arah ini benar. Ia tidak lagi sibuk bertanya kapan doa dijawab, karena ia telah belajar bahwa kedekatan tidak selalu ditandai dengan terkabulnya permintaan.
Ujian kini terasa lebih dekat, lebih personal. Penantian memanjang, kehilangan datang tanpa aba-aba, dan rencana runtuh tepat saat keyakinan sedang kuat-kuatnya. Namun ada yang berbeda: hati tidak lagi memberontak. Ia mulai memahami bahwa setiap yang dicabut adalah sesuatu yang diam-diam telah menggantikan posisi Tuhan. Bahwa setiap yang diambil adalah ikatan yang seharusnya tidak pernah terlalu erat.
Pada tahap ini, hidup menjadi pelajaran yang tidak tertulis. Manusia belajar bahwa ketenangan bukan hadiah bagi yang berhasil, tetapi anugerah bagi yang lurus. Bahwa damai tidak lahir dari terkumpulnya keinginan, melainkan dari berkurangnya tuntutan. Ia tidak lagi mengejar rasa aman dari dunia, karena ia telah menerima bahwa dunia tidak diciptakan untuk menenangkan siapa pun.
Akhirnya, seluruh perjalanan—harapan yang patah, doa yang tertunda, amal yang sepi, dan air mata yang tidak disaksikan—menyatu dalam satu pengakuan paling jujur yang pernah lahir dari hatinya. Bukan sebagai slogan, bukan sebagai hiasan lisan, tetapi sebagai simpulan hidup yang telah kehilangan semua pilihan lain:
إِلٰهِي أَنْتَ مَقْصُودِي وَرِضَاكَ مَطْلُوبِي
Wallahu a’lam.
Qotrun Nada, 11 Rajab 1447 H.





