Sajian Utama edisi Februari 2026.
Oleh Muhammad Irfan Zidny.
Ada suara yang tidak terdengar oleh telinga, tetapi terasa oleh hati. Ia tidak datang dengan guncangan, tidak pula dengan ancaman. Ia hadir seperti cahaya tipis di sela malam—tidak memaksa gelap pergi, hanya perlahan membuatnya tak lagi berkuasa.
Begitulah Lir Ilir.
Tembang yang dalam tradisi Jawa dinisbatkan kepada Sunan Kalijaga ini bukan sekadar warisan budaya. Ia adalah sentuhan lembut pada jiwa yang lama tertidur. Ia tidak berteriak, tidak menunjuk kesalahan. Ia hanya berbisik—
“Lir ilir…”
Bangunlah.
Bangun bukan hanya dari tidur yang memejamkan mata, tetapi dari kelalaian yang memejamkan hati. Dari kebiasaan menunda istighfar. Dari rasa aman yang pelan-pelan menipu—seakan waktu selalu memberi ruang tambahan, seakan Ramadhan akan selalu kembali, seakan usia dapat diperpanjang sesuka hati.
“Tandure wus sumilir…”
Tanaman itu telah bersemi.
Di dalam setiap diri, ada benih pengenalan kepada Allah. Ia tertanam jauh sebelum kita mengenal dunia. Ia tidak pernah benar-benar mati, hanya kadang tertutup oleh debu ambisi dan riuh keinginan. Ketika Ramadhan datang, ia seperti musim hujan yang lama ditunggu. Tanah hati yang keras mulai melunak. Benih yang lama diam mulai bergerak.
Ramadhan tidak memaksa. Ia melembutkan.
Lapar membuat kita sadar betapa lemahnya tubuh ini. Dahaga mengingatkan bahwa hidup bergantung pada setetes air. Malam-malamnya yang hening memberi ruang bagi hati untuk berbicara jujur—tanpa topeng, tanpa alasan.
“Penekno blimbing kuwi… lunyu-lunyu penekno…”
Naiklah, meski licin.
Perjalanan kembali memang tidak selalu mudah. Nafsu selalu punya alasan. Kebiasaan selalu punya pembenaran. Tetapi justru di situlah letak kesungguhan. Jalan itu terasa licin bukan karena Allah menjauhi, melainkan karena kita terlalu lama berdiri di tempat yang sama.
“Kanggo mbasuh dodotiro…”
Untuk mencuci pakaianmu.
Pakaian itu adalah amal yang kita kenakan setiap hari. Ia mungkin tampak utuh di mata manusia, tetapi siapa yang tahu noda yang tersembunyi di baliknya? Ramadhan datang seperti air yang jernih—membuka kesempatan membersihkan sebelum pakaian itu dibawa pulang.
Karena ada satu kenyataan yang tidak pernah diumumkan dengan suara keras: waktu telah ditentukan. Usia bukan milik kita. Penangguhan bukan tanpa batas.
Dan di titik ini, seluruh kelembutan Lir Ilir, seluruh kesunyian Ramadhan, seluruh sujud yang terasa lebih lama dari biasanya—semuanya bermuara pada satu pertanyaan yang sangat halus, tetapi tidak dapat dihindari.
Bukan pertanyaan tentang seberapa banyak ibadah.
Bukan tentang seberapa tampak kesalehan.
Melainkan tentang keyakinan yang paling dalam.
Apakah benar masih ada ragu?
Ragu bukan karena kurangnya tanda. Langit berdiri tanpa tiang. Bumi terhampar tanpa kita sangga. Nafas keluar-masuk tanpa kita kendalikan. Tetapi hati bisa saja menjauh—bukan karena tidak tahu, melainkan karena enggan tunduk.
Dan Allah mengabadikan pertanyaan itu dalam firman-Nya:
قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ قَالُوا إِنْ أَنتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ
“Rasul-rasul mereka berkata: ‘Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk mengampuni dosa-dosamu dan memberi tangguh kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan.’ Mereka berkata: ‘Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami. Kamu hendak menghalangi kami dari apa yang dahulu disembah oleh nenek moyang kami; maka datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.’”
(Ibrāhīm: 10)
Betapa lembut ayat itu dimulai dengan pertanyaan.
Bukan celaan, melainkan ajakan.
Bukan murka, melainkan ampunan yang didahulukan.
“Dia menyeru kamu untuk mengampuni dosa-dosamu…”
Seakan Ramadhan adalah jawaban nyata dari seruan itu—sebuah penangguhan yang penuh kasih. Waktu yang masih diberi agar kita sempat kembali. Agar kita sempat bangun.
Dan mungkin, yang paling menusuk bukanlah pertanyaan itu sendiri—
melainkan kesadaran bahwa “waktu yang telah ditentukan”
tidak pernah diberitahukan kepada kita kapan ia akan selesai.
Wallahu a’lam.
29 Sya’ban 1447 H





