BERHENTI MENYALAHKAN DAN MULAILAH UNTUK MEMAHAMI

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X

Oleh: Humaidi Mufa, M.Pd

Terkadang hidup menghadirkan rentetan peristiwa yang terasa seperti badai yang datang tanpa aba-aba. Keadaan yang tidak melulu sesuai dengan ekspektasi menggantung hampir membuat frustasi. Entah siapa yang salah namun tersadar bahwa menyalahkan apa pun baik waktu, nasib, atau keadaan tidak menyelesaikan apapun justru hanya akan membuat ruang batin semakin sesak. Sebab kenyataannya, keadaan tidak pernah berubah oleh tudingan, ia hanya terdiam, tetap, seakan menunggu manusia menyadari bahwa ada hal lain yang perlu dilakukan, bukan hanya fokus pada subjek tetapi juga pada objek yang akan membuat keadaan berubah menjadi lebih baik.

Setiap masalah yang muncul bukan sekadar gangguan, melainkan mekanisme alamiah kehidupan untuk menguji dan menyaring makna. Ada keadaan yang hadir untuk meruntuhkan ekspektasi, ada yang datang untuk menunjukkan batas kesabaran, ada pula yang muncul hanya untuk mengukur kedalaman syukur, ketika segalanya berada di ambang keruntuhan. Masalah sebenarnya juga bukan sekadar hambatan ia adalah ruang. Ruang tempat keteguhan diuji, ruang tempat pemahaman ditempa. Ia memaksa manusia melihat dirinya dari jarak yang tidak nyaman yakni mana sikap yang selama ini hanya menjadi alasan dan mana yang benar-benar membangun jalan keluar.

Keadaan buruk sering datang seperti malam tanpa bintang, gelap, hening, dan dingin. Namun justru dalam gelap itulah kejujuran menjadi titik cahaya yang mampu menerangi. Bukan dalam bentuk heroik atau spektakuler, tetapi dalam perubahan kecil pada cara memandang dari menyalahkan menuju memahami, dari resah menuju langkah yang lebih terarah. Ketika fokus mulai bergeser dari “siapa yang bersalah” menjadi “apa yang perlu dilakukan”, keadaan yang tadinya membelenggu perlahan membuka celah. Bukan karena badai reda seketika, tetapi karena mata yang memandangnya kini berbeda: lebih jernih, lebih dewasa, lebih siap menerima bahwa setiap tantangan membawa pesan dan tak semuanya harus dimusuhi.

Keadaan tidak pernah memiliki emosi, dan ketika keadaan tidak seperti apa yang diharapkan disitulah kita akan mengerti bahwa yang menentukan arah bukan kerasnya badai, melainkan sejauh mana seseorang berhenti melawan keadaan yang tak bisa ia ubah, dan mulai merapikan langkah-langkah kecil yang bisa ia kendalikan. (HM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *