Oleh: Jiddah Zainab
Sudah amat jarang kita temui benda ini di masa sekarang. Bahkan banyak pula diantara kita yang benar-benar tidak mengetahui wujud asli benda ini.
Berbanding terbalik dengan wujudnya, maka fungsi dari benda ini amat sangat sering digunakan oleh banyak orang. Melindungi diri dari bahaya fisik dari seseorang yang ingin berbuat jahat secara fisik terhadap kita, itu barangkali fungsi yang paling esensi dari benda ini.
Dengan perkembangan zaman sekarang ini, dimana peperangan abad tehnologi yang canggih sudah tidak lagi memerlukan wujud benda ini, karena memang peperangan abad ini menggunakan nuklir. Maka yang terjadi adalah adanya pergeseran fungsi benda ini dalam hubungan manusia dengan komunitasnya.
Banyak dari manusia yang menjadikan orang lain sebagai pelindung dari apa yang dilakukannya. Bahkan yang lebih ironis, menjadikann orang lain lebih dari sekedar tameng untuk melindungi kejahatan yang dilakukannya.
Apapun itu, efek terberat tentu saja bagi orang yang mau menyerahkan dirinya untuk berfungsi sebagai tameng atau seseorang yang memang dipaksa untuk menjadi tameng bagi orang lain.
Barangkali menjadikan orang lain menjadi tameng hidup bagi seseorang itu merupakan pengejawantahan dari kekerdilan jiwa seorang manusia, aplikasi dari ketidakmampuannya untuk menghadapi berbagai problema kehidupan yang seharusnya dihadapi atau dipertanggungjawabkan dalam konsekuensi pribadi dari pelaku perbuatan.
Seorang bos menjadikan bawahannya sebagai tameng, mungkin…… bagi sebagian orang merupakan hal yang patut saja dilakukan karena ada konsekuensi materi yang diperoleh, walaupun untuk sebagian orang lainnya merupakan salah satu bentuk penindasan dari golongan yang kuat kepada golongan yang lemah. Dan untuk komunitas manusia yang amat sangat heterogen dan menganut faham hedonism, maka akan banyak bentuk parsial komunitas yang dijadikan tameng-tameng bagi suatu kelompok penguasa.
Yang menjadi ironis adalah bagaimana kerdilnya jiwa seorang anak yang selalu menjadikan orang tuanya sebagai tameng dari ketakutan dan ketidakmampuannya dalam menghadapi problematika kehidupan.
Memang, anak merupakan amanah dari Allah SWT bagi orang tua, yang harus dijaga dan dilindungi agar terhindar dari hal-hal yang berbahaya secara fisik ataupun mental dalam menjalani ritme kehidupan. Tetapi ini bukan berarti bahwa anak harus selalu bergantung kepada orang tuanya untuk setiap problem yang dihadapi, ataupun selalu merepotkan orang tuanya untuk mengambil alih tanggungjawab dari setiap efek perbuatan salah yang dilakukan seorang anak.
Seyogyanya, orang tua memberikan pondasi keagaamaan yang kuat bagi bagi anak, memberikan pendidikan dan pengajaran yang memadai bagi anak dan yang terpenting juga adalah memberikan kebebasan yang bertanggung jawab bagi anak untuk dapat menjalani kehidupan dengan syariat dari pondasi agama tadi.
Setiap pilihan hidup yang diinginkan oleh anak, selama itu tidak bertentangan secara agama dan hukum yang berlaku, seyogyanya orang tua memberikan doa dan restu bagi keberkahan pilihan tersebut dengan tidak lupa untuk memberikan arahan solusi dengan mengajarkan anak untuk siap menerima resiko dari setiap konsekwensi pilihannya.
Biarkan anak bahagia dengan pilihannya sekaligus bertanggungjawab dengan resikonya. Ini adalah salah satu bentuk pendidikan yang baik bagi perkembangan jiwa seorang anak.
Jika anak dibentuk dengan system otoriter dalam keluarga dan anak tidak memiliki keluasan untuk mengatur hidupnya yang bebas dan bertanggung jawab, dalam arti apapun yang dilakukan adalah sesuatu yang dipilihkan menurut ego orangtuanya. Maka yang akan terbentuk adalah jiwa-jiwa kerdil dari seorang anak yang akan selalu bersembunyi dibalik ketiak orang tua, dan selalu menjadikan orang tuanya sebagai tameng dari setiap efek buruk dari setiap resiko hidup anak tersebut, bukan tidak mungkin….. terjadi selama hidupnya.
Padahal setiap manusia (termasuk anak dan orangtua) memiliki rentang waktu hidup yang berbeda, Umur yang terbatas, rizki yang berbeda, otak yang berbeda dan kesempatan yang berbeda pula untuk selalu ada dan mendampingi anak disepanjang hidup seorang anak.
Ada banyak keterbatasan yang dimiliki orang tua, disamping perbedaan problematika dan efek dari zaman yang telah dilalui orang tua dengan zaman yang akan dihadapi oleh si anak.
Oleh karenanya siapkanlah anak kita untuk dapat mengeksplor kemampuan dirinya sehingga ia sanggup untuk mengatakan,…” Inilah saya…”..dan bukan hanya mampu mengatakan bahwa saya adalah anak dari seorang ayah yang hebat…
Innal Fataa, man yaquulu Haa ana Dzaa, walaisal fataa man waquulu kaana Abii………
Buat anak-anak lelaki Sholehku yang tangguh:
Aa, Abang, Mas, kaka ,Ade
Qotrun Nada, 8 Mei 2011





