Oleh: Humaidi Mufa
Kita hidup di zaman ketika agama terdengar di mana-mana, tapi justru semakin sulit untuk kita temukan dalam perilaku pemeluknya. Simbolnya ramai, klaimnya keras, tetapi kepekaan moralnya menipis. Yang sering dipertahankan bukan keadilan, melainkan identitas, bukan tanggung jawab, melainkan rasa paling benar. Agama hadir baru sebatas sebagai jawaban atas siapa kita, bukan sebagai pertanyaan tentang bagaimana seharusnya kita bersikap.
Di titik ini, agama perlahan bergeser nilai dan fungsi. Ia tidak lagi bekerja sebagai kompas arah atau cermin yang memaksa kita mengetahui cacat diri sendiri, tetapi hanya sebagai tameng yang melindungi keegoan semata. Selama agama diposisikan untuk membela identitas, ia akan selalu membutuhkan musuh, entah yang berbeda keyakinan, berbeda tafsir, atau sekadar berbeda cara berpikir. Dan ketika agama sudah sibuk menjaga batas “kami” dan “mereka”, maka saat itu pula ia kehilangan daya etikanya untuk menuntun manusia berlaku adil.
Ironisnya, ukuran kebenaran pun ikut berubah. Yang diuji bukan lagi dampak moralnya, melainkan kekuatan klaimnya. Dalil menjadi alat legitimasi pembenaran, bukan sebagau pedoman koreksi. Padahal, agama yang benar seharusnya bisa dirasakan dari dampak akibatnya: apakah ia membuat manusia lebih jujur, lebih bertanggung jawab, dan lebih berani membatasi kuasanya sendiri. Jika tidak, maka ada yang keliru bukan pada teks sucinya, tetapi pada cara manusia mengamalkannya.
Kondisi ini diperparah oleh kecurigaan terhadap pertanyaan. Kini bertanya dianggap ancaman, berpikir kritis dicurigai sebagai pembangkangan. Akibatnya, yang tumbuh bukan iman yang matang, melainkan kepatuhan yang rapuh. Di permukaan terlihat taat, di dalam menyimpan kebingungan atau kemarahan yang tak pernah diberi ruang. Agama yang menolak dialog sejatinya sedang menyiapkan krisisnya sendiri.
Namun masalah terdalamnya bukan di sana. Yang paling sulit diakui adalah bagaimana agama sering dijadikan alat pembenaran diri. Ia dipakai untuk merasa suci tanpa perlu berbenah, untuk menilai orang lain tanpa pernah menilai diri sendiri. Ketika agama berhenti menundukkan ego dan justru melayaninya, saat itulah ia kehilangan makna sebagai jalan hidup.
Keresahan ini tidak akan selesai dalam satu generasi. Terlalu banyak lapisan sejarah, kepentingan, dan kebiasaan yang terlanjur mengeras. Tapi perubahan bisa dimulai dari satu pergeseran sederhana, yakni berhenti menuntut agama menyelamatkan dunia, dan mulai jujur bertanya apakah cara kita beragama hari ini sudah menyelamatkan kita dari ketidakadilan, kesombongan, dan ketakutan.
Jika jawabannya belum, maka masalahnya bukan pada agama. Masalahnya ada pada keberanian kita untuk hidup sesuai tuntutan moral agama kita yang selama ini kita banggakan. (HM)





