MARHABAN YA RAMADHAN 1447 H

Bagikan

WhatsApp
Facebook
LinkedIn
X

Oleh: Humaidi Mufa

Ada satu waktu dalam setahun ketika hidup tiba-tiba melambat.

Rutinitas yang biasanya berjalan tanpa dipikirkan menjadi terasa sadar. Tangan tidak lagi bebas mengambil makanan, tenggorokan tidak lagi bebas meneguk air, jam terasa bergerak lebih panjang dari biasanya dan emosi tidak lagi mudah menemukan pelampiasaan.

Pada awalnya kita mungkin mengira yang diuji adalah fisiknya. Kita menyangka puasa hanyalah perkara menahan lapar dan haus. Maka kita bersiap menghadapi siang hari seolah menghadapi kelelahan. Namun semakin hari berjalan, kita mulai menyadari sesuatu yang ganjil, yakni rasa lapar ternyata bukanlah musuh terbesar. Hal yang lebih berat justru lahir dari hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kita anggap menjadi masalah.

Menahan jawaban ketika tersinggung.

Menahan komentar ketika ingin membalas.

Menahan mata dari melihat yang tak boleh.

Menahan pikiran dari berkelana ke mana saja.

Di situlah manusia mulai merasa tidak nyaman, bukan karena tubuh mengalami kekurangan, tetapi karena diri kita tidak lagi bebas menuruti hawa nafsu.

Selama ini kita hidup dalam kebiasaan otomatis. Keinginan datang lalu dipenuhi, emosi muncul lalu dilampiaskan. Kita tidak pernah benar-benar bertanya siapa yang memutuskan semua itu. Semuanya terasa alami, padahal sebenarnya kita hanya mengikuti arus yang sudah lama dibiarkan mengalir.

Lalu puasa datang menghentikan arus itu.

Ketika seseorang menahan diri dari air yang ada di hadapannya, ia sedang menyaksikan pertarungan sunyi di dalam dirinya. Tidak ada orang lain yang tahu. Tidak ada yang memaksa. Ia bisa saja minum diam-diam dan tidak seorang pun menyadari. Namun justru di situlah letak ujian sebenarnya: ia mulai melihat bahwa dirinya mampu melawan dorongan paling dasar sekalipun.

Pada saat itu, puasa tidak lagi terasa seperti larangan. Ia berubah menjadi cermin. Cermin yang menunjukkan bahwa selama ini yang mengendalikan hidup bukan akal, bukan iman, tetapi kebiasaan kita yang dibiarkan berkuasa. Nafsu tidak pernah memaksa dengan keras, ia hanya membujuk terus-menerus sampai kita mengira itu bagian dari diri kita.

Karena itu ibadah puasa pasti terasa berat di awal. Lalu ego kehilangan wilayahnya. Segala sesuatu yang biasanya langsung dituruti kini harus menunggu izin kesadaran. Lapar hanyalah tanda dari tubuh, tetapi kegelisahan adalah tanda dari jiwa yang sedang belajar taat. Setiap jam yang berlalu sebenarnya sedang melatih satu hal, bahwa kita sebenarnya bisa saja untuk memilih.

Kita bisa memilih diam meski ingin bicara.

Kita bisa memilih untuk menahan meski mampu mengambil.

Kita bisa saja memilih berhenti meski terbiasa melanjutkan.

Dan ketika matahari terbenam, bukan hanya rasa haus yang hilang. Ada ketenangan yang sulit kita jelaskan, seolah ada sesuatu yang kembali ke tempatnya. Kita mulai merasakan bahwa diri ini tidak sepenuhnya dikuasai keinginan.

Di situlah makna puasa mulai dipahami. Allah tidak membutuhkan lapar kita. Kitalah yang membutuhkan pengalaman mengalahkan diri kita sendiri. Sebab orang yang mampu meninggalkan yang halal karena perintah, perlahan akan mampu meninggalkan yang haram karena kesadaran. Puasa melatih kita setiap hari selama sebulan, agar setelah itu kita tahu dan sadar bahwa tak selamanya dorongan hawa nafsu itu harus dituruti.

Ramadhan adalah bulan pengembalian kendali dan mungkin untuk pertama kalinya, kita akan menjadi manusia yang tidak sekadar hidup mengikuti ritme kebiasaan setiap hari tetapi hidup dengan memilih arah yang ingin kita jalani sendiri. (HM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *